alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Sigit Prasetyo, Geluti Ukiran dari Akar Pohon

Miliki Waktu Longgar Cari Dongklak, Pesanan Sepi Dituntut Kreatif

07 Juli 2020, 19: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

PRODUKTIF: Sigit Prasetyo memanfaatkan waktu longgar untuk mengerjakan ukiran berbahan akar kayu.

PRODUKTIF: Sigit Prasetyo memanfaatkan waktu longgar untuk mengerjakan ukiran berbahan akar kayu. (AGUS MUHAIMIN/RADAR BLITAR)

Dongklak atau akar sisa potongan pohon tidak lagi menjadi limbah perkebunan. Di tangan para perajin, benda tak beraturan ini bisa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Tiga tahun terakhir, Sigit Prasetyo, warga Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, ini menekuni aktivitas tersebut.

AGUS MUHAIMIN, Kanigoro, Radar Blitar

Sigit Prasetyo beberapa kali mengusap peluh di kening. Di hadapannya terdapat papan kayu wadang sudah terukir kasar. Perlahan, Sigit menggosokkan ampelas pada papan berukir huruf Arab tersebut. Tujuannya finishing, menghaluskan ukiran yang sudah beberapa hari dikerjakannya. "Tak pikir ini sama dengan jenis kayu wadang lain. Ternyata wadang putih memiliki serat ulet sehingga sulit mendapatkan tampilan halus," katanya.

Sigit memiliki keahlian mengukir. Sayangnya, jam terbang bapak satu anak ini belum tinggi. Dia baru tiga tahun ini kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun mengadu nasib di Kalimantan. Di pulau tersebut, Sigit juga memiliki aktivitas tak jauh beda, dunia kayu dan pertukangan. Karena merasa terlalu lama merantau, lantas memutuskan pulang dan berkarya di kampung halaman.

Di Bumi Penataran, Sigit butuh adaptasi dengan lingkungan. Terutama soal seni ukir. Sebagai pendatang baru, dia sadar diri. Ada banyak tukang atau seniman ukir andal di kampung halaman. Sehingga karyanya belum begitu diketahui.

Meski begitu, tiap hari dia memainkan pahat dan palu, meladeni permintaan orang yang tertarik dengan karya ukir buatannya. "Sebenarnya sudah mulai banyak pesanan, eh tiba-tiba ada korona," katanya.

Dia terakhir mendapatkan pesanan saat Ramadan lalu. Hingga kini belum ada permintaan lagi. Sigit tak patah arang. Saat ada waktu longgar, dia keliling mencari bahan. Terkadang barang terpendam tersebut harus diganti dengan uang, tapi tak jarang pula sebaliknya. Pemilik lahan berterima kasih karena memudahkan mereka untuk mengolah lahan pertanian. "Boleh diambil saja sudah senang. Jadi kalau harus keluar biaya, tidak apa-apa asal wajar saja," katanya.

Sejauh ini Sigit masih menggunakan cara konvensional untuk mengambil dongklak yang ada di dalam tanah ini. Dengan cangkul dan linggis, sedikitnya dibutuhkan waktu seminggu untuk mengeluarkan sisa potongan pohon ini. Bisa lebih lama, tergantung ukuran pohon.

Setelah dibawa pulang, akar tersebut tidak langsung digarap. Sigit butuh waktu untuk mereka-reka bahan. "Ini yang kadang makan waktu. Kalau sudah ketemu ide, baru dikerjakan," terangnya.

Rata-rata butuh waktu seminggu untuk mengerjakan produk dari akar kayu. Dengan catatan, Sigit hanya fokus mengerjakan satu kegiatan ini. Namun jika ada kepentingan lain, waktu penyelesaiannya menjadi lebih lama.

Misalnya saat pandemi korona. Minimnya permintaan produk menuntutnya kreatif. Dia tidak boleh hanya menggantungkan keuangan dari aktivitas membuat produk dari akar kayu karena pasar sepi. Pertukangan dan beberapa kegiatan lain pun dia sanggupi. Sambil menunggu kondisi pasar membaik atau ada permintaan pesanan. "Kadang ada yang bawa bahan sendiri dari rumah," tuturnya.

Untuk yang demikian, Sigit tidak begitu pusing menentukan nilai jasa. Meski juga membutuhkan ide, Sigit hanya mematok harga standar jasa tukang ukir. Berbeda jika bahan dari hasil keringatnya menggali sendiri.

Menurut dia, selain butuh waktu dan tenaga, kadang produk tersebut harus dibeli. Di sisi lain, butuh waktu lama untuk mendapatkan ide dan mengerjakan. Jika dikalkulasi, ada harga tertentu yang menjadi standar nilai produk. Sayangnya, karakter pasar yang belum bisa menerima kondisi tersebut. Sehingga Sigit harus sering evaluasi atau tukar pengalaman dengan perajin-perajin kayu lebih senior. "Kalau tak jual murah gak enak sama rekan-rekan perajin. Dijual mahal malah gak laku. Jadi serba pakewuh ya. Sebenarnya jual-beli itu kan terserah pedagangnya," katanya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia