alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Trenggalek
icon featured
Trenggalek
Mengalami Perubahan Fisik dan Bau

Diduga Sumur Warga Juga Tercemar Limbah

01 Agustus 2020, 08: 25: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

BAU ANYIR : Salah satu warga yang sedang mencium bau sumur. kini sumur tersebut sudah tidak bisa dimanfaatksn lagi.

BAU ANYIR : Salah satu warga yang sedang mencium bau sumur. kini sumur tersebut sudah tidak bisa dimanfaatksn lagi. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

KOTA, Radar Trenggalek -

Selain limbah dari pemindangan ikan menyebabkan pencemaran sungai, diduga limbah juga mencemari sumur warga. Akibatnya, air sumur mengalami perubahan fisik. Yang membuat sumur tak lagi bisa dimanfaatkan warga. 

Ketua Aktivis Jaringan Aksi Masyarakat untuk Budaya dan Ekologi (Jambe) Joko Suroso mengaku, sedikitnya ada sembilan sumur warga yang diduga tercemar limbah dari pemindangan ikan. Menurut dia, ada yang mengalami perubahan fisik, dari semula jernih menjadi kekuning-kuningan dan keruh. “Ada juga sumur yang sampai mengeluarkan bau tak sedap,” ujar warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo itu. 

BAKTERI EKOLI: Seorang petugas sedang menunjukkan kandungan bakteri ekoli (bintik-bintik hijau, Red) di dalam air.

BAKTERI EKOLI: Seorang petugas sedang menunjukkan kandungan bakteri ekoli (bintik-bintik hijau, Red) di dalam air. (HENNY SURYA AKBAR PURNA PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Sumur-sumur yang tercemar, lanjut Joko, ada yang masih digunakan dan ada yang tidak. Dia mengaku, sumur yang masih digunakan, yakni air yang kadang berubah warna menjadi kekuning-kuningan. “Digunakan tidak untuk konsumsi, tapi untuk mandi,” ujarnya. 

Sementara Warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Watulimo Roji mengaku, sudah empat tahun lalu tidak lagi menggunakan sumurnya untuk kebutuhan konsumsi dan mandi. Penyebabnya, sumur itu mengeluarkan bau tidak sedap. Dia pun khawatir, sumur tersebut justru menimbulkan penyakit ketika dimanfaatkan. “Berubah hitam-keruh dan baunya anyir,” ujarnya. Selain itu, untuk kebutuhan air konsumsi, dia beralih mengambil air dari pam. 

Warga lainnya Ardi mengaku, air sumurnya juga kadang berubah warna kekuning-kuningan, tapi tidak bau. Perubahan warga biasa terjadi ketika volume air sungai tinggi. Remaja itu pun berinisiatif untuk men-diesel sumur secara berkala. “Setidaknya sebulan dua kali di-diesel, baru air bisa jernih. Tidak berwarna kuning lagi,” ujarnya. Dia menambahkan, sumur tersebut masih digunakan, meski hanya untuk kebutuhan mandi. 

Sementara itu, Petugas Pengawas Lingkungan Puskesmas Slawe Joko Setiono mengaku, belum bisa menemukan korelasi apakah sumur-sumur warga itu akibat tercemar dari limbah pemindangan. Namun secara teori, kata dia, radius pencemaran limbah mencapai kedalaman 3 meter (vertikal, Red), sedangkan mampu mencapai 11 meter secara horizontal. “Radius itu perlu dilakukan pemeriksaan, nanti hasilnya bisa dianalisa,” tegasnya.

Dia mengaku, sudah mengambil tiga sampel baku mutu air yang digunakan para pemindangan di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo. Hasilnya, hanya satu pemindangan yang memenuhi baku mutu air. Indikatornya, baku mutu air itu menunjukkan nol bakteri ekoli dan nol kolifom. “Namun dua sisanya (pemindangan, Red) tidak memenuhi syarat,” kata dia, 

Dalam aturannya, lanjut dia, baku mutu air yang diperbolehkan adalah ketika kandungan air menunjukkan nol bakteri ekoli dan kolifom maksimal 50. Dalam temuannya, baku mutu air untuk kedua pemindangan, keduanya menunjukkan terdapat bakteri ekoli. “Jadi dianggap tidak memenuhi syarat,” ungkapnya. (*)

(rt/pur/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia