alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
icon-featured
Blitar
Dua Nakes Terpapar Covid-19

Giliran Puskesmas Wlingi Tutup

Hari Kamis Direncanakan Buka

29 Juli 2020, 11: 30: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

Infografis

Infografis

WLINGI, Radar Blitar – Kembali pelayanan di fasilitas kesehatan terpakas ditutup. Lantaran  dua orang tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Wlingi terkonfirmasi positif korona. Nakes tersebut beberapa waktu lalu terpapar Covid-19 sebelum pasien melakukan rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Blitar Krisna Yekti mengatakan, lockdown atau penutupan sementara pelayanan di puskesmas wlingi berlaku selama tiga hari. Terhitung sejak kemarin (28/7) hingga besok (30/7). Selama penutupan, dilakukan general cleaning di tempat layanan kesehatan tersebut. “Terpaksa tutup sementara karena ada nakes yang positif korona,” katanya.

Hal itu bermula dari pelayanan yang diberikan Puskesmas Wlingi kepada seorang warga beberapa waktu lalu. Karena kasusnya tidak mungkin ditangani di tingkat puskesmas, Puksemas Wlingi berkordinasi dengan RSUD Ngudi Waluyo. Namun sebelum dirujuk pasien muntah, sehingga harus mendapatkan penanganan nakes. Tercatat ada enam orang nakes yang melakukan penananganan sebelum dikirim ke rumah sakit pelat merah ini. “Senin (27/7) diketahui bahwa pasien yang dirujuk tersebut positif korona, sehingga kami langsung melakukan pemeriksaan terhadap kontak erat,” ujarnya.

Enam orang nakes yang sempat memberikan pelayanan kepada pasien positif ini tak luput dari swab test. Sementara diketahui ada dua orang nakes yang terkonfirmasi positif.

Dia mengaku, sudah melakukan tracing terhadap mereka yang sempat kontak dengan nakes yang memberikan pelayanan maupun pasien yang terkonfirmasi positif. Mulai dari personel yang ada di Puskesmas Wlingi, keluarga nakes dan kontak erat pasien. Kurang lebih ada sekitar 40 orang yang menjadi sasaran rapid test. Dari jumlah itu ada sekitar 15 orang yang reaktif, dan harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab.

infografis

infografis

Dia mengaku belum mengetahui pemeriksaan swab terhadap mereka yang reaktif. Begitu juga dengan kontak erat dari keluarga nakes yang positif korona. Alasanya karena laboratorium rujukan masih penuh alias banyak sampel yang antre. Sehinga dikhawatirkan sampel tersebut kedaluarsa atau invalid jika dipaksa dikirim sekarang. “Kan sampel itu ada masanya, kalau antre terlalu lama ya invalid. Sebagai alternatif, mereka yang kontak erat dengan pasien positif korona diminta untuk isolasi mandiri,” katanya.

Dia mengakui, Kabupaten Blitar memang sudah memiliki perangkat  polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi korona. Hanya saja, sarana tersebut memiliki kapasitas terbatas. Apalagi, nyaris setiap hari di internal rumah sakit juga menggunakan sarana itu untuk tracking kondisi kesehatan nakes maupun pasien positif yang ada di ruang isolasi. “Jadi untuk kontak erat Wlingi (nakes, Red) terus warga Desa Krisik, Gandusari, belum diambil swab-nya, sementara isolasi mandiri,” tuturnya. (*)

(rt/muh/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia