alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Indonesia Franchise Boom: Mana Yang Lebih Menghasilkan?

21 Juli 2020, 20: 38: 36 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

Yursalayya Anindya Putri, mahasiswa semester 6 jurusan manajemen di SBM Institut Teknologi Bandung, dan tertarik pada pengembangan bisnis dan marketing

Yursalayya Anindya Putri, mahasiswa semester 6 jurusan manajemen di SBM Institut Teknologi Bandung, dan tertarik pada pengembangan bisnis dan marketing

Bisnis waralaba umumnya dikategorikan sebagai salah satu segmentasi bisnis dengan pertumbuhan cepat dan dianggap usaha pertumbuhan bisnis hemat biaya menurut Jurnal Entrepreneur India. Hingga tahun 2020, tidak hanya perusahaan multinasional yang memperluas bisnis melalui waralaba, perusahaan domestik Indonesia juga memperluas bisnis mereka dengan bermitra dengan pemilik modal melalui penawaran paket waralaba. Penawaran bervariasi dari investasi modal rendah kisaran Rp5 juta (JNE) hingga Rp970 juta (Apotek K24) bahkan lebih, untuk setiap ritel yang dibuka. Merek-merek ini menjanjikan investasi yang disetorkan akan kembali dalam kurun waktu 3 bulan hingga 2 tahun tergantung pada pemilihan lokasi dan jumlah modal yang diinvestasikan. Industri ritel Indonesia tumbuh seiring dengan kondisi ekonomi negara yang dipengaruhi oleh peningkatan kemampuan pembelian konsumen.  

Maraknya waralaba di Indonesia sebagai jalan pintas untuk ekspansi bisnis menuai pertanyaan. Pengamat bisnis amatir, sekaligus sebagai konsumen umum dan juga investor awal yang memulai menjalankan bisnis, mempertanyakan apakah merek-merek baru yang sedang naik daun ini merupakan pesaing yang seimbang bagi merek-merek terdahulu? Hal ini memunculkan perbandingan beberapa merek dagang yang menawarkan kemitraan waralaba dengan pemilik modal. Misalnya, perbandingan antara CFC yang menjual ayam goreng ala Kentucky dengan Geprek Bensu dan Ngikan yang baru didirikan dengan jenis makanan serupa. Terdapat juga kafe yang sering ditemui di berbagai pusat perbelanjaan seperti Excelso dibandingkan dengan konsep kafe yang sedang ramai didatangi khalayak muda, Upnormal Coffee Roaster dari Grup Warunk Upnormal. Brownies yang terkenal dengan citarasanya disukai oleh mayoritas konsumen, Amanda Brownies, dibandingkan dengan kue yang baru diluncurkan dengan berbagai varian rasa inovatif, Cakekinian.  

Mari kita menganalisis apa yang terjadi pada perusahaan yang disebutkan dalam perbandingan di atas. Amanda Brownies tampaknya tetap bertahan dalam industri ini sejak dibukanya pada tahun 2000. Sebagai perbandingan, Cakekinian didirikan pada tahun 2017 dengan penawaran yang sama berupa harga dan produk serupa. Cakekinian merupakan salah satu ‘kue artis’ yang hingga saat ini masih diminati di antara tren kue yang bermunculan. 

Kedua merek menawarkan waralaba sebagai strategi ekspansi. Selama periode operasi bisnis, Amanda Brownies dianggap telah menemukan segmen pelanggan dan posisi produk mereka dibandingkan dengan Cakekinian yang baru memulai pemasarannya. Franchisee harus menimbang merek mana yang dapat menghasilkan keuntungan lebih. Pertimbangannya adalah bukan hal yang mudah bagi Amanda Brownies untuk bertahan selama 20 tahun, di sisi lain posisi Cakekinian terlihat lebih diminati masyarakat sekarang. Investasi pada cabang Cakekinian mungkin tampak menjanjikan didukung oleh inovasi menarik yang mereka tawarkan. Tawaran ini didukung oleh pengembalian besar yang menarik franchisee untuk berinvestasi. Dilansir dari franchiseglobal.com, dengan nilai investasi Rp350 juta, bermitra dengan Cakekinian dapat meraup omzet sebesar Rp10 juta per hari, Rp300 juta per bulannya. Angka yang cukup menggiurkan. Selain itu, Cakekinian dipromosikan oleh tokoh-tokoh publik atau influencer yang berpengaruh terhadap opini publik. Permasalahannya adalah masih ada kemungkinan bisnis tidak dapat bertahan pada masa pengembangannya. Dengan pertimbangan dan riset bisnis yang mendalam, memungkinkan franchisee untuk mendapatkan keuntungan optimal.   

Ketika meneliti perusahaan untuk menempatkan investasi, dilema yang muncul adalah untuk memutuskan perusahaan mana yang sebaiknya dipilih sebagai mitra dan memperkirakan pertumbuhan masa depan perusahaan. Apakah mereka akan berkembang di tahun-tahun mendatang? Apakah pelanggan lebih memilih membeli dari merek tersebut dibanding yang lain? Apakah investasi yang diberikan sepadan?  

Dilema tersebut dapat dengan mudah dikaitkan oleh ruang lingkup bisnis yang disukai oleh franchisee. Kebiasaan sehari-hari dapat dijadikan referensi dalam menentukan jenis usaha yang akan dipilih. Wawasan dan pengalaman pribadi franchisee akan bermanfaat untuk memutuskan perusahaan mana yang berkinerja lebih baik. Ini mencakup pengertian karakteristik terperinci dari perusahaan yang lebih disukai oleh franchisee. Jika franchisee menggemari ruang lingkup bisnis yang dijalankan perusahaan, observasi perusahaan tidak akan menjadi beban baginya.  

Salah satu contohnya jika calon franchisee banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke kafe akan lebih bijak untuk berinvestasi di perusahaan terkait. Pengalaman pribadi franchisee mengunjungi berbagai kafe akan meningkatkan kemampuan untuk membedakan kafe mana yang lebih disukai konsumen tertentu. Calon franchisee tipe ini terbiasa menyadari kafe yang cocok untuk pelanggan kelas atas, menengah, atau rendah. Pertimbangannya meliputi desain kafe, pilihan lokasi yang strategis, hingga detail menu yang ditawarkan kafe. Kekurangan pada sistem yang ditawarkan perusahaan franchisor juga lebih mudah dikenali. Tidak hanya itu, tren dalam industri kopi juga akan lebih mudah dimengerti dan diproyeksikan jika franchisee berpengalaman mengonsumsi berbagai menu kopi, tren kopi mana yang mampu sustain dan mana yang cepat hilang. Kemampuan ini akan sangat bermanfaat dalam memutuskan merek kopi yang berpotensi untuk diinvestasikan.  

Pada praktiknya, memperoleh laba dari waralaba bisa relatif mudah bagi pemilik modal. Franchisor menyediakan paket lengkap produk, sistem operasi, dan pemasaran terpusat. Franchisee tidak perlu memikirkan operasional cabang waralaba karena perusahaan telah mempersiapkan sistem yang praktis. Tetapi, tidak mudah mengetahui masa depan merek 

pendatang baru tersebut. Tertarik untuk berinvestasi di merek waralaba yang sedang ‘booming’?

(rt/ang/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia