alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

Sri Handayani, Ibu Rumah Tangga yang Tekuni Eco Print

04 Juli 2020, 11: 03: 48 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BAHAN ALAMI: Sri Handayani menunjukkan kain teknik eco print buatannya.

BAHAN ALAMI: Sri Handayani menunjukkan kain teknik eco print buatannya. (SITI NURUL LAILIL/RATU)

SEMAKIN banyak perajin kain yang menekuni teknik eco print. Selain ramah lingkungan dan corak unik, harga jual kain teknik eco print ini juga relatif tinggi. Tak heran, Sri Handayani, warga Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, ini tertarik dan menjadi salah satu perajin kain asal Tulungagung yang serius menekuni teknik eco print ini. 

Cuaca kemarin terpantau cerah. Tidak terlihat tanda akan turun hujan. Bahkan, langit didominasi awan putih dan biru. Tak mustahil, siapa pun akan betah beraktivitas.

Seperti yang terlihat di salah satu rumah di Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru. Tampak seorang wanita berjilbab sibuk dengan sejumlah potongan kain putih. Kain-kain tersebut kemudian direndam dengan air yang dicampur tawas. Selanjutnya, wanita yang diketahui bernama Sri Handayani itu duduk di ruang tengah sembari memilah dedaunan yang baru saja dia petik dari kebun. Daun ini dia pilih yang masih segar dan utuh. Sebab, daun berperan penting untuk mendapatkan corak dari teknik eco print yang ditekuninya. "Daun-daun ini hasil buruan tadi pagi di kebun, taman kota, dan lainnya," katanya memulai obrolan dengan Koran ini.

Han, sapaan akrabnya, mengaku kesehariannya banyak dihabiskan dengan sejumlah potongan kain dan dedaunan. Selain menggarap pesanan, waktu luangnya juga sering dimanfaatkan untuk membuat eksperimen warna dan corak dari warna alami yang didapat dari berbagai kulit pohon, daun, atau bunga yang ditemui di sekitar lingkungannya. "Suka saja. Apalagi hasilnya dapat corak dan warna baru," terang ibu dua anak ini.

Han bercerita mulai mengenal teknik eco print ini dari media online dan YouTube pada 2015 lalu. Kemudian, timbul ketertarikan hingga memutuskan ikut workshop online (WSO). Berbagai informasi dan ilmu dia dapat. Bahkan, dari WSO itu, dia bertemu dengan teman komunitas eco print seluruh Indonesia.

"Saya diikutkan grup komunitas. Meski belum praktik, saya terus belajar agar hasil karya semakin berkualitas. Tukar ilmu dan pengalaman dengan sesama eco printer," terangnya.

Han mengaku memutuskan praktik membuat eco print baru pertengahan Januari lalu. Itu setelah dia mendapatkan bahan-bahan sebagai mordan atau pengikat zat warna dalam teknik eco print ini. Awalnya belum maksimal. Setelah beberapa kali bereksperimen, dia mengaku mendapat formula yang pas. Dari sinilah, akhirnya memutuskan menyeriusinya. Karena hasil teknik eco print yang dia tekuni mendapat hasil memuaskan dan bernilai seni. "Kalau bereksperimen biasanya pakai kain kecil dulu. Nah kalau pas formulanya, baru praktik di kain potongan dua meter ini," tambahnya.

Han menjelaskan, proses kain pewarnaan teknik eco print ini membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Prosesnya diawali dengan mencuci lebih dulu kain dengan tro atau biangnya deterjen. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan kain atau mordanting. Sebelum di pencetakan corak daun, kain direndam terlebih dulu dengan menggunakan air campuran tawas selama sehari. Cara ini dilakukan untuk mempertahankan warna dasar kain dan membuka pori-pori kain agar gambar dapat tercetak. Kemudian dilanjutkan pengeringan dengan hanya diangin-anginkan. "Kainnya direndam. Kalau saya, cukup sehari perendamannya," katanya.

Selanjutnya dilakukan proses pencetakan. Kain dibagi menjadi dua sisi simetris, satu sisi menjadi alas, dan sisi yang lain berfungsi seperti kaca. Objek yang akan dicetak pada kain sesuai selera. Han biasa menggunakan daun jati, jarak kepyar, jaran, randu, waru, rayutan, eucalyptus (kering) yang didapat di Pagerwojo, kalpataru, tabebuya, genitri (kering), ketepeng (kering), pakis, kates, dan masih banyak lainnya. Kemudian, daun ditata sedemikian rupa di satu sisi kain dan sisi yang lain dijadikan penutup yang dialasi plastik. Butuh seni dalam penataan ini.

"Kalau saya minimal 11 daun ya. Tapi sebenarnya sesuai selera. Apalagi semua daun bisa digunakan asal tekniknya tepat," tegas pemilik label Handayani Sri Eco Print ini.

Kemudian, kain tersebut digulung sembari mempertahankan posisi daun agar tidak bergeser. Kain yang sudah terlipat diikat kencang dengan tali. "Kemudian tahap selanjutnya, pengukusan agar warna daun keluar. Lipatan kain tersebut dikukus selama tiga jam pada suhu 100 derajat Celcius," terangnya

Setelah proses pengukusan tersebut, akan tampak hasil cetakan daun di kain. Kemudian, kain dibersihkan dari sisa daun yang menempel. Selanjutnya dijemur, tapi tidak di bawah terik matahari. Tahap terakhir, fiksasi yang dilakukan tujuh hari setelah kain kering. Proses fiksasi dilakukan dengan merendam kain yang sudah dibatik dengan air campuran tawas. Proses ini berguna untuk mengikat motif dan warna yang sudah tercetak di atas kain. Setelah satu jam perendaman, kain bisa kembali dijemur dan bisa diolah untuk produk fashion.

"Banyak yang suka dengan kain teknik ini. Karena coraknya tiap kain berbeda-beda, ramah lingkungan, dan bahan yang digunakan pun alami," tambahnya.

Untuk pemasarannya masih sebatas kalangan teman, sahabat, dan saudara. Itu pun dengan sistem getok tular. Namun, dia juga mengunggahnya di media sosial (medsos) seperti Facebook sehingga pemasaran pun diharapkan lebih meluas. "Kalau luar kota, pemasarannya hingga Sampang, Sleman, Jogja, Bandung, dan lainnya," katanya.

Untuk harga dibanderol mulai Rp 75 ribu sampai Rp 200 ribu per meter dari bahan katun. Harga ini tergantung tehnik pembuatan dan jenis kain yang digunakan.

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia