alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Pengalaman Suyitno

Tak Lelah Sosialisasikan Daging yang Layak Konsumsi untuk Masyarakat

Petugas Keurmaster di UPT PPT dan RPH

01 Agustus 2020, 18: 05: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

MENGIDENTIFIKASI PENYAKIT: Suyitno saat mengecek kelayakan daging di RPH kemarin (31/7)

MENGIDENTIFIKASI PENYAKIT: Suyitno saat mengecek kelayakan daging di RPH kemarin (31/7) (HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA/RADAR TRENGGALEK)

Sebelas tahun bergelut di bidang Keurmaster di Dinas Pertanian Pangan (Dispertapan) dan Peternakan Trenggalek, tak terhitung lagi berapa banyak Suyitno memberikan wawasan mengenai postmortem dan antemortem kepada masyarakat. Selain sebagai kewajiban profesi, dia menyukai apa yang digelutinya.

AKTIVITAS pemotongan hewan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) terlihat sibuk semenjak dini hari, demi mengejar pasar. Sehingga membuat Suyitno acapkali begadang, mendampingi praktik penjagalan hewan.

Dia adalah petugas keurmaster yaitu orang yang memeriksa kualitas pada daging yang hendak dikonsumsi manusia. Pengumpulan data setelah hewan disembelih ini disebut postmortem. Usai hewan kurban dipotong, Suyitno menyisihkan beberapa organ yaitu hati, paru-paru, dan ginjal. Pasalnya, ketiga organ itu sering terjangkit penyakit. “Seperti cacing hati, gejala pneumonia di paru-paru,” ujarnya. 

Sebelas tahun, Yitno -sapaan akrabnya- berhadapan langsung dengan berbagai tipikal masyarakat (penjagal, Red). Ada yang tak mau tahu, ada juga yang bisa mengerti. Bahwa ada penyakit-penyakit hewan yang mengandung zoonosis (penyakit hewan yang dapat menular ke manusia, Red). Sehingga, organ yang terjangkit itu harus dibuang, tidak boleh dikonsumsi manusia. 

Semisal, kata dia, penyakit zoonosis seperti cacing hati. Cacing itu biasa menjangkit organ hati hewan. Cacing itu tak mati walau direbus dengan air yang mendidih. Dan, lebih sulit lagi untuk mematikan telur-telurnya. Untuk itu, menurut Yitno, pemahaman masyarakat mengenai penyakit-penyakit zoonosis itu penting.

Di tengah proses pemotongan hewan. Yitno beberapa kali menyelipkan wawasan terkait keurmaster. Semisal, saat dia melarang para penjagal yang merokok di dalam RPH, agar daging lebih hiegenis. Selain itu, ketika mengambil beberapa organ hewan. Bapak dengan dua anak itu memberikan edukasi, ciri-ciri organ yang terjangkit penyakit. “Kebanyakan kasus cacing hati dan radang paru-paru (pneumonia, Red). Cacing hati itu bisa muncul, ketika akibat pola makan hewan yang kurang bersih,” kata dia. 

Selain postmortem, Yitno juga menjelaskan terkait antemortem. Yakni, prosedur untuk hewan ternak sebelum disembelih. Semisal, memberikan ruang kepada hewan ternak minimal 12 jam, sebelum masuk proses penyembelihan. Artinya, hewan kurban jangan langsung disembelih usai turun dari kendaraan. “Tujuannya, agar hewan tidak stress. Cara mengetahui, yakni ketika membuka paru-paru hewan, terdapat bercak-bercak darah atau tidak,” ujarnya. (*)

(rt/pur/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia