alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Usaha Eko Putranto

Beri Edukasi Hingga Meluruskan Perklenikan

Melestarikan Keris yang Kini Mulai Pudar

29 Juli 2020, 18: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

Melestarikan Keris yang Kini Mulai Pudar

Melestarikan Keris yang Kini Mulai Pudar (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Banyak orang yang memahami keris hanya sebagai benda klenik, hingga melupakan bahwa sejatinya keris merupakan wujud dari nilai-nilai universal. Itulah yang ingin dilakukan Eko Putranto, meluruskan dan memunculkan kembali rasa cinta kepada budaya leluhur. Maka dari itu berbagai upaya telah dilakukannya, mulai dari membuat pameran keris, hingga mengenalkan keris hingga ke mancanegara melalui cipta karyanya.

Sore itu terlihat ratusan keris yang berada disetiap sudut rumah yang terpajang dengan rapi. Mulai dari keris dengan ukuran kecil hingga keris berukuran besar, semua berkumpul menjadi satu. Tak beberapa lama di dalam rumah tersebut, mulai tercium aroma yang khas keluar dari keris tersebut. Benar, semua itu adalah koleksi milik Eko Putranto, yang bertempat tinggal di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru.

Empu Eko, -sapaan akrabnya, merupakan salah satu orang di Tulungagung, yang sampai sekarang berusaha melesatarikan kebudayaan keris yang kini mulai pudar dari ibu pertiwi. Kecintaannya dengan keris memang sudah terlihat sejak masih kanak-kanak. Ketika masih kanak-kanak ia sering membantu kakeknya menjamasi keris. Setelah itu di umur mudanya ia juga tidak bisa terlepas dari keris, karena pada saat itu ia juga mengikuti bela diri. Menginjak dewasa akhirnya ia merantau ke negeri jiran. Di tempat kerja, ternyata pemilik rumah memiliki keris yang tidak terawat. “Ketika saya tanya, ternyata ia tidak bisa membersihkan keris. Akhirnya saya memutuskan untuk membersihkan keris tersebut. Setelah saya bersihkan, kemudian saya disuruh untuk membersihkan keris milik saudaranya,” tuturnya.

Setelah 13 tahun merantau ke negeri jiran, akhirnya Eko memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sesampainya di rumah, ia melihat banyak orang-orang desa yang melarung keris di sungai dan di laut. Hal itu membuatnya miris, akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi salah satu dukun yang melakukan larung tersebut. Pada saat itu, ia berusa memberikan pemahaman kepada dukun tersebut, bahwa pelarungan itu tersebut akan membuat keris langka. Dan akibatnya anak-anak saat ini tidak akan mengetahu keris tersebut dan akhrinya melupakan budaya keris. “Saya berikan pemahaman kepada dukun itu, bahwa yang dilarung itu cukup energinya saja, jangan fisiknya. Nanti fisiknya biar saya rawat dan simpan, agar kelak anak-anak kita masih mengetahui bahwa kita memiliki keris sebagai budaya,” ujar pria enam bersaudara itu.

Pria berkumis tipis itu menjelaskan, dari situlah ia mulai merawat dan mengoleksi keris. Kini ia sudah memiliki sekitar 500 keris dengan 300 jenisnya. Bahakan, ia memiliki keris pada era Singasari dan Panjalu. Dari banyaknya koleksi yang dimilikinya ternyata menarik minat banyak orang, mulai dari dalam negeri hingga luar negeri. Eko mengaku, pernah melayani pembeli dari Suriname. “Banyaknya minat terhadap keris menandakan bahwa, mulai banyak orang yang kembali mencintai keris,” jelasnya.

Pria asli Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat itu menambahkan, hal ini membuatnya harus berpikir bagaimana keris tersebut tetap terjaga dan orang-orang bisa memiliki keris. Akhirnya pada 2012 ia mulai membuat keris. Dengan tujuan untuk menjaga keris yang sudah memiliki umur yang lama dan menjual keris yang masih baru. “Jadi saya itu menjual keris dari cipta karya saya. Kalau keris yang bersejarah akan saya simpan, agar tidak hilang,” tambahnya.

Untuk pembuatan keris memerlukan waktu yang bervariatif, bergantung tingkat kesulitannya. Jika kerisnya sederhana hanya membutuhkan waktu satu minggu, sedangkan jika kerisnya sulit ia bisa memakan waktu hingga tiga bulan. Selain itu dalam membuat keris juga harus dibedakan berdasarkan kegunaannya, karena keris untuk suvenir dan keris untuk pusaka itu tidak bisa disamakan di dalam proses pembuatannya. Kalau pembuatan keris pusaka harus mengikuti sesuai pakemnya. Sedangkan untuk keris suvenir tidak harus sesuai pakem.

“Proses pembuatan keris itu harus sesuai pakem kawruh padhuwungan mulai dari pemilihan bahan baku, penentuan jenisnya hingga menerapkan lakunya. Ada beberapa laku yang harus dilakukan, seperti berpuasa, berbuka dengan pala kependhem, pala kesimpar, dan pala gumantung. Serta melihat weton pemesan dan menggunakan pakaian dari kain putih pada saat pembuatan. Karena kami tidak hanya menjual keris saja, melainkan kami juga memberikan video proses pembuatan dan tulisan dari filosofis keris tersebut,” paparnya.

Namun bagi Eko yang terpenting di dalam keris adalah nilai-nilai yang terkandung. Untuk memahami itu semua ia sudah menggali pengetahuan dari berbagai sumber mulai dari dukun, pada empu hingga melanjutkan sekolah di Prodi Keris dan Senjata Tradisional ISI Surakarta agar mendapatkan ilmu mengenai keris. Karena banyak orang yang salah memahami mengenai keris. Keris sebagai pusaka itu adalah menginternalisasi nilai-nilai keris ke dalam diri dan selanjutnya diterapkan dalam laku hidupnya. “Jika hal ini dipahami oleh orang-orang khususnya pemuda, maka mereka bisa memaknai hidup mereka. Dan yang terpenting adalah menciptakan generasi yang bangga akan kebudayaannya sendiri,” harapnya.

Maka dari itu, mulai dari pameran keris, melakukan edukasi telah dilakoninya untuk menumbuhkan rasa cinta kepada keris. Ia memiliki suatu mimpi untuk membuat sebuah galeri keris di Tulungagung untuk mengedukasi pemuda. Bahkan selama pandemi Covid-19 ini, tidak membuatnya berhenti untuk nguri-uri keris. “Selama lima bulan ini saya tidak ada pemasukan. Tapi hal itu tidak membuat saya menyerah untuk nguri-uri keris, khususnya kepada generasi mendatang,” pungkasnya.(*)

(rt/mam/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia