alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Rusunawa IAIN Tulungagung Mulai Lengang, Tinggal Seorang

05 Juli 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

TERSISA SATU: Satu pasien perempuan tampak di depan pintu masuk rusunawa isolasi IAIN Tulungagung, yang masih menunggu hasil tes swab.

TERSISA SATU: Satu pasien perempuan tampak di depan pintu masuk rusunawa isolasi IAIN Tulungagung, yang masih menunggu hasil tes swab. (Muhammad Hamam Defa Setiawan)

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Kamar-kamar isolasi di rusunawa IAIN Tulungagung mulai ditinggal penghuninya. Hingga kemarin (4/7), tinggal ada dua orang yang masih diisolasi. Hal ini karena jumlah kesembuhan kasus Covid-19 di Tulungagung semakin tinggi, yakni mencapai 96 persen. Meski demikian, masyarakat harus tetap menjalankan protokol kesehatan agar jumlah kasus tidak terjadi lonjakan kembali.

Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial Tagana (LDP) Tulungagung Imam Syafi’i mengatakan, seminggu terakhir ini jumlah penghuni isolasi di kawasan rusunawa berangsur-angsur berkurang. Kini hanya tersisa satu orang yang menjalani isolasi. Itu pun mereka masuk dari hasil rapid test reaktif. “Tinggal satu orang, yakni perempuan,” tuturnya.

Selama ini, berdasarkan data, sejak adanya alat tes di Tulungagung, isolasi penghuni rata-rata hanya memakan waktu tujuh hari. Pasalnya, sebelum adanya alat tes sendiri di Tulungagung, penghuni bisa menjalani isolasi selama berbulan-bulan. Seperti yang dialami Sri Handayani yang menjalani isolasi selama 67 hari dan Muhammad Afif selama 58 hari. “Kini dalam menjalani isolasi hanya butuh waktu sebentar, semenjak Tulungagung memiliki alat tes sendiri. Bahkan, ada penghuni yang hanya menjalani isolasi selama 3-4 hari saja,” jelas Imam.

Pria ramah itu menambahkan, meski jumlah penghuni sedikit, untuk pelayanan tidak ada bedanya dengan sebelumnya. Mulai dari logistik hingga pendampingan psikologi, tetap dilakukan oleh pihaknya. Bahkan, pendampingan semakin intens dilakukan tim LDP Tagana Tulungagung. “Pelayanan kami tetap. Bahkan semakin intens,” tambahnya.

Sementara itu, Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Tulungagung dr Kasil Rochmad menjelaskan, penghuni isolasi di kawasan rusunawa tersebut adalah pasien orang tanpa gejala (OTG) yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kebanyakan dari penghuni isolasi di kawasan rusunawa sudah dinyatakan sembuh. “Dalam hari-hari ini tidak ada penambahan jumlah kasus. Maka dari itu, rusunawa mulai tampak lengang,” jelasnya.

Memang sebelumnya di Tulungagung terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 yang signifikan. Namun setelah tim melakukan tracing dan screening, pihaknya hanya menemukan satu atau dua orang saja. Kini grafik kasus Covid-19 di Tulungagung sudah landai, yakni mencapai 96 persen tingkat kesembuhan. Hal ini sesuai dengan prediksi, pada akhir Juli jumlah kasus Covid-19 sudah berkurang dan habis. “Karena tidak ada penambahan kasus baru dan yang sembuh semakin banyak, maka garfik menjadi landai. Ya, itu harapan kita bersama,” papar Kasil.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung itu melanjutkan, sedikitnya jumlah kasus Covid-19 ini disebabkan Tulungagung sudah memiliki alat tes sendiri. Dengan demikian, hasilnya akan cepat keluar dan tidak perlu menunggu lama lagi. Seperti pihaknya melakukan swab follow up terhadap orang terkonfirmasi positif akan diulang satu minggu kemudian. Jika sudah ketemu hasil negatif, besoknya langsung bisa dilakukan swab ulang untuk memastikan agar tidak terjadi false negatif. “Maka dari itu, banyak yang sudah bisa kembali ke rumah karena sudah dinyatakan sembuh,” ujarnya.

Di WHO, bagi OTG, syarat mengeluarkan dari isolasi adalah menunggu waktu 10 hari isolasi setelah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Tanpa menunggu hasil negatif, sudah bisa dilakukan rilis kesembuhan. Metode seperti itu hanya diberlakukan di wilayah yang kesulitan melakukan tes secara mandiri. Tapi di Tulungagung, karena memiliki alat tes sendiri, pihaknya memadukan dengan WHO. “Kalau di Tulungagung masih harus dipastikan hingga hasil swab negatif, demi keamanan. Tapi untuk PDP, masih diberlakukan dua kali swab untuk dinyatakan sembuh,” papar Kasil.

Pria ramah itu menambahkan, agar jumlah kasus Covid-19 di Tulungagung tidak naik kembali, masyarakatlah kuncinya. Jika masyarakat tetap tidak mengindahkan protokol kesehatan, bisa jadi akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 kembali. Karena virus itu tetap selalu ada di antara kita, maka dari itu patuhilah protokol kesehatan. “Penting sekali menerapkan protokol kesehatan agar jumlah kasus tidak melonjak kembali,” tambahnya.

Kasil memastikan, tim GTPP Covid-19 Kabupaten Tulungagung akan tetap tracing dan screening untuk memastikan tidak ada penularan kembali. Karena jumlah kasus positifnya sudah berkurang dan tracing adalah memastikan orang yang kontak langsung tidak terpapar Covid-19, maka tracing sudah mulai sedikit. “Tapi untuk screening masih tetap kami lakukan,” katanya. (*)

(rt/dre/dre/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia