alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Melihat KBM Dengan Metode Visit Home

Inisiatif Guru, Siswa Lebih Gamblang Pahami Materi

28 Juli 2020, 18: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

FOKUS: Seorang guru kelas, M. Yendri Shufianto sedang menjelaskan cara menjumlah bilangan negatif kepada kelompok kelas kecil yang dibentuknya.

FOKUS: Seorang guru kelas, M. Yendri Shufianto sedang menjelaskan cara menjumlah bilangan negatif kepada kelompok kelas kecil yang dibentuknya. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

PANDEMI Covid-19 telah mengubah pola pembelajaran tatap muka, menjadi pembelajaran jarak jauh atau daring. Namun penerapan di lapangan tidak semulus yang diharapkan. Kemampuan ekonomi wali murid yang berbeda, serta banyaknya keluhan kesulitan siswa dalam memahami materi lewat daring, mendorong para tenaga didik untuk membantu memperoleh hak pendidikan dengan menggelar pembelajaran home visit.

Tepat pukul 08.30, M. Yendri Shufianto, yang merupakan guru kelas VI di SDN Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru membuka kelasnya. Diawali ucapan salam, lanjut membuka tema pelajaran yang akan dipelajari bersama siswanya.

Namun, kelas Yendri kali ini memiliki suasana yang berbeda. Kegiatan belajar mengajar mereka tidak lagi di ruang kelas, melainkan di teras milik salah satu warga. Dengan fasilitas seadanya, tujuh murid yang dia jadikan satu kelompok belajar duduk bersila di atas karpet yang disiapi pemilik rumah. Sebagai pelengkap, Yendri membawa papan tulis. Meski ukuran papan tak sebesar di kelas, namun diharapkan dapat mempermudah dia untuk menerangkan materi ke siswa. "Ini lokasi kelas kedua saya. Kelas pertama pukul 07.00 - 08.30, kemudian kelas kedua ini pukul 08.30 - 10.00," kata Yendri membuka obrolan dengan koran ini.

Baru dua minggu ini, Yendri mengelar pembelajaran home visit sebagai alternatif pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Pasalnya, dia mendapat desakan dari wali murid, bahwa anaknya mengalami kesulitan dalam memahami materi saat mengikuti pembelajaran daring. Tak hanya itu saja, juga banyak menerima keluhan akan keterbatasan fasilitas daring, mengingat ekonomi wali murid yang berbeda-beda. "Sekolah ini memang dekat kota, namun nyata di lapangan tidak semua siswa saya memiliki handphone sendiri. Sehingga, mereka terpaksa menunggu orang tua mereka pulang bekerja lebih dulu, atau meminta orang tua datang ke sekolah untuk mengambil tugasnya," terangnya.

Atas kondisi tersebut, pria berkacamata inipun berinisiatif melakukan home visit. Dari 26 siswa kelas VI, dia bagi dalam empat rumah sebagai kelas. Dengan kelompok kecil yang berisi 6-8 anak per kelompok. Itu untuk mematuhi peraturan pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan, juga agar lebih efektif dalam menyampaikan materi dengan fasilitas seadanya itu. "Protokol kesehatan juga ketat. Seperti, wajib masker dan duduk berjarak. Sebelum datang mereka harus mandi, pakai pakaian bersih dan cuci tangan sebelum masuk," terangnya.

Yendri mengaku home visit tidak dilakukan setiap hari. Hanya dua kali tatap muka per kelompok dalam seminggunya. Bahkan, karena terbatas waktu, lantas materi disambung melalui penugasan lewat daring. "Setiap pertemuan sekitar 1,5-2 jam per kelompok. Hari pertama menyampaikan materi, hari berikutnya evaluasi. Jadi semi daring istilahnya," terangnya.

Meski dengan fasilitas terbatas, namun tampak, para siswa antusias mengikuti tiap proses kegiatan belajar. Mereka duduk berjarak, sembari memakai masker mencoba menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yendri. "Mereka (siswa,red) sangat antusias. Bahkan sempat ada yang pakai seragam, saya minta pulang ganti baju," tegasnya.

Yendri berpendapat sistem daring dianggap kurang efektif bagi kelas besar atau kelas VI. Pasalnya, mereka membutuhkan penjelasan tiap materinya. Jikapun terpaksa daring, biasanya dia kirim video penjelasan. Dengan begitu, siswa dapat menyelesaikan tugasnya. "Matematika salah satu contoh mapel yang harus dijelaskan secara langsung. Karena hasil matematika ini pasti, salah cara beda jawabannya," tuturnya.

Respon positif disampaikan salah satu wali murid, Muasifah. Dia pun memfasilitasi tempat kegiatan belajar mengajar dengan menyediakan rumahnya untuk belajar siswa SD ini. Menurut dia, alternatif visit home ini membantu cucunya untuk memahami tiap materi yang diberikan oleh guru. Selain itu, juga mudah mengawasi cucunya saat belajar. “Belum tentu, materi yang diberikan saya bisa membantu. Kalau ada gurunya gini, kan jelas. Lebih baik juga hasilnya, anaknya juga dapat menyelesaikan tugasnya,” kata wanita berusia 58 tahun itu.

Salah satu siswa, Muhammad Qiston Fahrurozi mengatakan home visit memang seperti sekolah pada umumnya. Bisa bertemu dengan guru, meski berbeda tempat dan waktu. Diapun juga tertolong mendapat penjelasan dari guru, sehingga mempermudah dia dalam menyelesaikan tugasnya. "Ingin cepat sekolah. Banyak teman. Selain itu, ada penjelasan guru lebih gamblang sehingga mudah menyelesaikan tugas," tuturnya. (*)

(rt/lai/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia