alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

500 Hektare Sawah Endemis Hama Tikus

Di 11 Desa di 4 Kecamatan

11 Juli 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

TETAP WASPADA : Dua Petani sedang menyelesaikan penanaman padi di area  persawahan Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, kemarin (10/7).

TETAP WASPADA : Dua Petani sedang menyelesaikan penanaman padi di area persawahan Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung, kemarin (10/7). (DHARAKA R, PERDANA / RATU)

BOYOLANGU, Radar Tulungagung - 500 hektare sawah di empat kecamatan di Tulungagung disebut daerah endemis hama tikus. Sebab, sepanjang tahun, hama tikus itu menyerang padi milik petani hingga gagal panen dan merugi sampai jutaan rupiah.

Luasan hektare itu terdapat di 11 desa. Dengan rincian, di persawahan masuk Desa Simo, Majan, Winong, Mangunsari yang masuk Kecamatan Kedungwaru. Selanjutnya, di Desa Bungur dan Sukowiyono di wilayah Kecamatan Karangrejo. Persawahan di Desa Kauman, Panggungrejo, dan Batangsaren, ketiganya di Kecamatan Kauman. Serta persawahan di wilayah Tulungagung Kota, yakni Kelurahan Kutoanyar dan Tamanan.

"Dinyatakan endemis karena hama tikus ini tiap tahun selalu menyerang. Serangannya termasuk lebih parah daripada desa/kecamatan lain," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Suprapti melalui Koordinator POPT Gatot Rahayu, kemarin.

Alasan persawahan di empat kecamatan itu jadi langganan hama pengerat ini, jelas Gatot, salah satu faktornya ukuran saluran siphon yang berada di Simo terbilang kecil. Sehingga drainase saat musim hujan kurang lancar. Kemudian, air meluap membanjiri tanaman padi milik petani. "Nah, banjir ini membuat sebagian petani gagal panen. Sehingga pola tanam mereka akhirnya tidak serempak," katanya.

Dengan pola tanam yang tidak sama, menjadi sasaran ancaman hama tikus. Sebab, masih ada ketersediaan pangan bagi hama untuk menyerang. Bahkan serangan ini membuat petani setempat ada yang gagal panen. "Tikus ini menyerang padi dengan cara menyacah. Beda kalau jagung itu dimakan," tuturnya.

Berbagai upaya pengendalian pun telah dilakukan. Di antaranya pengemposan (pengasapan), penggembosan, dan gropyokan. Selain itu, pihaknya juga membuat komunitas petani dari empat kecamatan itu. Dalam pertemuannya, membahas tentang pengendalian hama di persawahan mereka. Termasuk menyelaraskan pola tanam serempak. "Tapi sayangnya, ini belum optimal karena ada beberapa petani yang belum masuk komunitas karena ternyata pemilik sawah bukan berdomisili di desa setempat. Bahkan, temannya sesama petani tidak tahu alamatnya. Dari sinilah, pola tanam belum bisa dilakukan serentak," terangnya.

Selain upaya pengendalian itu, juga masih ada beberapa desa yang mengendalikan hama dengan membudidayakan burung hantu yang merupakan predator bagi hama tikus. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Sumber Daya Air (Disperum KPSDA) Kabupaten Tulungagung Anang Pratistianto mengakui ada permintaan rehab saluran siphon di Desa Simo, Kecamatan Kedungwaru. Permintaan itu karena persawahan setempat rusak akibat banjir yang datang dari kurang optimalnya saluran tersebut. Atas permintaan itu, pria yang sebelumnya menjabat sebagai camat Kedungwaru ini telah meneruskannya dengan mengusulkan ke Balai Besar Wilayah Sungai Brantas. "Sebab, saluran tersebut merupakan kewenangan pusat. Jadi kami usulkan ke sana," katanya (*)

(rt/rak/bel/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia