alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Pasar Daring di Tulungagung Tak Berjalan Mulus

Terkendala Jasa Kurir dan Pedagang Lansia

02 Agustus 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Andrian Sunaryo

TRANSAKSI TATAP MUKA : Salah seorang pembeli membeli kentang di pasar tradisional Ngemplak, kemarin (1/8).

TRANSAKSI TATAP MUKA : Salah seorang pembeli membeli kentang di pasar tradisional Ngemplak, kemarin (1/8). (Siti Nurul lailil M/ratu)

KOTA, Radar Tulungagung – Praktik penjualan via online atau daring untuk sejumlah pedagang di pasar tradisional dalam upaya pencegahan sebaran Covid-19 di Tulungagung belum berjalan mulus. Banyak kendala yang dialami pedagang. Salah satunya penyediaan jasa kurir. Hal itu disampaikan,  Kepala Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tulungagung, Imro'atul Mufidah melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis Pasar, Zaenu Mansur.

Dia menjelaskan pandemi Covid-19 berimbas pada daya beli masyarakat yang semakin turun. Namun dalam masa pemulihan dan pengendali Covid-19, pihaknya mencoba menggalakkan transaksi jual beli via daring. Itu mempermudah transaksi serta meningkatkan jual beli. Selain itu, juga  menekan penularan Covid-19 di pasar, karena dapat mengurangi tatap muka serta memecah kepadatan pengunjung di pasar. "Tidak semua pasar menerapkan pasar daring. Data kami hanya ada 25 pasar dari total 32 pasar yang aktif jalankan penjualan via daring," katanya

Dari 25 pasar tersebut, juga tak semua pedagang memanfaatkan canggihnya teknologi informasi. Jikapun ada, penjualan via daring juga tak berjalan mulus. Pasalnya,  pedagang bingung menyediakan kurir sebagai pengantar barang yang dibeli oleh pembeli. Karena praktik di lapangan, peminat daring memiliki jarak tempuh cukup jauh dari lokasi pasar. "Kendala ini banyak dirasakan pedagang di wilayah pinggiran. Berbeda dengan daerah kota, banyak jasa pengiriman yang dapat diajak bekerjasama oleh pedagang," terangnya.

Lantas untuk membantu pedagang tersebut, kata Zaenu pihak Disperindag  berupaya  membentuk paguyuban pasar yang menjalankan via daring. Sehingga dapat menunjuk satu atau dua orang sebagai kurir. "Ya kemarin kami bentuk paguyuban," tegasnya.

Selain itu, jelas Zaenu fasilitas daring tidak banyak diminati pedagang karena pedagang yang sudah berusia lansia banyak yang belum melek teknologi. Mereka memilih penjualan dengan tatap muka. Terutama bagi pedagang perancangan dan bahan pokok. Disisi lain, penjualan tatap muka juga didukung oleh pembeli yang beralasan lebih cepat mendapatkan barang sesuai yang diinginkan.  "Kalaupun bisa mengoperasikan/menggunakan smartphone/Hp untuk transaksi jual beli, pedagang mengaku kurang telaten dan lebih puas berjualan dengan berbasis tatap muka," terangnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang pasar tradisional Ngemplak, Mujiati tidak membuka penjualan daring. Meskipun sebenarnya bisa mengoperasikan HP. Dia beralasan kurang telaten dan tidak banyak waktu untuk memegang HP saat bekerja. "Lebih suka tatap muka begini. Karena, ketika bekerja tidak sempat lihat hp. Saya bekerja mulai pukul 02.30 sampai 18.00 nanti. Jadi baru buka Hp ya malam. Habis magrib atau isya," tuturnya.

Meski tatap muka, namun penjualannya tetap ramai seperti sebelum ada Covid-19. Karena pembeli sendiri juga banyak langsung ke pasar. Mereka puas dengan belanja langsung karena dapat memilih barang yang diinginkan. "Ya biasa aja. Seperti sebelum Covid-19," singkatnya. 

Seputar Pasar  Daring atau Online

-          Sudah diterapkan sejak April lalu

-          Hingga sekarang masih 25 pasar tradisional di Tulungagung yang aktif

-          Namun tak semua pedagang memanfaatkannya

-          Karena terkendala jasa kurir

-          Belum melek teknologi

-          Tidak telaten, pedagang banyak lansia

-          Pembeli maupun pedagang lebih puas tatap muka

-          Karena pembeli dapat memilih barang sesuai yang diinginkan

Sumber : Disperindag Kabupaten Tulungagung dan pedagang pasar ngemplak. (*)

(rt/lai/dre/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia