alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Mengenal Lebih Dekat

Pelampiasan Hobi Berburu, Kedepankan Kelestarian Ekosistem

Komunitas Paser Mania Tulungagung (PMT)

30 Juli 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

PANDANGAN TAJAM: Anggota PMT dan penghobi sniper ikan memperhatikan aliran air yang bersumber dari Waduk Wonorejo pada akhir Ramadan lalu.

PANDANGAN TAJAM: Anggota PMT dan penghobi sniper ikan memperhatikan aliran air yang bersumber dari Waduk Wonorejo pada akhir Ramadan lalu. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Banyak komunitas yang ditemukan di Kota Marmer. Namun jika mendengar Paser Mania Tulungagung (PMT) tentu sempat terpikir jika itu penggemar panahan. Tak sepenuhnya salah, tetapi mereka hanya memanah ikan dengan senapan angin modifikasi.

Cara menangkap ikan paling mudah adalah dengan memancing atau menjala. Walaupun semua tetap untung-untungan. Jika nasib bagus, ikan dengan mudah didapat. Tetapi kalau sedang apes, ditunggui sampai berhari-hari pun umpan tidak akan disenggol.

Namun pernahkan anda berpikir untuk menggunakan metode lain seperti yang dilakoni komunitas Paser Mania Tulungagung (PMT? Ya, mereka tidak menggunakan senapan angin yang diberi anak panah kecil sebagai pengganti kail. Meskipun sekilas terlihat gampang, perlu kecermatan agar tepat sasaran.

Muhammad Badroni, salah satu anggota PMT mengatakan, keberadaan komunitas ini memang untuk mewadahi para pemburu ikan dengan metode yang lain dari biasanya ini. Terlebih penggunaan senapan angin untuk berburu hewan air, sekaligus untuk meminimalisasi perburuan hewan darat yang mayoritas dilindungi. “Keberadaan PMT ini pun sekaligus untuk menyuarakan perlindungan pada hewan darat yang dilindungi. Apalagi daur hidup mereka tidak secepat ikan,” katanya saat ditemui di kediamannya di Perumahan Citra Damai, Desa Tiudan, Kecamatan Gondang, beberapa waktu lalu.

Roni, sapaan akrabnya menambahkan, sebenarnya jika ditelaah secara lebih jauh, apa yang dilakoni PMT ini merupakan gabungan dari beberapa teknik perburuan. Apalagi peranti utama yang mereka gunakan adalah senapan angin yang biasanya digunakan untuk berburu. Namun, senjata ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan memberi tombak yang diikat senar sebagai pengganti peluru. “Teknisnya sebenarnya sama. Namun kami hanya fokus pada berburu ikan yang berukuran besar,” tambahnya.

Ayah dua putra ini mengakui, keberadaan para anggota PMT yang menenteng senjata acapkali membuat orang bertanya-tanya. Namun begitu dijelaskan, semua baru ngeh mengenai apa yang diburu. “Dalam komunitas ini pun juga diberi rambu-rambu tentang kelestarian hewan air. Makanya yang diburu ikan berukuran besar, lagipula menembak ikan berukuran kecil pun hampir mustahil dilakukan. Toh, ikan kecil yang dibiarkan hidup nantinya bisa besar dan berkembang biak,” ungkapnya sambil tertawa.

Untuk trik berburu pun sama dengan berburu hewan kebanyakan. Hanya saja, mereka harus jeli melihat keberadaan ikan sembari memperkirakan sudut tembakan. Alasannya, ikan yang terlihat dekat justru sering meleset, berbeda dengan ikan yang jaraknya cukup jauh malah lebih gampang dikenai. “Otak pun jadi berpikir untuk menentukan sudut tembakan. Meleset sedikit, tentu tidak akan kena,” ujarnya.

Untuk melihat keberadaan ikan di dalam air, mereka harus membekali diri dengan kacamata peredam cahaya. Tanpa benda ini, mereka cukup sulit menentukan keberadaan ikan. Bahkan gara-gara trik ini, mereka pernah disemantani anggota TNI yang kebetulan berada di sekitar lokasi perburuan. “Waktu itu kami di pinka Ngrowo. Eh tak tahunya ada tentara yang memperhatikan. Mereka pun nggumun kok kami bisa begitu titis,” akunya lalu tersenyum simpul.

Hal senada diungkapkan Eko Setiawan, anggota PMT lainnya. Menurut dia, berburu ikan besar dengan senapan bertombak menyimpan nilai ekonomis. Karena ikan yang didapat bukan yang kecil, tentu bisa laku terjual jika si penembak membutuhkan uang. Kendati demikian, mereka pun tetap berupaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan di sekitar Tulungagung. “Kami pun beberapa kali menebar benih ikan di beberapa sungai. Diharapkan nantinya bisa besar dan berkembang biak lebih banyak,” terangnya.

Pemuda berkulit sawo matang ini pun mengutarakan, seluruh anggota komunitas diwanti-wanti untuk tidak sembarangan menembak. Jika di suatu perairan ada rambu larangan, mereka harus mematuhi dan mencari lokasi lain.

Pemuda asal Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang ini pun tak menampik berburu ikan dengan teknik ini memang selalu ada suka duka yang menyertai. Contohnya, mereka harus berjudi dengan cuaca yang tidak menentu. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk berburu sembari berkumpul dengan rekan sekegemaran. “Yang penting bisa berkumpul. Syukur-syukur bisa mendapat ikan dalam jumlah besar. Apalagi ada kalanya kami berburu ikan di pesisir,” tandasnya. (*)

(rt/rak/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia