alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Usaha SMPN 2 Tanggunggunung Mencari Siswa

Perbanyak Ekstrakurikuler, Bina Hubungan dengan Masyarakat

05 Juli 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

JALIN IKATAN: Tampak guru dan pegawai SMPN 2 Tanggunggunung sedang melakukan yasinan rutin bersama masyarakat sekitar.

JALIN IKATAN: Tampak guru dan pegawai SMPN 2 Tanggunggunung sedang melakukan yasinan rutin bersama masyarakat sekitar. (SMPN 2 Tanggunggunung For Ratu)

Berbagai usaha terus dilakukan oleh guru dan petugas di SMPN 2 Tanggunggunung untuk menarik minat siswa. Dalam tiga tahun terakhir ini, jumlah siswa kian sedikit. Meski demikian, bukan menjadi alasan guru untuk kehilangan semangatnya. Justru sebaliknya, guru semakin semangat genjot kualitas siswanya.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Tanggunggunung, Radar Tulungagung

Di balik bukit-bukit yang menjulang tinggi, terlihat sebuah bangunan sekolah. Di depan pintu masuk sekolah tampak pohon-pohon melambaikan daunnya, seakan memberi ucapan selamat datang. Meski matahari tepat di atas kepala, dinginnya udara tak membuat panas sinar matahari dapat menyentuh kulit. Dari SMPN 2 Tanggunggunang lah anak-anak desa mendapatkan pendidikan untuk menunjang masa depannya.

Kepala SMPN 2 Tanggunggunung, Teguh, MPd mengatakan, di sekolah ini terdapat 11 guru, dengan rincian tujuh guru PNS dan empat guru tidak tetap (GTT). Tak ada kata lelah dan tidak semangat bagi mereka saat mengajar siswa. Meski, jumlah siswa tak seperti diharapkan. “Ya, kami akan mengajar murid-murid kami dengan sebaik-baiknya meski jumlahnya sedikit,” ujar Teguh.

Sejak berdirinya sekolah ini pada 1999 silam, jumlah siswa memang fluktuatif. Namun di balik itu semua, ada keringat yang menetes memperjuangkan agar pembelajaran di SMPN 2 Tanggunggunung tetap berjalan. Guru-guru pun bergerak dari SD/MI satu ke sekolah lainnya untuk menyosialisasikan SMPN 2 Tanggunggunung. Jalan terjal pun sering dilewati, tapi itu bukanlah sebuah hambatan bagi guru dan petugas di sekolah.  “Kami tak henti-hentinya melakukan berbagai usaha untuk menarik minat siswa bersekolah di sini. Mulai dari memperbanyak ekstrakurikuler seperti sepak bola, voli, tari tradisional, marawis, dan reog kendang,” ujar Teguh saat ditemui di sekolah.

Dia mengungkapkan, selain sosialisasi, hal yang paling penting adalah membangun kepercayaan orang tua siswa agar menyekolahkan anaknya ke SMPN 2 Tanggunggunung. Bahkan, pihaknya juga melakukan kegiatan bersama masyarakat sekitar seperti yasinan, kerja bakti, dan sebagainya. “Bagi kami, hubungan emosional antara sekolah dan masyarakat harus terjalin dengan baik,” jelasnya.

Selain itu, dalam proses pembelajaran, tidak ada batasan yang ketat antara guru dan siswa. Itu semua agar siswa menganggap guru seperti bagian dari keluarganya. Maka sangat jarang sekali ada anak nakal di SMPN 2 Tanggunggunung. Bahkan, untuk bolos pun siswa tidak ada catatan di guru BK. Maka dari itu, guru akan malu jika tidak semangat mengajar. Melihat siswa yang sedikit, tapi memiliki semangat belajar yang tinggi. Kini guru di SMPN 2 Tanggunggunung bertempat tinggal di bawah (lain desa, Red). “Kami saja mau izin malu dengan siswa. Karena tidak ada satu pun siswa yang selama ini bolos sekolah,” papar Teguh.

Pria ramah itu menambahkan, tahun ini jumah siswa hanya ada 29 orang, sedangkan 2019 ada 34 siswa dan 2018 ada 56 siswa. Hal itu bukan karena guru tidak ada usaha. Melainkan persaingan sekolah dan minimnya jumlah lulusan siswa di SD/MI yang berada di wilayah zonasi. “Di wilayah zonasi kami ada lima SD/MI dari empat desa. Kebanyakan muridnya sedikit, akhirnya lulusannya juga sedikit,” tambahnya.

Tidak hanya itu, di masyarakat masih ada stereotip sekolah favorit. Teguh menceritakan, seperti ada anak yang tinggal di dekat sekolah ini, orang tuanya lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit yang berada di bawah. “Jadi karena rasa gengsi, maka anaknya di sekolahkan ke sekolah ternama yang berada di bawah,” kata Teguh.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Teguh mengatakan, sedikitnya jumlah siswa tentu berdampak pada dana BOS yang diterima. Dan sedikitnya jumlah dana BOS yang diterima juga memengaruhi honor GTT karena kebijakannya GTT bisa mendapatkan honor dari BOS. “Karena bagi kami, banyak sedikitnya siswa tidak mempengaruhi semangat kami. Setidaknya kami akan konsen pada siswa kami secara kualitas,” katanya.  (*)

(rt/dre/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia