alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
icon-featured
Hukum & Kriminal

Pembunuh Janda Ngunut Tak Banding

29 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

Pembunuh Janda Ngunut Tak Banding

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Masih ingat kasus pembunuhan Miratun, janda kaya asal Desa/Kecamatan Ngunut pada medio Februari lalu? Ya, kasus yang menyeret Rian Dicky Vebriyanto, 26, sebagai terdakwa sudah memasuki babak akhir. Dimana Pengadilan Negeri (PN) Tulungagung pada Senin (27/6) lalu memvonis terdakwa dengan pidana 18 tahun penjara. Karena secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan menghilangkan nyawa orang. Namun dia memilih menerima putusan itu dan tidak mengajukan banding.

Kendati demikian, vonis tersebut masih lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntutnya 20 tahun penjara. "Ya, lebih ringan kalau melihat pasal yang kami kenakan 339 KUHP dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara. Tapi vonis ini dirasa cukup, kamipun tidak banding," ucap JPU, Anik Partini, kemarin.

Wanita berkacamata ini mengakui selama menjalani persidangan, pria asal asal Jalan Bogenvil No. 9 Perumnas Kalian Asri, Desa Kandangan Barat, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan itu sangat kooperatif. Terdakwa juga menerangkan secara detail bagaimana cara mencuri, membunuh korban mulai awal bertemu, nekat mencekik, hingga membekap serta menggulung korban, Miratun dengan kasur lipat. "Yang meringankannya, karena terdakwa ini tidak berbelit-belit. Dia mengakui semua dan menerangkan uang yang dicurinya itu untuk bersenang-senang ke Bali bersama pacarnya," katanya.

Adapun yang memberatkan yakni selain korban ini sudah lansia, juga sebelum peristiwa pembunuhan, terdakwa telah melakukan aksi tindak pidana pencurian. Kemudian, pada 13 Februari 2020 terdakwa ingin menguasai harta milik korban lagi hingga terjadi aksi pembunuhan. "Dia juga mengakui jika sebelum peristiwa pembunuhan telah mencuri uang dan perhiasan milik korban," tuturnya.

Disinggung apakah aksi pembunuhan yang dilakukan terdakwa ini berencana, Anik menilai aksi nekat terdakwa ini dilakukan secara spontanitas. Karena, ketika dia mengikuti rekontruksi terdakwa, Anik melihat terdakwa ini datang untuk mencuri. Namun karena yang akan dicuri ada di tubuh atau leher korban, maka terdakwa nekat mencekik dan membekap bantal untuk dapat menguasainya. “Itu saya melihat spontan. Dia datang tidak membawa alat-alat untuk membunuh. Pembunuhan dilakukan dengan tangan dan bantal," terangnya.

Wanita ramah ini pun menyebut terdakwa tidak mengajukan banding dan menerima putusan majelis. (lil/rka)

(rt/lai/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia