alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Lebih Dekat Dengan Sang Kolektor Vespa Antik

Tertarik karena Nilai Historis, Beli Aksesori dari Luar Negeri

09 Juli 2020, 18: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

Lebih Dekat Dengan Ito Tubagus Aditya, Kolektor Vespa Antik

Lebih Dekat Dengan Ito Tubagus Aditya, Kolektor Vespa Antik (ADITYA YUDA SETYA PUTRA/RADAR BLITAR)

Sudah jadi rahasia umum jika hobi mengoleksi otomotif perlu kantong tebal dan waktu luang. Terlebih jika jumlah koleksinya terbilang banyak. Harus pandai mengatur waktu agar hobi dan pekerjaan utama tetap dapat berjalan beriringan. Ito Tubagus Aditya pun berbagi kisahnya.

WAKTU  menunjukkan tepat pukul 12.00 kemarin (8/7). Cuaca sangat panas siang itu. Rasanya entah matahari terasa seperti sedang tepat di atas garis khatulistiwa saking begitu panasnya. Alih-alih turun hujan, cuaca justru makin terik. Padahal, beberapa hari terakhir selalu turun hujan dengan intensitas rendah hingga sedang di wilayah Kota Blitar.

Masuk ke Perumahan BTN Asabri di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, udara panas masih terasa menyengat kendati ada beberapa pohon rindang di kompleks perumahan itu.

Tak jauh dari gerbang masuk kompleks, ada yang menarik perhatian di salah satu rumah di sudut jalan perumahan. Tepatnya di blok P rumah nomor 9. Di teras rumah itu terlihat banyak kendaraan roda dua diparkir.

Yang paling kentara adalah adanya beberapa motor skuter buatan negeri pizza, atau di Indonesia lebih jamak disebut vespa. Kendaraan skuter itu terlihat berjubel di teras rumah itu. Corak, warna dan ukurannya pun beragam.

Tak lama, dari dalam rumah keluar seorang pria berpakaian serba hitam dengan santai mulai bercerita tentang hobinya. Dia adalah Ito Tubagus Aditya seorang kolektor vespa dari Kota Blitar.

Ito menerangkan, semua berawal sejak duduk di bangku SMA. Saat itu  mulai tertarik ke dunia otomotif. Dari sanalah mulai banyak mencari tahu seluk beluk terkait motor. Mulai dari jenis, spesifikasi, pabrikan dan berbagai suku cadangnya. "Dari SMA senang motor. Lebih fokus ke barang antiknya," terangnya.

Dia akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada vespa antik. Selain karena terkesan unik dan retro, Ito mengaku tertarik pada sisi historis si skuter legendaris dari Italia ini. Berbekal pengetahuan dan relasi kuat, akhirnya Ito mulai merealisasikan keinginannya untuk menjadi kolektor vespa sejak tahun 2013.

Selain karena alasan nilai sejarah, Ito menyebut bahwa hobi ini juga bisa menjadi investasi karena pasarnya yang sangat luas di Indonesia. "Awalnya lihat-lihat vespa. Saya lihat teman banyak, penggemar banyak. Secara ekonomis signifikan. Jadi, selain hobi, bisa utuk investasi," sebut pria 41 tahun ini.

Setelah berjalan selama tujuh tahun, Ito mengaku hingga kini mengoleksi 25 vespa dari berbagai variasi tahun produksi hingga jenisnya.

Setiap kolektor vespa pasti punya satu vespa andalan yang biasa disebut "gacoan". Nah, tentu Ito juga memiliki satu vespa yang selalu dijagokan dan dijadikan sebagai andalannya. Vespa itu jenis VB 150 yang diproduksi tahun 1957.  

Sekilas memang tidak ada yang unik dari vespa marna hijau muda itu. Namun, Ito mengungkapkan bahwa vespa itu adalah jenis “rare item” atau jenis yang sulit di dapat di Indonesia. Karena itu, banyak dari sesama kolektor vespa di Kota Blitar sudah menawar dengan harga fantastis. Tapi Ito enggan untuk menjual dengan alasan nilai sejarah dari vespa itu. "Yang itu saya beli kemarin Rp 200 juta," ujar Ito sambil menunjuk ke arah vespa andalannya.

Bukan melulu soal bodi si vespa. Masalah aksesori juga tidak boleh ketinggalan. Nah, khusus aksesori, Ito mengaku membeli langsung dari luar negeri melalui jaringannya. Alasannya, aksesori vespa memang sangat sulit didapat. Karena itu, membeli langsung dari negeri produsennya menjadi pilihan. Tapi jangan salah sangka dulu. Kendati ukuran-ukuran aksesori ini terbilang mungil, ternyata harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. "Itu wheeldop saya beli langsung dari Italia. Harganya bisa mencapai Rp 25-50 juta untuk satu biji," sebut pria yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Blitar ini.

Kendati koleksi vespa miliknya terbilang banyak dan terbikang koleksi “rare item”, Ito mengaku lebih memilih untuk tidak ikut bergabung dengan komunitas sesama pecinta vespa di Kota Blitar. Alasannya, tidak memiliki banyak waktu karena harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya.  Namun,  selalu mencoba ikut hadir apabila ada suatu event otomotif di Kota Blitar sebagai bentuk solidaritas antar sesama penghobi otomotif.

Uniknya, meski tidak bergabung dengan komunitas, Ito mengaku sering disapa sesama pemilik vespa terlebih dahulu apabila  melakukan touring dengan membawa si “gacoan”. Alasannya tentu karena vespa miliknya ada jenis yang terbilang cukup tua. Karena itu banyak dari penikmat vespa yang tertarik dengan jenis ini. "Di jalan gak usah nyapa. Udah disapa dulu sama penggemar vespa," katanya sambil terkekeh.

Dia mengungkapkan, keinginanya untuk menambah koleksi vespa miliknya. Karena itu, selalu berkomunikasi dengan relasinya yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia.  Bukan hanya menambah koleksi vespa, menambah koleksi aksesori vespa juga jadi hal yang menantang baginya. Dan jenis aksesori paling  disukainya adalah wheeldop. "Kalau wheeldop yang bagus ada merek Ulma, Ardor, Vigano, Super, Joker dan Style. Yang paling mahal itu Joker, bisa Rp 50 jutaan. Kalau bautnya yang asli itu paling murah Rp 40 ribu per biji. Itu baru bautnya saja," kelakarnya. (*)

(rt/did/bel/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia