alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Kepedulian Muhammad Dlaiful Ramadhan

Pendapatan dari YouTube Dipakai Merawat Situs Terbengkalai

 Merawat Peninggalan Sejarah Tulungagung

26 Juli 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

PENUH SEJARAH: Salah satu situs peninggalan sejarah yang dirawat Adon. Yakni Arca Siwa atau Arca Mbah Buronggo di Desa Nokromo, Kecamatan Gondang.

PENUH SEJARAH: Salah satu situs peninggalan sejarah yang dirawat Adon. Yakni Arca Siwa atau Arca Mbah Buronggo di Desa Nokromo, Kecamatan Gondang. (MUHAMMAD DLAIFUL RAMADHAN FOR RATU)

Tak memiliki pendidikan formal tentang sejarah, bukan berarti menjadi suatu hambatan bagi Muhammad Dlaiful Ramadhan memperkenalkan dan merawat peninggalan situs sejarah di Tulungagung. Berbekal buku, pendapat arkeolog, hingga cerita setempat, Adon -sapaan akrabnya- mengenalkan peninggalan sejarah di Tulungagung melalui media sosial (medsos).

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung.

Sejarah dan situs peninggalan peradaban di masa lampau telah membuat luluh dan tak bisa menyembunyikan kecintaan Adon terhadap hal itu. Saking cintanya kepada peninggalan sejarah, hampir semua situs di Tulungagung sudah dijajaki. Mulai dari situs yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat hingga situs yang jarang terdengar di telinga masyarakat. Perjalanan menyusuri dan mempelajari peradaban masa lalu dimulai 2018 lalu ketika Adon memtuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di salah satu klinik kesehatan di Tulungagung.

Pria ramah itu mengungkapkan, dulu sempat bekerja di klinik kesehatan sebagai petugas kebersihan. Karena merasa haknya tidak terpenuhi, memutuskan terjun kembali kepada kecintaannya sejak kecil, yakni mengenai sejarah. Takdir memang sulit ditebak, keputusan Adon mengantarkannya bertemu dengan seorang arkeolog yang berasal dari kota istimewa di Jawa. “Awalnya saya dulu itu bertemu dengan arkeolog dari Jogjakarta di situs peninggalan sejarah Selomangkling. Dari situlah membuat keinginan saya semakin kuat untuk memperdalam sejarah, khususnya di Tulungagung,” ungkap pria asal Desa Mojosari, Kecamatan Kauman itu.

Mendalami sejarah di Tulungagung bukanlah persoalan mudah bagi Adon yang hanya berbekal ijazah SMP. Untuk mewujudkan keinginannya, pria berkumis tipis ini memperkaya diri dengan membaca berbagai buku sejarah, berdiskusi dengan arkeolog, hingga mencatat segala temuan dari cerita yang berkembang di masyarakat. Dari usaha itulah, satu per satu simpul sejarah dipahami. “Saya hanya lulusan SMP, tapi saya sangat cinta dengan sejarah. Bahkan banyak orang dengan pendidikan formal sejarah, tapi tidak mempedulikan sejarah itu,” ujar pria tiga bersaudara itu.

Adon mengaku hampir seluruh situs peninggalan sejarah di Tulungagung sudah pernah dijajaki dan berusaha dipahaminya. Bahkan, situs peninggalan yang tidak tersentuh pemerintah pun juga sudah datangi. Jika ditotal, lebih dari 50 situs peninggalan sejarah di Tulungagung yang sudah didatangi dan mencari bagaimana sebenarnya sejarah dari situs tersebut. “Jadi ketika saya mendatangi sebuah situs peninggalan sejarah, saya akan mencari informasi dari buku, cerita masyarakat, hingga pendapat dari arkeolog. Jika ketiga sumber tersebut sudah saya dapat, saya akan berusaha mengambil dari ketiga sumber tersebut. Karena belum tentu ketiga sumber tersebut sama atau saling berkaitan. Kini sudah ada sekitar 7.000 foto situs yang saya miliki. Dengan tujuan, meninggalkan jejak jika sewaktu-waktu situs tersebut hilang,” ucapnya.

Milhat banyak situs peninggalan sejarah di Tulungagung yang tidak terawat, Adon tergerak merawatnya. Ada sekitar 10 situs peninggalan sejarah yang dirawat, mulai dari arca hingga batu tulis. Itu semua dilakukan demi menjaga peninggalan sejarah. Jika pemerintah tidak merawat peninggalan tersebut, siapa yang akan mewarat peninggalan sejarah tersebut. “Saya itu miris melihat banyak situs yang terbengkalai dan tidak segera diekskafasi oleh pemerintah. Maka dari itu, saya memutuskan untuk merawat situs yang terbengkalai tersebut,” papar pria kelahiran 1996 itu.

Selang dua tahun berjalan, pria yang tergabung dalam Komunitas Jawa Kuno (Komjaku) Sutasoma itu berpikir bagaimana memperkenalkan sejarah peninggalan di Tulungagung yang sangat kaya ini kepada khalayak luas. Pria yang masih lajang ini memutuskan untuk membuat channel YouTube bernama MDR Offical. Di dalamnya mengulik tentang peninggalan sejarah Tulungagung yang jarang sekali diketahui. “Ya, beginilah salah satu cara untuk memperkenalkan peninggalan sejarah di Tulungagung. Ini akan menjadi arsip pribadi saya,” harapanya.

Dari situlah, ada pendapatan dari YouTube. Pedapatan yang diperoleh tersebut didedikasikan untuk merawat situs yang terbengkalai. Meski perawatanya sangat sederhana, inilah bentuk kecintaan Adon terhadap situs sejarah yang kini mulai usang dimakan waktu. Hal ini juga meminimalisasi situs tersebut hilang. Entah itu dicuri orang untuk dijual atau rusak. “Semoga banyak orang yang bisa lebih sadar dan memperhatikan peninggalan sejarah, khususnya di Tulungagung,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia