alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Melihat Aktivitas Pembuatan Caping Bambu

Jadi Penghasilan Tambahan, Warisan Keterampilan dari Nenek Moyang

03 Juli 2020, 18: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SEJAK DAHULU: Para IRT ketika menyelesaikan caping di depan rumah. Nantinya akan diambil pembeli langganannya.

SEJAK DAHULU: Para IRT ketika menyelesaikan caping di depan rumah. Nantinya akan diambil pembeli langganannya. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Di rumah saja, mungkin aktivitas seperti itulah yang sering dilakukan sebagian ibu rumah tangga (IRT). Namun bagi mayoritas IRT di wilayah Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, berdiam di rumah bukan hanya rebahan saja. Mereka sibuk menganyam bambu, salah satunya untuk membuat caping. Dari situ, mereka bisa membantu sang suami mencari nafkah.

Cuaca yang terik terasa ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, kemarin (2/7). Namun, hal tersebut tidak menghentikan aktivitas para IRT yang berada di Dusun Manggis, kawasan desa tersebut. Terlihat sedang duduk-duduk di teras rumah, bersama siratan bambu hingga caping bambu setengah jadi di depan mereka. 

Kala itu, mereka begitu asyik merangkai bambu yang dibelah tipis tanpa mengindahkan kondisi sekitar. 

Usut punya usut, ternyata kawasan itu merupakan daerah yang disebut kampung caping. Lantaran mayoritas penduduknya adalah perajin caping. “Sejak kecil saya sudah bisa. Jadi tidak tahu jika ditanya mulai kapan belajar,” ujar Musini, salah satu perajin caping kepada Koran ini.

Awalnya, dia dan beberapa rekan perajin lainnya sempat ingin berhenti menjalani aktivitas membuat kerajinan dari bambu tersebut. Alasannya, pada zaman dahulu penghasilan yang didapat dari menganyam bambu tidak banyak. Sehingga lebih memilih untuk bekerja sebagai pembajak sawah dengan kerbau-kerbau yang dimiliki. “Membuat caping hanya kalau senggang saja. Misalnya malam atau setelah selesai dari sawah membuat. Namun sekarang bisa menjadi pencarian tambahan,“ katanya.

Itu dibuktikan dengan caping produksinya dan perajin lain kini banyak dipesan oleh pedagang dari luar daerah. Kendati belum jadi, banyak pedagang yang mulai memesan. Selain kualitas caping buatannya terjaga dengan baik, harganya juga sangat bersaing. Bahkan relatif murah dari daerah lainnya. Satu buah caping yang sudah siap pakai, dilepas dengan harga antara Rp 6 ribu hingga Rp 10 ribu, tergantung besar dan hiasan cat yang ada.

Kini caping buatan warga setempat sudah menyebar di berbagai penjuru tanah air. Bahkan ada juga yang sampai diekspor. Namun sayang, karena keterbatasan modal, semua aktivitas penjualan tersebut dilakukan oleh pihak ketiga alias ada pembeli yang mengambil dan menjualnya kembali. “Rata-rata dalam satu hari kami bisa membuat dua buah caping. Itu karena dilakukan ketika waktu luang selesainya melakukan kegiatan rutin sebagai IRT,” imbuh wanita 52 tahun ini.

Di tempat yang sama, Ismiatu, salah satu perajin lain menambahkan, sampai kini tidak diketahui pasti kenapa masyarakat desa dan dusun tersebut ahli membuat kerajinan bambu. Sepengetahuannya, para leluhurnya sudah memiliki keahlian mengolah dan tetap lestari hingga kini. Kebanyakan yang menekuni sebagai perajin caping adalah IRT. Sebab, laki-laki desa setempat biasanya lebih memilih bekerja sebagai petani atau tukang batu. 

Untuk bahan dasar bambu yang dipakai kebanyakan perajin sekarang ini jenis bambu wulung. Karena jenis tumbuhan bernama latin Gigantochloa atroviolacea ini memliki tampilan yang bagus sehingga cocok dengan permintaan pasar zaman sekarang. Meskipun untuk bagian-bagian tertentu, para perajin juga membutuhkan jenis bambu petung sebagai variasi atau memperkukuh bentuk. 

Booming-nya kerajinan dari bambu terjadi sejak tahun 1990 hingga sekarang. Sebab pada awal dulu banyak pesanan bahkan permintaan dari luar negeri. Namun sayangnya, permintaan itu dirasa terlalu ribet sehingga banyak kerajinan yang dikembalikan hanya karena beda sekian milimeter dari spesifikasi yang ditentukan. “Dari situ, stok di gudang menumpuk hanya karena ukurannya beda sedikit,” katanya.

Namun, hal tersebut dulunya tak membuat warga menyerah. Bahkan menjadikan motivasi untuk membuat kerajinan lebih baik hingga dikenal seperti saat ini. Namun sayang, kini dirinya dan beberapa perajin lain tidak bisa lagi menggunakan tenaganya secara maksimal karena persoalan usia. Mengingat jika ada order melimpah, tak jarang para perajin harus lembur hingga dini hari. Kini peran mereka hanya sekadar membantu. Selain karena senang dengan aktivitas membuat kerajinan, ada kebanggaan tersendiri jika yang muda juga melanjutkan tradisi atau keahlian membuat kerajinan dari bambu. 

Seperti beberapa waktu lalu, ada puluhan pemuda dari luar daerah yang hendak belajar membuat kerajinan dari bambu. Sayangnya karena itu merupakan program pemerintah, waktunya hanya sebentar sehingga ilmu yang mereka dapatkan dirasa belum cukup. “Kami sangat senang jika ada pemuda yang terjun langsung mempelajari. Tapi kalau hanya sebentar, tidak maksimal,” ungkap wanita 51 tahun ini. (ed/tin) 

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia