alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Ajak Komunitas dan Pelaku Ekonomi Kreatif Berani Berjejaring

29 Juli 2020, 08: 52: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

SUASANA DISKUSI DARE TO CONNECT: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin ditemani istrinya, Novita Hardini, saat berdiskusi secara daring di Smart Center, Senin (27/7).

SUASANA DISKUSI DARE TO CONNECT: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin ditemani istrinya, Novita Hardini, saat berdiskusi secara daring di Smart Center, Senin (27/7). (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Mochamad Nur Arifin optimistis mem-branding Trenggalek menjadi kabupaten yang memiliki value (nilai, Red) melalui ekonomi kreatif. Ini bisa berhasil jika para pelaku ekonomi kreatif dan para pegiat komunitas berani untuk berjejaring dan saling terhubung. Semangat membangun ekonomi kreatif dan ajakan untuk saling terhubung ini dia beberkan saat mengikuti telekonferensi diskusi Dare to Connect di ruang Smart Center, Senin malam (27/7) kemarin. 

Bupati Arifin ditemani istrinya, Novita Hardini, saat mengikuti diskusi berbasis daring tersebut. Acara ini terhubung secara virtual lewat Zoom Meeting dengan para pegiat komunitas dari berbagai bidang. Serta menghadirkan dua narasumber lainnya, yaitu Koordinator Malang Creative Fussion, Vicky Arief Herinadharma dan Ketua Indonesia Creative Cites Network (ICCN), Fiki Chikara Satari.

Banyak hal yang diungkapkan bupati untuk mengoptimalkan potensi-potensi lokal ekonomi kreatif. Hal itu agar Trenggalek memiliki nilai lebih. Agar ketika orang melihat atau mendengar kata Trenggalek, hanya nilai yang mereka ingat. “Melalui kreativitas, segalanya menjadi mungkin,” tuturnya.

Bagaimana cara Trenggalek bisa memiliki nilai, kata dia, melihat apa keistimewaan Bali, Jogja, Malang, dan sebagainya. Menurut dia, semua kota memiliki keistimewaannya masing-masing, memiliki nyawa dan jiwa. Sesederhananya, cetus dia, nilai lebih itu berawal dari segala aspek kreativitas. “Tiap aktivitas itu punya nilai,” ungkapnya.

Dalam diskusi Dare to Connect, Mochamad Nur Arifin mendapatkan 62 pertanyaan yang bergulir dari para pendaftar yang terhubung secara virtual. Tentu pertanyaan itu terkait dengan potensi ekonomi kreatif di Trenggalek. Namun, akhirnya pertanyaan itu pun terjawab dengan singkat dan padat.

Gus Ipin, sapaan akrab bupati Trenggalek menuturkan, Trenggalek Creative Network (TCN) itu bukan suatu komunitas. Bukan komunitas besar, bukan pula wadah besar. TCN hanya sebuah perekat jejaring. Di sisi lain, banyak orang secara tak sadar sebetulnya sudah tergabung ke dalam komunitas. Baik dari komunitas literasi, film, seni, dan sebagainya.

Bagaimana agar para komunitas itu membentuk sebuah Creative City (kota kreatif, Red), Gus Ipin menyebut dengan cara terkoneksi satu sama lain. “Koneksi utamanya. Sebab, Creative City itu terbentuk dari koneksi antarmanusia, sharing ide, tempat, dan identitas. Jadi, itu sebenarnya jawaban dari semua pertanyaan,” ujarnya.

Gus Ipin menjelaskan, ada empat tahapan connect (koneksi), collaborate (kolaborasi), celebrate (merayakan), dan commerce (perdagangan). Keempat tahapan itu disingkat 4C. Artinya, melalui semua tahap-tahapan tersebut, dia berharap kota Trenggalek bisa lebih hidup. Bisa saling interaksi, menunjukkan karya, kreativitas, dan bisa mendapat hasil dari kreativitasnya sendiri. “Kita ingin semua komunitas kreatif terkoneksi dulu satu sama lain. Setelah itu buat proyek, syukur-syukur bisa berbuah pundi-pundi ekonomi karena ada perdagangan yang terjadi di situ. Yang kemudian kita rayakan bersama-sama,” kata dia.

Tidak ada pihak yang menghalang-halangi untuk berkreativitas, sahut bupati. Menurut dia, konkretnya nanti semua bebas melakukan webinar untuk mengonsep bazar UMKM. Bisa jualan lewat platform (laman) online melalui para infulencer. “Kemudian, koridor-koridor ruang kita bikin. Tetapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan; physical distancing,” tegas dia.

Koordinator Malang Creative Fussion Vicky Arief Herinadharma mengaku, Trenggalek memiliki potensi gunung, pantai, hingga budaya. Menurut dia, potensi itu adalah komplet. Sebab, bahan dasar untuk membangun ekonomi kreatif adalah melalui culture (budaya). Dengan mengolaborasikan budaya-budaya itu, ternyata customer segment di dunia itu bisa menerima. “Realitas di dunia, ternyata culture kita (di Indonesia, Red) cukup kuat di dunia,” ujarnya.

Hebatnya, kata dia, ekonomi kreatif itu dapat terbentuk melalui eksplorasi-eksplorasi budaya yang dimiliki Trenggalek. Menurut dia, salah satu medium yang cocok adalah melalui film. Menggali sebuah ikon budaya sehingga dapat menarik minat kunjung orang datang ke Trenggalek. “Semisal film Laskar Pelangi, ikon sekolah miring itu tidak dihapus hingga kini. Karena sekolah itu menjadi destinasi pariwisata orang luar datang ke Belitung,” ungkapnya.

 Senada juga diungkapkan Ketua Indonesia Creative Cites Network (ICCN), Fiki Chikara Satari. Menurut dia, ada 11 cara jitu dalam membangun ekonomi kreatif. Yakni forum lintas komunitas, komite ekonomi kreatif (ekraf), ekosistem ekraf, dan navigasi pembangunan. Selain itu, desain action, indeks komunitas, command centre, strategi komuniasi dan narasi, city branding management, festival komunitas, serta wirausaha desa dan kota.

“Dari sekian banyak rumus, kota kreatif itu diciptakan dari individu-individu kreatif dan individu-individu kreatif diciptakan dari ruang-ruang kreatif. Jadi bukan sebatas ruang ekologis atau ruang infrastruktur, tapi juga ruang sosial,” tegasnya. (*)

(rt/pur/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia