alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Pelatih Bola Basket Tekuni Desain Kaus

Otodidak, Perkenalkan Desain Trenggalek 1194

11 Juli 2020, 18: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

HARUS CERMAT: Andik ketika membuat desain kaus pesanan pelanggannya.

HARUS CERMAT: Andik ketika membuat desain kaus pesanan pelanggannya. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Pandemi korona yang terjadi seperti saat ini, jika dimanfaatkan dengan betul, akan berbuah rejeki. Seperti yang ada pada diri Andik Widiyanto, salah satu pelatih basket di Kota Keripik Tempe. Dengan tidak bisa melatih maupun berkegiatan di bidang olahraga seperti saat ini, dia malah lebih fokus mendesain kaus.

Sekitar pukul 13.30 kemarin (10/7), suasana di Balai Desa Buluagung, Kecamatan Karangan, terlihat sepi. Itu lantaran beberapa petugas desa yang ada belum kembali setelah istirahat untuk melak­sanakan salat Jumat. Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria keluar dari salah satu ruangan di balai desa tersebut.

Dia membawa tas plastik warna hitam yang ternyata berisi empat potong kaus. Ya, dia sedang menunggu seorang pelanggan yang memesan kaus dengan gambar desainnya. Pria itulah Andik Widiyanto. Setelah itu dirinya langsung mengajak Jawa Pos Radar Trenggalek ini untuk langsung masuk ke salah satu ruangan di balai desa tersebut.

Ternyata ruangan tersebut leng­kap dengan beberapa peralatan yang digunakannya bekerja. Seperti komputer, printer khusus sablon, mesin pres, dan sebagainya. Tidak ketinggalan, juga puluhan potong kaus yang telah disablon. “Sementara waktu saya istirahat melatih basket karena ada korona ini. Sehingga bisa lebih fokus mengembangkan usaha ini,” tutur Andik Widiyanto kepada Koran ini.

Ternyata aktivitas itu telah digelutinya sekitar 2018 lalu. Saat itu ada aset desa yang digunakan untuk menyablon polivek tidak terpakai. Alasannya, masyarakat yang sebelumnya mengikuti pelatihan menyablon untuk membentuk anak dari badan udaha desa (BUMDes) setempat tiba-tiba tidak memanfaatkannya lagi. “Saat itu sekretaris desa (sekdes) berbincang kepada saya tentang bagaimana memanfaatkan peralatan tersebut. Sebab sayang jika dibiarkan begitu saja,” katanya.

Beberapa hari setelahnya, desa mendapat kunjungan dari pegawai salah satu organisasi perangkat daerah (OPD) di PemkabTrenggalek. Dari situ, mereka langsung memesan desain yang ada pada baju tersebut. Hingga perangkat desa setempat menyanggupi untuk membuatnya. Saat itulah masalah terjadi. Mengingat sementara itu tidak ada yang bisa mengoperasikan peralatan yang ada dengan baik.

Sehingga perangkat desa yang menyanggupi pesanan tersebut menyuruh Andik untuk belajar cara membuatnya. Berbekal kemampuan yang dimiliki dalam desain, dirinya mulai belajar cara membuat bentuk-bentuk desain yang diinginkan. “Kala itu saya bisa karena terpaksa sehingga karena belum mengenal orang yang mahir mendesain, belajar secara otodidak,” jlentreh pelatih basket di SMAN 1 Karangan ini.

Hampir satu bulan dirinya belajar untuk memenuhi pesa­nan pegawai OPD tersebut hingga bisa memenuhinya. Saat itulah dirinya mulai tertarik dan mulai membuat desain kaus hasil karyanya sendiri. Itu dilakukan, mengingat setiap bentuk desain memiliki tingkat kesulitan sendiri. Dari situlah dirinya juga mencoba mengenalkan Trenggalek lewat desain kausnya, yaitu Trenggalek 1194. Angka tersebut diambil karena dipercayai menjadi tahun mulai terbentuknya Trenggalek. Tujuannya tidak hanya mengenalkan juga memberi pelajaran sejarah bagi masyarakat luas terkait Trenggalek. Mengingat banyak masyarakat yang lupa tahun tersebut.

Gayung pun bersambut, perlahan pesanan mulai datang, khususnya bagi kaum remaja. Mengingat desain yang dijajakannya cocok untuk kawula remaja dan bisa dipesan dengan jumlah sedikit. Ditambah, harganya yang terjangkau. “Untuk harganya sekitar Rp 85 ribu setiap potong kaus, tapi tergantung tingkat kesulitan desain yang ada. Sedangkan untuk pasar sendiri selain masyarakat Trenggalek, juga pernah dipesan orang dari luar kota. Seperti Malang, Surabaya, dan sebagainya,” jelas pria 35 tahun ini.

Dari situ untuk sementara ini, di saat pandemi korona, dirinya lebih menekuni aktivitas desain tersebut. Sambil menunggu korona mereda dan latihan bola basket dilanjutkan kembali. Sedangkan untuk pengalamannya pada dunia basket, sebenarnya tidak bisa dipandang remeh. Sebab, dirinya berkali-kali membawa tim asuhannya juara di kejuaraan yang diikuti di luar daerah. Selain itu, menjadi tim Trenggalek pertama yang berkompetisi pada Developmental Basketball League (DBL). “Kendati besok kembali melatih basket, aktivitas ini akan terus saya jalankan. Sebab, dengan ini juga ikut membantu perekonomian penjahit sekitar karena kaus saya pesan dari ibu-ibu penjahit di desa sini,” jelasnya. (*)

(rt/zak/bel/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia