alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pengalaman Zaifudin

Pecinta Alam, Konsisten Bersihkan Sungai dari Sampah Plastik

Pengelola Wisata Edukasi Gupili

30 Juli 2020, 16: 05: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

TELATEN: Zaifudin ketika menikmati suasana alam di area wisata Gupili, Senin (27/7).

TELATEN: Zaifudin ketika menikmati suasana alam di area wisata Gupili, Senin (27/7). (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Bermula dari keprihatinan Zaifudin dan rekan-rekan sekomunitasnya terhadap pencemaran sungai akibat limbah plastik, mereka berjuang untuk mencintai alam. Banyak lika-liku yang sudah mereka lalui. Kini mereka bisa mengurangi limbah plastik di sungai Desa Slawe, Kecamatan Watulimo dan menjadikannya sebagai destinasi wisata yang dinamai gubug pinggir kali (Gupili), meskipun mustahil bisa membuat sungai terbebas dari sampah plastik.

SUASANA alam di wisata gubuk pinggir kali (Gupali), Desa Slawe, Kecamatan Watulimo begitu tenang pada Senin kemarin (27/7). Gemericik air sungai, pepohonan rimbun, dan embusan angin mengobati segala kepenatan. Pengelola wisata, Zaifudin, duduk di gubuk yang masih gandeng dengan rumahnya. Ditemani secangkir kopi hitam, menghadap pepohonan yang rindang. 

Zaifudin enggan membuka Gupili untuk umum meski pemerintah sudah memperbolehkan tempat wisata dibuka. Sebab, kata dia, tidak hanya soal pandemi Korona, tapi kesiapan fasilitas di wisata Gupili. Masih ada yang perlu direnovasi, termasuk penyediaan toilet yang layak.

AKTIF IKUTI GIAT BERSIH-BERSIH SAMPAH PLASTIK

AKTIF IKUTI GIAT BERSIH-BERSIH SAMPAH PLASTIK (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Luas kawasan wisata Gupili mencapai 1 hektare. Belum semua dikelola, masih sekitar 35 persen. Sementara bagian-bagian yang sudah dikelola itu ada delapan titik glamping (tempat khusus untuk mendirikan tenda, Red) dan spot selfie. Ada juga bendungan kecil, tapi lantaran musim hujan mulai habis, intensitas air sungai pun ikut berkurang.

Zaifudin mengaku, kondisi sungai di kawasan wisata Gupili dulu banyak sampah plastik seperti popok bayi, kemasan jajan, dan sampah plastik rumah tangga lainnya. Dia tidak menghitung sudah berapa banyak sampah plastik yang mereka bersihkan. “Kesannya dulu kalau melihat sungai, pasti sampah plastik yang terlihat,” ungkapnya sembari menyeduh kopi. Kini kondisi sungai di kawasan wisata itu banyak mengalami perubahan. Nyaris tak ditemui sampah plastik. Kalaupun ada, yaitu plastik-plastik kecil yang terbawa aliran sungai. 

Pria ramah itu berharap, wisata Gupili menjadi satu wisata yang bisa menjadi percontohan bahwa alam adalah cerminan manusia. Saat manusia berperilaku buruk, alam juga berdampak buruk. Namun ketika dijaga dan dicintai, alam pun juga memberikan dampak yang baik. “Inilah perbedaan penikmat alam dan pecinta alam. Penikmat hanya menikmati, ketika rusak tak memperbaiki. Kalau pecinta, mereka setulus hati memperbaiki yang rusak,” ungkapnya.

Musim hujan lalu, ketika intensitas hujan masih tinggi. Air mengisi bendungan kecil. Banyak spesies-spesies ikan yang mulai berkembang populasinya, seperti ikan koi. Bahkan juga ada udang bongkok. Pak Din, sapaan Zaifudin mengatakan, habitat mereka masih liar. “Ikan koi saya ambil satu, berukuran satu lengan (orang dewasa, Red) untuk ditaruh di kolam,” ujarnya.

Selama hampir tiga tahun Gupili berdiri. Zaifudin ditemani 20 rekannya untuk mengelola kawasan wisata. Namun, pergerakan pecinta sungai itu tetap berlanjut. Bahkan, belasan titik sungai yang mereka sudah bersihkan. Mulai dari sungai di Desa Slawe, Margomulyo, Tasikmadu, Kelurahan Trenggalek, hingga Gandusari. “Kami bergerak tidak atas perintah, tapi dari keprihatinan kami dengan sampah plastik mencemari sungai,” kata dia.

Bapak dengan dua putra itu mengaku banyak pengalaman yang dia dapat sebagai agen aktivis pecinta lingkungan. Sering kali dia dan rekan-rekannya dicemooh, punya kegiatan yang kurang penting. Selain itu, mereka juga sering dilempari sampah dari atas jembatan ketika mereka sedang memungut sampah di bawahnya. “Ada yang hampir kena (bungkusan sampah, Red),” ungkapnya.

Tak satu pun dari mereka yang menegur orang-orang yang buang sampah sembarangan. Sebab, teguran itu justru membuat yang bersangkutan naik pitam. Pak Din dan rekan-rekannya pun diam saja. Mereka hanya ingin menumbuhkan kesadaran cinta akan lingkungan dari dirinya sendiri, tanpa paksaan dari orang lain. Untuk itu, apa yang mereka perjuangkan adalah bukti konkret atau memberikan contoh nyata bagaimana mencintai lingkungan. “Kan begini, semua manusia itu diciptakan untuk berpikir. Sebenarnya mereka sudah tahu akibat dari buang sampah sembarangan tanpa perlu diperintah. Tinggal kesadaran dirinya,” cetus dia.

Pak Din menambahkan, ketika manusia mau membuka sejarah, sungai adalah pusat peradaban. Karena air adalah sumber kehidupan dan benda-benda bersejarah pun banyak yang ditemukan di pinggir-pinggir sungai. (*)

(rt/pur/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia