alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Mengenal Radhite Raras Moro

Belajar Otodidak, Pernah Kirim Karya ke Jepang

Perajin Kostum Jaranan

01 Agustus 2020, 18: 10: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

TELATEN: Radhite Raras Moro sedang menyelesaikan pesanan kostum jaranan.

TELATEN: Radhite Raras Moro sedang menyelesaikan pesanan kostum jaranan. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Kesenian tradisional lambat laut mulai ditinggalkan generasi muda. Kehadiran seni modern membuat tradisi leluhur kerap dilupakan. Namun dengan tangan kreatif, Radhite Raras Moro membuatnya kembali lestari. Terutama kesenian jaranan. Itu karena pria asal Desa Bulusari, Kecamatan Kedungwaru, itu mencoba mengkreasikan kostum jaranan lebih berwarna-warni sesuai gaya masa kini.

Pandemi Covid-19 membuat sejumlah pagelaran seni tradisi ditiadakan. Lantas membuat para seniman kehilangan pendapatan. Itu dimulai Maret hingga hari ini. Namun, tidak menyurutkan semangat orang yang bergelut dunia seni berkarya.

Radhite Raras Moro misalnya. Pria asal Desa Bulusari, Kecamatan Kedungwaru ini tetap berkarya. Bahkan punya banyak waktu untuk produktif. Apalagi berkesempatan fokus dengan usaha kostum jaranan yang telah dibangunnya sejak empat tahun lalu.

Kesibukannya dia tunjukkan ketika Koran ini bertandang di rumahnya kemarin (31/7). Tampak Radhit, sapaan akrab Radhite Raras Moro, ini tengah duduk bersila sembari fokus menyulam payet di atas meja yang beralas kain warna hijau. Tangannya cukup cekatan ketika memasukkan payet berukuran kecil ke dalam jarum. Kemudian dia tusukkan jarum tersebut ke kain yang telah dia pola. Agar payet melekat, dia tarik tali hingga kencang. Cara memayet itu dia ulangi hingga membentuk pola hiasan bunga.

Sembari menyelesaikan pesanan kostum jaranan, Radhit bercerita jika seni tradisi sudah dia kenal sejak kecil. Dia mengenalnya dari buyut, kakek, hingga ayahnya. Bahkan, sekarang di rumahnya berdiri sanggar tari. Namun dalam dunia seni itu, Radhit lebih suka berada di balik layar. Membuat kostum dan properti yang dibutuhkan oleh sang penari. "Kalau ditanya bisa menari, jawabnya bisa. Karena dulu masih kecil juga belajar. Tapi untuk sekarang ini lebih mantapnya di balik layar," katanya.

Kostum-kostum yang dibuatnya dipajang di etalase rumahnya. Semuanya merupakan hasil dari kreasi Radhit. Kostum dengan payet warna-warni jadi ciri khasnya. Warna-warni ini Radhit tunjukkan bukan tanpa alasan, melainkan memang ingin menunjukkan penampilan seorang penari jaranan yang lebih fresh dan menarik. Serta mengubah image jaranan yang identik dengan kesenian orang tua menjadi sebuah tradisi yang digemari anak muda-muda. "Lihat sekarang, penarinya cantik-cantik dan ganteng. Kostumnya juga beda, lebih menarik dan ceria sehingga banyak disukai kalangan muda," terangnya.

Radhit mengaku mulai serius menggeluti usaha kostum jaranan ini setelah lulus SMA. Ketika itu, ada permintaan ayahnya untuk membuatkan kostum jaranan. Ayahnya tahu kalau Radhit hobi desain baju. Hobi tersebut bahkan pernah membawa Radhit pernah juara I desain kostum daur ulang se-eks Karesidenan Kediri yang digelar Jawa Pos Radar Tulungagung pada 2015 lalu. "Awalnya itu dipaksa ayah buat kostum untuk grup jaranannya. Lama-lama kok enjoy, suka sesuai passion dan menghasilkan. Akhirnya memutuskan melanjutkan sampai sekarang," katanya.

Kostum karya Radhit yang warna-warni sempat menuai pro-kontra. Bahkan dibilang kostum aneh, mengingat udheng (ikat kepala) dia kreasikan. Namun, ejekan itu malah membuat namanya melejit dan menarik perhatian grup jaranan lain. "Iya, katanya kostum saya aneh. Banyak omongan di luar sana. Tapi itu tidak menyurutkan saya untuk berkarya. Karena menurut saya, tari saja bisa dikreasikan, kenapa kostum tidak," terangnya.

Setelah setahun merintis, tepat pada 2017 permintaan kostum dia melejit. Apalagi banyak pentas seni serta festival jaranan. Sehingga permintaan terus meningkat. Bahkan sekarang permintaan dua set atau sekitar 12 potong. Untuk memenuhi permintaan itu, Radhit sekarang dibantu enam ibu rumah tangga sekitarnya.

"Kalau saya saja tidak cukup waktunya. Karena satu set atau enam potong kostum baju itu butuh waktu kurang lebih sebulan," terangnya.

Pemasarannya, kata Radhit, kebanyakan getok tular dari seniman ke seniman lain. Namun, dia juga mencoba memasarkan lebih jauh melalui media sosial (medsos) seperti Facebook. Rata-rata pemesan kostum dari organisasi atau lembaga seperti SD, SMP, dan SMA/SMK yang memiliki grup jaranan atau reog. Ada juga yang umum.

"Saya pernah kirim Surabaya, Blitar, Kediri, Kalimantan, Riau, Jambi, bahkan ke luar negeri seperti Jepang. Mereka rata-rata orang Jawa yang membuka grup jaranan di sana," terangnya.

Disinggung siapa yang mengajari membuat kostum tersebut, Radhit mengaku belajar otodidak. Dia mencari referensi di internet. Kemudian dia kembangkan sendiri. Semua menurut Radhit mudah, mengingat dia juga memiliki ketertarikan dunia fashion. Sehingga menambah penghasilan selain produksi juga menyewakan. "Biasanya penyewaan kostum itu juga harus pintar rias. Mau nggak mau saya juga belajar. Menurut saya, tidak ada salahnya cowok belajar merias, banyak kok make up artist cowok. Dan alhamdulillah, beberapa kali ikut lomba juara rias dan busana terbaik," terangnya bahagia.

Namun, pandemi ini membuat usahanya tidak berjalan mulus. Penyewaan kostum sepi lantaran tidak ada panggung. Namun, sedikit masih ada pesanan meski jumlahnya tidak banyak. "Ya, ada yang pesan satu, dua gitu. Umumnya pemesan untuk koleksi pribadi," ujarnya.

Dia berharap pandemi segera mereda, pentas seni diperbolehkan jalan. Agar tari tradisional jaranan terus bisa dinikmati masyarakat dan seniman bisa mendapat penghasilan lagi. (*)

(rt/lai/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia