alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Dwi Mawadati, Ibu Rumah Tangga Kreatif

Pakai Teknik Ecopounding, Warna Lebih Alami

28 Juli 2020, 18: 05: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

KREATIF: Dwi Mawadati menunjukkan selembar kain ecoprint dengan motif daun kelor.

KREATIF: Dwi Mawadati menunjukkan selembar kain ecoprint dengan motif daun kelor. (DWI MAWADATI FOR RADAR BLITAR)

SEBAGAI ibu rumah tangga, mengurus rumah beserta isinya adalah suatu kewajiban. Namun, dengan memiliki keterampilan khusus dapat digunakan mengisi waktu luang. Dwi Mawadati salah satunya. Dia memiliki keterampilan membatik dengan metode ecoprint digemari banyak kalangan terutama kalangan pecinta lingkungan.

Tampak seorang wanita menggunakan kerudung berwarna cream membawa selembar kain. Selembar kain putih dengan beberapa motif daun berwarna hijau itu terpampang. Daun kelor atau nama kerennya Moringa oleifera menjadi motif utama dalam kain tersebut.

Dia adalah Dwi Mawadati. Salah seorang ibu rumah tangga tersebut sedang menekuni keterampilan membuat kain dengan aneka corak. Sebenarnya, ada banyak keterampilannya untuk membuat kain polos menjadi barang unik dan memiliki nilai jual. Namun, kali ini metode ecoprint dipilih untuk mengisi corak pada kain-kain polos yang ada di rumahnya. "Suka saja bereksperimen, belajar hal-hal baru isuka," katanya.

Ecoprint merupakan salah satu metode pewarnaan dengan mentransfer warna asli suatu objek pada kain secara langsung. Bahan-bahan alami menjadi pilihan saat membuat kain dengan metode ecoprint. Mulai dari bunga-bunga, daun-daun maupun akar tumbuhan. Ecoprint dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan kain yang proses pewarnaannya dengan pewarna kimia.

Warga asal Desa Kedungbunder, Kecamatan Sutojayan itu menjelaskan, ada beberapa teknik dalam pembuatan kain dengan metode ecoprint. Yakni dengan teknik pounding serta teknik steam. Teknik steam adalah yang paling mudah dan simpel. Sedangkan, teknik pounding lebih memakan waktu dan tenaga. "Teknik pounding itu daunnya atau bahan pewarnanya itu dipukulkan ke medianya (kain, Red), kalau steam itu kain dan pewarnanya dikukus jadi satu. Saya lebih pilih teknik pounding karena lebih baik, bisa dibilang warnanya lebih keluar," tuturnya.

Membutuhkan waktu lima hingga satu minggu lamanya untuk membuat dua lembar kain ecoprint dengan ukuran empat meter. Ya, proses pembuatan ecoprint dengan teknik pounding memang lebih rumit apabila dibandingkan dengan teknik steam. 

Pembuatan ecoprint dengan motif daun kelor misalnya, butuh waktu hingga lima hari. Sebab, daun kelor yang telah didapatkan harus dibersihkan dahulu. Lantas kain yang menjadi media utama dalam pembuatan ecoprint harus melalui tahap mordan atau pelapisan zat pada kain selama dua hari. "Setelah di-mordan baru dikeringkan dulu, baru bisa digunakan untuk teknik pounding," ungkapnya.

Uniknya, dalam teknik pounding menggunakan palu dari kayu untuk mentransfer warna dari daun ke kain. Daun akan diletakkan sesuai pola pada kain, kemudian ditumbuk perlahan menggunakan palu kayu. Hal itulah yang membuat proses ecoprint dengan teknik pounding lebih lama. "Kalau sudah semua selesai tinggal finishing, dengan jahit kain sebagai produk," katanya.

"Saya lebih suka kalau jual barang ready to wear, bukan kain lembaran," kata ibu dua anak itu. Ada alasan tersendiri membuatnya lebih nyaman menjual barang jadi ketimbang barang berupa kain utuh. Orang akan berpikir dua kali saat akan membeli kain dibandingkan membeli barang yang sudah siap digunakan.

"Sementara masih baju dan tas aja produknya, sudah ada yang pesan dari luar daerah ," tandasnya.

Wanita ramah itu menyebutkan, barang buatan yang terbuat dari ecoprint banyak diminati. Tak hanya kalangan ibu-ibu, tetapi kalangan muda- mudi yang sedang gencar dengan aksi peduli lingkungan. Selain itu, barang-barang dari ecoprint dikategorikan sebagai barang unik dan terbatas. "Alhamdulillah masih banyak peminat, walaupun belum maksimal," tuturnya.

Dia mengaku, membuat kain ataupun barang dari ecoprint merupakan usahanya untuk melepas penat di tengah mengurus rumah tangga. Selain itu, masa pandemic membuat rasa bosan semakin tinggi karena harus selalu di rumah. "Ya itung - itung bisa membantu sesama dan bisa memanfaatkan waktu luang saya dengan hal berguna," tandasnya.(*)

(rt/ima/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia