alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Para MC Kehilangan Job karena Pandemi Korona

Jual Ikan Hias agar Kendil Tak Nggoling

07 Juli 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TAK BERPANGKU TANGAN: Jalal mengisi sebuah acara pernikahan sebelum pandemi Covid-19 melanda.

TAK BERPANGKU TANGAN: Jalal mengisi sebuah acara pernikahan sebelum pandemi Covid-19 melanda. (DOK PRIBADI FOR RATU)

Adanya pandemi Covid-19 membuat para pembawa acara kelimpungan. Tak terkecuali Jalaludin, master of ceremony (MC) Jawa asal Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu. Tidak adanya pemasukan membuatnya terpaksa beralih profesi sementara menjadi pembudi daya ikan hias.

DHARAKA R. PERDANA, Boyolangu, Radar Tulungagung

Mendung kelabu yang beberapa hari belakangan menutupi langit Kota Marmer bisa dikatakan mewakili apa yang dirasakan Jalaludin. Bagaimana tidak, pria yang dikenal sebagai salah satu MC Jawa yang cukup diperhitungkan ini kehilangan banyak pemasukan gara-gara pandemi korona. Padahal, seharusnya saat ini dia mendapat banyak job untuk mengisi acara pernikahan.

Kepada Koran ini, pria berdomisili di Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, ini menumpahkan segala unek-uneknya mengenai kondisi yang dialami para MC. Alasannya pun cukup jelas, pandemi korona membuat semua rencana job sirna. Padahal, dia cukup menggantungkan pendapatan dari sini. “Tidak ada pekerjaan lain, ini satu-satunya keahlian saya,” katanya.

Jalal, sapaan akrabnya mengakui, itu pun dirasakan semua rekan-rekannya yang selama ini menggantungkan rezeki dari hajatan. Tidak hanya MC, tetapi juga persewaan kostum, terop, dan sebagainya. “Semua pekerja sor terop mengalami hal yang sama. Banyak di antara mereka bekerja serabutan, yang penting ada hasil,” tambahnya.

Untuk kerugian, bisa dipastikan tidak sedikit. Dari gambaran pria bercambang ini, paling tidak kerugian bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per bulan. Apalagi, dia pribadi harus membatalkan tidak kurang 22 acara yang seharusnya memanfaatkan jasanya.

Pria 43 tahun ini tak menampik, adanya pandemi ini tidak serta merta membuat dirinya berdiam diri. Bayangan keluarganya yang selalu membutuhkan nafkah, terus tergambar di pelupuk matanya. Alhasil, dia memilih melakukan pekerjaan apa pun asalkan menghasilkan dan halal. Sehingga dapur keluarga tetap ngebul dan dia berusaha agar kendil tidak nggoling. “Saya sendiri sementara waktu berjualan ikan hias. Nek ra ubet ra ngliwet (jika tidak bekerja, tidak ada nafkah),” tuturnya sambil tersenyum kecut.

Ayah dua putra ini mengungkapkan, keluh kesah dari para pekerja sor terop sebenarnya sudah diungkapkan kepada pemerintah daerah. Dari kabar terakhir yang didapatkannya, semua sudah 90 persen untuk penerbitan aturan mengenai tata cara menggelar hajatan di tengah pandemi. “Kami sendiri sangat berharap aturan itu segera terbit. Makanya kini kami terus bertukar informasi dengan semua teman. Bahkan juga teman-teman di Trenggalek yang beberapa hari yang lalu sudah menggelar simulasi,” tandasnya. (*)

(rt/rak/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia