alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

Tangani Korona, Usul Bikin Safe House

07 Juli 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

Tangani Korona, Usul Bikin Safe House

KEPANJENKIDUL, Radar Blitar - RSUD Mardi Waluyo mengusulkan dibentuknya safe house atau rumah aman. Safe house itu diperuntukkan pasien Covid-19 yang sedang dalam masa pemulihan.

Safe house tersebut juga sebagai upaya mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien terkonfirmasi maupun terduga korona. Selama ini, RS pelat merah tersebut menjadi RS rujukan untuk penanganan pasien Covid-19. Tidak dimungkiri, pasien bukan hanya berasal dari warga Kota Blitar saja, bisa juga dari luar kota.

Direktur RSUD Mardi Waluyo, dr Ramiadji, SpB mengatakan, usulan dibentuknya safe tersebut sebagai antisipasi jika terjadi lonjakan pasien korona di rumah sakit dan kapasitas kamar untuk penanganan Covid-19 sudah habis. "Jika kapasitas kami masih aman, mungkin tidak masalah. Tapi jika sudah membeludak, itu yang harus segera diantisipasi," ujarnya.

Dia melanjutkan, safe house tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk penanganan pasien-pasien terindikasi maupun terduga korona yang sudah mulai membaik kondisinya. Di tempat itu bisa dijadikan tempat masa pemulihan. "Jadi pasien yang ditempatkan di safe house masih tetap kami pantau bersama petugas kesehatan lainnya," jelas dokter spesialis bedah ini.

Kini, kapasitas kamar untuk penanganan pasien Covid-19 masih mencukupi. Belum sampai ada pembeludakan pasien. RS telah menyiapkan sekitar 40 kamar bagi pasien korona.

Sesuai rencana, safe house tersebut memanfaatkan rumah karantina yang juga asrama TNI milik Yonif 511 di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan. Dengan adanya safe house itu, Ramiadji berharap penanganan pasien Covid-19 di rumah bisa lebih efektif. "Kami akan koordinasi dulu dengan gugus tugas," ujarnya.

Terpisah, Wali Kota Blitar Santoso memintakan agar usulan safe house disiapkan secara matang. RS bisa merumuskan pembentukan safe house itu bersama dinkes. "Sebab, menurut dinkes, membentuk safe house itu sulit dan rumit. Prosesnya panjang. Jangan sampai malah jadi klaster penularan baru," katanya.

Keberadaan safe house nanti juga harus dilengkapi dengan fasilitas pendukung. Sebab, pasien yang akan ditempatkan di sana dalam masa pemulihan. "Tetap butuh pemantauan yang ketat," ujarnya.

Maka dari itu, safe house harus benar-benar dirumuskan secara matang. Jika memang dibutuhkan dan mendesak, pemkot siap membantu demi memaksimalkan penanganan korona di Kota Blitar. (*)

(rt/kan/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia