alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek

Kuota RPH Ditambah Dua Kali Lipat

29 Juli 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

BAKAL DITAMBAH KUOTA : Petugas RPH yang sedang mengecek gedung pemotongan hewan beberapa waktu lalu

BAKAL DITAMBAH KUOTA : Petugas RPH yang sedang mengecek gedung pemotongan hewan beberapa waktu lalu (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek - Kuota penjagalan hewan di rumah pemotongan hewan (RPH) Dinas Pertanian Pangan (Dispertapan) dan Peternakan akan ditambah saat Idul Adha 1441 Hijriah. Nantinya, kuota akan ditingkatkan dua kali lipat dari biasanya. 

Kepala UPT Pusat Pembibitan Ternak (PPT) dan RPH Dispertapan dan Peternakan Trenggalek drh Sigit Agus Windarto membenarkan, biasanya kuota pemotongan hewan di RPH hanya sebatas empat ekor sapi. Yang dilakukan secara bersamaan. Namun ketika Idul Adha 1441 H nanti, pemotongan hewan bisa sampai delapan kali. "Ruangan untuk memotong delapan ekor sapi itu masih cukup di sini (RPH, Red)," ungkapnya.

Sigit menyebut, pada hari-hari normal biasanya pemotongan dilakukan dini hari agar kondisi daging masih segar saat dijual di pasar. Namun saat Idul Adha, nantinya pemotongan itu bisa dilakukan pagi hari. Selain itu, proses pemotongan juga secara bergiliran. Rata-rata durasi pemotongan butuh waktu sekitar dua jam. “Semua bisa motong hewan di sini, tapi tetap melalui pendaftaran lebih dulu,” ujarnya. 

Dia tak memungkiri, masih ada masyarakat yang khawatir dengan proses pemotongan hewan secara halal atau tidak. Sigit mengaku sudah ada petugas juru sembelih halal (JULEHA) dan petugas-petugas itu bersertifikat. “Jadi, dipastikan pemotongannya secara halal,” tegasnya.

Disinggung terkait kelengkapan alat pelindung diri (APD), Sigit mengatakan, para petugas sudah dilengkapi masker, handscoon, dan apron (celemek, Red) ketika memotong hewan ternak. Sehingga APD tersebut berguna untuk mengantisipasi paparan virus korona. “Petugas kita lengkapi APD agar virus ini tidak menyebar ke mana-mana,” ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, sebelum hewan kurban itu dipotong, perlu pengecekan kesehatan dan produktivitasnya. Tujuannya, ketika dikonsumsi masyarakat, bisa aman atau terbebas dari penyakit. Selain itu, sapi-sapi betina yang produktif juga dilarang dipotong. “Ada petugas yang bagian memeriksa organ hati sapi, cacing, parasit-parasit, paru-paru, atau mungkin ada TBC. Kalau bukan petugas bersertifikat, tentu mereka tidak akan tahu,” cetus dia. (*)

 

(rt/pur/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia