alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Kekompakan Dua Bersaudara Menekuni Pirografi

Saling Bantu jika Ada yang Kerepotan Garap Pesanan

03 Juli 2020, 18: 05: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KOMPAK: Ahmad Bukhori (kiri) dan Ahmad Muslim menyelesaikan pesanan pirografi di kediamannya, kemarin (2/7)

KOMPAK: Ahmad Bukhori (kiri) dan Ahmad Muslim menyelesaikan pesanan pirografi di kediamannya, kemarin (2/7) (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Ada banyak cara mengekspresikan kreativitas dengan karya seni. Salah satunya melalui seni pirografi. Dua kakak beradik Ahmad Bukhori  dan Ahmad Muslim ini salah satunya. Bahkan, penjualan dua pemuda asal Desa Pakisaji, Kecamatan Kalidawir, ini telah menembus pasar luar Tulungagung.

Berbagai pajangan berbahan kayu tergantung rapi di kediaman Ahmad Bukhori dan Ahmad Muslim yang berada di Dusun Jigang, Desa Pakisaji, Kecamatan Kalidawir. Di sudut ruangan kakak-adik ini tampak sibuk dengan setiap pigura kayu yang digenggamnya sedari tadi. “Mangga, mari duduk sini. Maaf berantakan,” sambut keduanya bergantian ketika melihat Koran ini menyambangi kediamannya.

Ditanya mengenai kegiatan yang sedang dikerjakan, dua pemuda ini dengan antusias menjelaskan sedang menyelesaikan sebuah pesanan sketsa wajah dengan teknik pirografi. Yakni seni lukis yang menggunakan bahan dasar kayu sebagai medianya dan teknik burn atau bakar untuk melukisnya. Alat yang digunakan pun cukup sederhana, yakni sebuah solder untuk membakar kayu dan kertas karbon untuk membuat sketsa dasar awal.

Bukhori, sapaan akrab Ahmad Bukhori, mengaku tertarik dengan seni pirografi setelah melihat sang adik, Ahmad Muslim yang sudah lebih dahulu menggeluti seni ini. “Adik sudah berkecimpung di pirografi lebih dulu sekitar 2018 lalu. Saya baru mulai sekitar 2019 lalu,” jelasnya.

Meski terlihat mudah, pemuda kelahiran 6 Maret 1992 ini mengaku juga sering mengalami kendala. Terlebih ketika melukis bagian detail wajah. Seperti garis mata, alis, dan rambut. Sebab, ini merupakan bagian krusial dari sebuah sketsa wajah. Selain itu, poin penting dari sebuah sketsa wajah adalah kemiripan dengan aslinya. Semakin detail gambar, tentu akan menyerupai aslinya. “Semakin detail, tentu membutuhkan ketelatenan dan konsentrasi penuh untuk menyelesaikannya,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Kang Mus, sapaan akrab Ahmad Muslim. Pemuda kelahiran 18 Januari 1999 ini mengaku memerlukan mood (suasana hati) yang baik untuk dapat menyelesaikan sebuah karya seni. Untuk satu buah karya berukuran standar berukuran 12R memerlukan waktu setidaknya satu minggu. Bergantung tingkat kerumitan dari masing-masing gambar.

Meskipun sama-sama menekuni lukisan pirografi, bukan berarti keduanya berada dalam satu bendera bisnis yang sama. Keduanya tetap sama-sama bersaing. Kendati demikian, mereka tetap menunjukkan kekompakan mana kala salah satu di antara mereka sedang kerepotan menyelesaikan pesanan. Jika Bukhori banyak pesanan dan butuh bantuan, Muslim dengan ringan tangan akan membantu. Begitu pun sebaliknya.

Disinggung mengenai dampak adanya wabah coronavirus disease (Covid-19), dengan cepat keduanya mengaku jika hal tersebut berdampak pada bisnis pirografi yang ditekuninya. Bagaimana tidak, rata-rata hasil karyanya digunakan untuk hadiah ketika wisuda maupun ulang tahun. Kini dengan adanya wabah Covid-19, hampir seluruh lembaga sekolah maupun perguruan tinggi tidak menyelenggarakan wisuda secara meriah. “Turun drastis. Bisa sampai 85 persen untuk saat ini. Biasanya paling ramai saat musim wisuda dan kelulusan sekolah,” imbuhnya.

Meski demikian, keduanya bersyukur masih dapat memanfaatkan media sosial untuk menjalankan bisnisnya. Sehingga orderan dari berbagai daerah tetap dapat diterimanya. “Untungnya masih bisa memanfaatkan media sosial. Jadi walaupun pandemic, tetap dilakukan secara online. Pemesanan juga online nanti kami kirim,” tandasnya. (ed/rka)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia