alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tak Kapok, Edarkan Sabu Lagi

Asimilasi Sebulan Napi Rutan Trenggalek

07 Juli 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TAK BERKUTIK: Seorang residivis yang mendapat asimilasi di rumah, tapi kembali berurusan dengan hukum atas dugaan kasus pengedaran narkotika.

TAK BERKUTIK: Seorang residivis yang mendapat asimilasi di rumah, tapi kembali berurusan dengan hukum atas dugaan kasus pengedaran narkotika. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Baru sebulan menjalani asimilasi di rumah, ARP, 22, warga Trenggalek kembali masuk bui. Pemuda yang sebelumnya mendekam di rutan karena kepemilikan pil koplo ini kembali diciduk polisi setelah diduga mengedarkan sabu.

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring mengungkapkan, kasus itu terungkap setelah menindaklanjuti informasi dari masyarakat. Alhasil, Satreskoba Polres Trenggalek menangkap ARP, 22, Sabtu lalu (4/7) sekitar pukul 21.00 di halaman parkir Hotel Widowati, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.

Tersangka yang sering dipanggil Gantul ditangkap karena diduga sedang bertransaksi sabu. “Tersangka adalah residivis atas kepemilikan pil koplo. Dia juga sempat mendapat program asimilasi selama sebulan,” ungkapnya.

Menurut Doni, ketika petugas menangkapnya, Gantul memakai sistem ranjau. Yakni dengan menaruh narkotika jenis sabu di suatu tempat, kemudian pihak lainnya mengambil barang tersebut. Dari tangan tersangka, lanjut dia, petugas mengamankan narkotika jenis sabu saat penggeledahan. Adapun BB lainnya, yakni satu buah handphone (HP) dan bukti transaksi. “Ada keuntungan di balik aksi tersebut,” kata dia.

Kasus itu pun masih dalam pengembangan lebih lanjut. Sebab, kata Doni, tersangka mengaku mendapat sabu-sabu itu dari J. Namun untuk J, masih dalam pencarian orang (DPO). “Diduga tersangka ini membeli sabu dari DPO J,” tandasnya.   

Sementara itu, tersangka ARP alias Gantul mengaku dua kali bertransaksi narkotika jenis sabu. Dia mengaku tidak memiliki pekerjaan lain sehingga kembali ke lingkaran setan. “Sehabis transaksi itu dapat uang,” pengakuannya.

 Namun, proses hukum tetap berjalan. Doni mengungkapkan bahwa tersangka melanggar pasal 114 ayat (1) subsider 112 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Dengan ancaman pidana minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun,” pungkasnya. (*)

(rt/pur/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia