alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Usaha Mikro Mulai Bergeliat, Omzet Menguat

Optimalkan Digital Marketing

25 Juli 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

TETAP BERTAHAN: Salah satu pengrajin gerabah di Desa Bendungan, Kecamatan Gondang sedang menyelesaikan hiasan lemper sebelum dikeringkan.

TETAP BERTAHAN: Salah satu pengrajin gerabah di Desa Bendungan, Kecamatan Gondang sedang menyelesaikan hiasan lemper sebelum dikeringkan. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung – Angin segar berembus bagi usaha mikro. Jika selama pandemi Covid-19, mengalami penurunan pendapatan hingga 70 persen, setelah memasuki adaptasi kebiasaan baru (AKB), mulai menggeliat dan berkembang kembali untuk memulihkan perekonomian. Alhasil, kini usaha mikro di Tulungagung sudah bisa menurunkan persentase omzet sekitar 20 persen dari pendapatan yang anjlok selama pandemi lalu. Selain itu, usaha mikro mau tidak mau harus memulai membiasakan dengan digital marketing.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop-UM) Kabupaten Tulungagung, Slamet Sunarto mengatakan, sekitar tiga bulan sebelumnya di tengah pandemi Covid-19, usaha mikro di Tulungagung benar-benar terpukul. Pasalnya, pandemi Covid-19 memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pendapatan usaha mikro. “Kemarin itu pendapatan usaha mikro anjlok sampai 70 persen,” tuturnya.

Kini memasuki AKB, berdasarkan pantauan terlihat beberapa usaha mikro sudah mulai bergeliat dan berkembang kembali. Dari data yang diterima usaha mikro yang mengalami penurunan pendapatan hingga 70 persen kini sudah mencapai angka 50 persen. Artinya usaha mikro sudah mulai bergerak kembali dan memperbaiki pendapatanya sekitar 20 persen. “Tahapan demi tahapan, pastik usaha mikro bisa kembali normal kembali,” ujar Slamet.

Pria berkacamata itu menjelaskan, dari pengalaman selama pandemi Covid-19, mau tidak mau usaha mikro harus memahami dan membiasakan dengan digital marketing, dalam pemasarannya. Dengan digital marketing jangkauan konsumen akan lebih luas kembali. Jika melihat data, penggunaan digital marketing dalam usaha mikro masih sangat sedikit, yakni sekitar 13 persen saja. Sedangkan 87 persen sisanya, usaha mikro masih memasarkan dengan konvensional. “Memang beberapa usaha mikro di Tulungagung sudah menggunakan digital marketing melalui media sosial, tapi itu masih sangat sederhana,” jelasnya.

Usaha mikro dalam wilayah binaan Dinkop-UM Tulungagung tercatat pada 2019, ada 44.507 pelaku usaha. Dari 44.507 pelaku usaha, 3.861 pelaku usaha yang sudah berizin. Jika melihat permodalanya, diperkirakan mencapai Rp 50,7 miliar. “Jumlah sedemikan banyaknya sangatlah berpotensi untuk menggerakkan perekonomian Tulungagung,” tambahnya.

Mantan sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) ini merencanakan akan membuat sebuah marketplace untuk mengakomodir seluruh produk dari usaha mikro di Tulungagung. Usaha mikro di Kecamatan Ngantru saja sudah memiliki 366 produk. Agar produk-produk dari usaha mikro di Tulungagung bisa bersaing lebih luas. Selain itu pihaknya juga akan membuat kerjama dengan pihak-pihak terkait untuk mendompleng produk usaha mikro di Tulungagung. “Kami akan membuat marketplace untuk mewadahi seluruh produk usaha mikro di Tulungagung. Agar produk usaha mikro bisa berkembang dan memiliki daya saing,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia