alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Empat Tahun, Empat Keluarga

Yang Mau Menempati Rusunawa Prigi

13 Juli 2020, 08: 00: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

SEPI: Suasana rusunawa Prigi yang terlihat sepi dari luar. Mengingat hanya segelintir keluarga yang bersedia menempati bangunan empat lantai ini.

SEPI: Suasana rusunawa Prigi yang terlihat sepi dari luar. Mengingat hanya segelintir keluarga yang bersedia menempati bangunan empat lantai ini. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

WATULIMO, Radar Trenggalek -  Pemkab Trenggalek harus lebih berkoordinasi dengan pemerintah di atasnya untuk memaksimalkan bangunan rusunawa Prigi di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Pasalnya, setelah selesai dibangun pada 2016 lalu dengan anggaran mencapai Rp 20 miliar, hingga kemarin (12/7) tetap saja sepi penghuni.

Itu terlihat dari ruangan yang ada di bangunan tersebut, hanya ada empat keluarga yang menghuni. Tak ayal, hal itu membuat bangunan empat lantai yang menghadap langsung ke laut selatan tersebut terlihat kumuh dan tak terurus. ”Pada perencanaan awal, rusunawa ini hanya untuk warga yang berada di Kampung Baru. Sehingga kini kami tidak mau menawarkan ke warga lain karena hanya meneruskan rencana semula,” ungkap Kepala Desa Tasikmadu, Wignyo Handoyo.

Dia melanjutkan, bangunan terlihat sepi karena warga Kampung Baru yang bermukim di lahan milik Perhutani dan pemerintah enggan pindah menempati. Terkait apa alasannya, dirinya tidak tahu. Bisa saja itu terjadi lantaran manyoritas warga yang menempati Kampung Baru bermata pencarian sebagai nelayan. Sehingga jika menempati rusunawa tersebut, kebingungan untuk memindahkan peralatan yang digunakan. “Mungkin juga mereka tidak mau pindah karena tidak ada kejelasan lahan pemerintah yang kini ditempati mau digunakan untuk apa. Sehingga daripada tidak ada kejelasan, lebih baik ditempati,” katanya.

Sebenarnya pemdes beberapa kali memberikan usulan terkait penggunaan rusunawa tersebut daripada tak terpakai. Salah satunya sebagai ruang isolasi pendatang atau warga terduga terjangkit virus korona. Namun, usulan tersebut ditolak hingga tidak ada yang bisa memanfaatkannya. “Kami juga tidak tahu untuk apa rusunawa ini nantinya. Sebab, pada perencanaan awal, hanya untuk warga Kampung Baru,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak mengaku telah mengetahui hal itu. Pihaknya pun terus berkoordinasi dengan Pemkab Trenggalek guna memaksimalkan penggunaan rusunawa tersebut. Sebab sayang jika tidak digunakan. “Saya telah menyampaikan kepada pemkab, diperlukan ketegasan dalam hal ini,” ujarnya.

Hal itu terkait masyarakat yang telah menandatangani komitmen di atas materai untuk menempati rusunawa ketika proses pembangunan. Sehingga jika tidak mau menempati, rusunawa bisa ditempati masyarakat lain yang lebih membutuhkan. Ini dilakukan, mengingat pembangunan rusunawa merupakan bentuk atensi pemerintah dalam menyediakan rumah layak huni bagi masyarakat yang menduduki lahan milik pemerintah. “Kendati demikian, kami selalu tekankan, rusunawa ya rusunawa, yang diperuntukkan masyarakat dengan income di bawah kelayakan,” tutur mantan bupati Trenggalek ini. (*)

(rt/zak/alwk/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia