alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Duta Rumah Belajar Nasional Asal Trenggalek

Buat Aplikasi Belajar Online, Aktif Beri Pelatihan

06 Juli 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

BISA SECARA OFFLINE: Rachmad ketika melakukan pelatihan pembelajaran berbasis daring sesuai SE Mendikbud.

BISA SECARA OFFLINE: Rachmad ketika melakukan pelatihan pembelajaran berbasis daring sesuai SE Mendikbud. (RACHMAD FOR RADAR TRENGGALEK)

Belajar dalam jaringan (daring) atau online banyak dilakukan lembaga pendidikan selama pandemi korona seperti kini. Itulah yang membuat Rachmad Effendi aktif memberi pembelajaran terkait cara penerapan yang tepat kepada para guru. Tujuannya, mempermudah guru dan siswa berinteraksi sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung dengan baik

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

Physical distancing, istilah itulah yang sering digaung-gaungkan pemerintah demi mencegah penyebaran virus korona. Hal itu membuat lembaga pendidikan harus menghentikan KBM dengan tatap muka dan diganti dengan sistem pembelajaran lewat daring. Para guru harus memiliki cara yang tepat untuk melakukannya, mengingat kondisi di Trenggalek yang beberapa daerahnya pegunungan, jaringan sulit terjangkau. Hal ini disadari betul oleh Rachmad Effendi, satu-satunya duta rumah belajar nasional yang ada di Trenggalek.

Ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya yang berada di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, terlihat Rachmad sedang duduk di teras. Saat itu dirinya tengah asyik mengoperasikan laptop miliknya. Dirinya begitu cermat mengamati layar laptop tersebut. Ternyata saat itu dirinya tengah mengamati aplikasi pembelajaran online yang dibuatnya sendiri. Nantinya aplikasi tersebut akan dikirim ke para guru lain untuk proses pembelajaran secara daring.

Nantinya isi yang ada dalam aplikasi tersebut diubah berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat setiap guru. "Ada wacana dari menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) yang akan meneruskan sistem pembelajaran secara daring. Sehingga aplikasi yang dibuat ini saya siapkan untuk proses pembelajaran tahun ajaran baru ini (2020-2021, Red)," ungkap Rachmad kepada Koran ini.

Sebenarnya pembuatan aplikasi untuk pembelajaran daring tersebut telah dilakukannya sejak awal 2020 lalu, sebelum pandemi korona. Itu lantaran ada Surat Edaran (SE) Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang Penyederhanaan RPP. Sehingga RPP yang biasanya disusun sebanyak 50 lembar lebih disederhanakan menjadi satu halaman. Kendati demikian, RPP tersebut harus menyertakan tiga komponen utama; yaitu tujuan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. "Makanya  sejak awal tahun ini saya telah menyelesaikan aplikasi pembelajaran daring dan memberikan pelatihan kepada guru-guri ke sejumlah daerah," katanya.

Perampingan dalam SE tersebut harus jelas, yaitu ada link RPP, video pembelajaran, dan kelas virtual. Sehingga diperlukan pelatihan atau sharing ilmu dalam penerapan penyederhanaan RPP tersebut. Apalagi yang menjadi perhatian adalah kelas virtual karena melibatkan siswa yang harus masuk di dalamnya. Dari situlah diperlukan sebuah aplikasi untuk memasukkan siswa tersebut yang dinamakan kelas maya.

Dalam aplikasi tersebut, terdapat komponen pembelajaran yang dilakukan dalam satu semester sesuai RPP yang dibuat. Selain itu, juga harus ada presensi dan kuis atau tugas yang harus dikerjakan siswa. Sehingga setelah membaca komponen atau materi pembelajaran setiap tiap bab dalam satu semester, siswa harus mengisi daftar presensi yang terdapat pemahaman singkat tentang materi yang dibaca, mengunggah foto selfie siswa, hingga tanda tangan secara virtual. Para peserta didik tidak bisa mengelabui gurunya yang hanya mengisi daftar presensi saja.

Selain itu, aplikasi tersebut juga bisa dibuka melalui handphone berbasis android yang digunakan dalam bentuk offline. Tujuannya, mengantisipasi siswa yang rumahnya sulit terjangkau jaringan. Sehingga laporan tersebut akan disimpan dan bisa dikirim jika jaringan sudah ada. "Makanya pada pembelajaran daring selama pandemi korona ini, saya selalu memberi masukan ke siswa yang rumahnya di daerah yang sulit dijangkau jaringan. Agar setidaknya seminggu sekali pergi ke daerah yang jaringannya bagus untuk mengirim laporan," jelas pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru di SMKN 2 Trenggalek ini.

Tak ayal, dengan kondisi pembelajaran daring yang sangat diperlukan, dirinya selalu diminta untuk memberi pelatihan ke berbagai lembaga pendidikan. Bahkan hingga ke luar pulau seperti di Sulawesi. Namun karena kondisi saat ini, dirinya tidak asal menerima permintaan tersebut dengan datang langsung. Hanya lembaga di daerah tetangga seperti Tulungagung dan Madiun yang dihadiri secara langsung. Sedangkan untuk daerah lain, sementara ini dilakukan secara virtual. "Itu saya lakukan sebagai bentuk antisipasi. Kendati demikian, kelas multimedia interaktif yang dilakukan tetap berjalan dengan baik," tuturnya. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia