alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Insentif Nakes dari Duit BTT

Minimal Rp 250 Ribu, Maksimal Rp 5 Juta

11 Juli 2020, 10: 05: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

DIAPRESIASI: Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel darah untuk rapid test di sebuah pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu.

DIAPRESIASI: Seorang tenaga kesehatan mengambil sampel darah untuk rapid test di sebuah pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

KEDUNGWARU, Radar Tulung­agung – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung memastikan seluruh petugas yang terlibat dalam penanganan pandemi coronavirus disease (Covid-19) telah menerima insentif sejak Maret hingga Juni kemarin. Besaran dana yang diterima pun beragam, sesuai beban kerja yang diemban masing-masing. 

Sekretaris Dinkes Kabupaten Tulung­agung Ana Sapti Saripah mengatakan, pemberian insentif kepada seluruh petugas yang terlibat dalam penanganan Covid-19 ini merupakan wujud apresiasi atau reward bagi mereka.

 Ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/392/2020 tentang Pemberian Insentif dan Santunan Kematian bagi Tenaga Kesehatan (nakes) yang Menangani Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). “Ini reward yang diterima oleh mereka (nakes) yang menangani dan terlibat lang­sung dalam penanganan Covid-19 ini,”jelasnya.

Ana melanjutkan, berdasarkan keputusan Kemenkes tersebut, jumlah penerima disesuaikan dengan jumlah orang dengan risiko (ODR), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan pasien terkonfirmasi positif yang ditangani di suatu kabupaten/kota. Yakni setiap 20 petugas menangani sekitar 1.000 pasien. “Dengan adanya hal tersebut, gugus tugas menentukan jumlah orang yang menangani Covid-19 dari dinkes. Tentunya sesuai dengan peraturan yang ada. Tidak menyalahi aturan tersebut, termasuk besaran insentifnya,” jelasnya.

Wanita berkulit putih ini me­ngatakan, dana insentif tersebut bukan bersumber dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN), melainkan anggaran belanja tidak terduga (BTT) yang bersumber dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Sebab, proses pencairan dana lebih mudah dan cepat. 

Besaran yang diterima pun berbeda-beda antara petugas satu dan yang lain. Dilihat berdasarkan hasil scoring dari beban kerja petugas yang menangani. Ana menambahkan, dalam hal ini tim yang bertugas melakukan tracing atau penelusuran kontak pasien memiliki beban kerja paling berat. Sebab, bekerja hingga malam hari melakukan penelusuran sumber penularan hingga diketahui beberapa klaster dan menemukan 239 kasus terkonfirmasi. “Untuk besaran insentif yang diberikan kepada tim tracing berkisar Rp 3,5-4 juta per orang yang diterima setiap bulannya. Yang paling tinggi tentunya penanggung jawab, yakni sebesar Rp 5 juta,” paparnya.

Dari data yang berhasil dihimpun Koran ini, adapun jumlah penerima insentif yang berasal dari dinkes untuk bulan Maret sebanyak 461 orang. Dengan rincian, 6 orang merupakan medis, 430 paramedis, dan 25 petugas nonmedis. Kemudian untuk bulan April sebanyak 478 orang. 7 di antaranya petugas medis, 445 paramedis, dan 26 merupakan petugas nonmedis. Sementara untuk bulan Mei, jumlah penerima masih sama seperti dengan bulan April. Untuk bulan Juni sebanyak 478 orang. Dengan rincian, 7 di antaranya medis, 446 paramedis, dan 25 nonmedis. Banyak sedikitnya penerima insentif setiap bulan disesuaikan jumlah petugas yang terlibat pada penanganan. Seperti diketahui, bulan April dan Mei menjadi fase puncak dari kasus Covid-19 di Tulungagung. 

Disinggung terkait besaran anggaran yang dikeluarkan untuk pemberian insentif, Ana enggan memaparkan. Namun, dia menyebutkan nominal minimal pemberian insentif itu mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 5 juta. “Yang pasti, yang mendapatkan insentif ini seluruh petugas. Baik medis, paramedis, maupun nonmedis seperti petugas keamanan, kebersihan, hingga sopir ambulans,” katanya.

Ana menambahkan, pemberian insentif terhadap tenaga kesehatan tersebut bertujuan memberikan semangat dan motivasi bagi para petugas dalam menangani Covid-19. Seperti diketahui, penanganan Covid-19 di Tulungagung melibatkan seluruh elemen petugas. Mulai dari medis, paramedis, maupun petugas nonmedis. “Ini untuk memberikan semangat kepada teman-teman di lapangan yang sudah bekerja keras dalam menangani pandemi ini,” tandasnya. (*)

(rt/nda/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia