alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Gapoktan di Desa Wonoanti

Pergunakan Limbah, Keluarkan Biaya Rp 10 Ribu untuk 1 Hektare

Mengubah Rumen Hewan Menjadi Probiotik

04 Agustus 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

JANGAN DIBUANG: Anggota gapoktan di Desa Wonoanti ketika menyiapkan rumen yang akan difermentasi untuk dibuat probiotik.

JANGAN DIBUANG: Anggota gapoktan di Desa Wonoanti ketika menyiapkan rumen yang akan difermentasi untuk dibuat probiotik. (ZAKI JAZAI/RADAR TRENGGALEK)

Berburu daging wajar dilakukan masyarakat saat perayaan Hari Raya Idul Adha pada Jumat lalu (31/7). Namun, hal di luar dugaan justru dilakukan oleh gabungan kelompok tani (gapoktan) Sedono Makmus di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari. Mereka justru berburu isi lambung hewan kurban (rumen) yang nantinya diolah menjadi mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek baik (probiotik) untuk pupuk.

Terik sinar matahari menyengat kulit terasa di beberapa wilayah Kota Keripik Tempe, tak terkecuali di area Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari. Namun ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini sampai di sekitar lapangan desa setempat, suasana sejuk terasa. Sebab, di lapangan tersebut terdapat pohon-pohon besar yang didominasi oleh pohon buah maja.

Bersamaan itu, di halaman rumah tepat samping tanah lapangan tersebut terlihat beberapa orang sedang mengaduk-aduk sesuatu yang ada pada dua tong plastik. Sesekali saat mengaduk tersebut mereka menuangkan cairan di dalamnya. Ternyata mereka merupakan anggota gapoktan setempat yang sedang membuat probiotik. Di dalam tong plastik tersebut terdapat rumen hewan kurban yang telah dikumpulkan. "Semenjak hari pertama kurban, hingga kemarin (Minggu, 2/8, Red) saya dan teman-teman pergi ke musala, masjid, atau tempat pemotongan hewan kurban. Bukannya untuk mencari daging, melainkan rumen," ungkap ketua gapoktan, Supono.

Sebenarnya hal tersebut sudah dilakukannya sekitar dua tahun lalu. Bermula ada imbauan kepada para petani untuk membuat kompos dengan menggunakan organisme pengurai (dekomposer) yang dijual di berbagai toko pertanian. Namun setelah petani mulai tertarik dan menggunakannya, tiba-tiba dekomposer tersebut mendadak langka hingga stoknya tidak ada lagi di pasar. Karena itu, sebagian besar petani yang semula menggunakannya tidak dapat mendapatkannya lagi. “Setelah sulit didapat, tiba-tiba dekomposer tersebut ada kembali. Namun dengan harga yang lebih mahal, kami berkoordinasi dengan penyuluh pertanian tentang bagaimana cara membuatnya sendiri,” katanya.

Setelah itu, dengan terus berkoordinasi hingga mencari petunjuk terkait bahan yang bisa dibuat dekomposer, akhirnya ditemukan bahan alternatif lainnya dengan memanfaatkan rumen. Sebab, biasanya masyarakat menganggap rumen itu limbah sehingga membuangnya. Sedangkan untuk proses pengolahan nanti, rumen tersebut dicampur dengan air rendaman beras dan tetes atau larutan gula merah. Semenjak saat itu dirinya dan anggota kelompok mencoba membuatnya sendiri dengan mencampurkan ketika bahan tersebut pada sebuah timba bekas cat dinding dan menutupnya dengan plastik untuk proses fermentasi. Namun dalam menutup timba tersebut plastik diberi sedikit kelonggaran. Yakni agar plastik tersebut mengembang ketika keluar udara hasil fermentasi agar tidak meletus.

Ternyata hasil percobaannya tersebut berhasil. Sebab, campurannya tersebut berubah menjadi cairan dengan warna cokelat seperti probiotik. Setelah itu, dirinya langsung mencoba mengaplikasikannya untuk membuat kompos. Sekitar 15 hari berselang pun berhasil. Sehingga dirinya mencobanya terlebih dahulu pada tanamannya. Hasilnya, tanaman yang diberi kompos hasil olahanya tersebut tumbuh baik hingga subur. “Setelah hasil uji coba terbukti berhasil, kami bersama pendamping pertanian yang membantu langsung menginformasikan kepada para petani,” imbuh pria 60 tahun ini.

Senada diungkapkan pendamping pertanian yang membantu membuat, Hernawan Widyatmoko. Awalnya ketika menginformasikan kepada petani, dirinya merasa bingung. Sebab, banyak petani yang menolaknya karena rumen merupakan hal yang jorok, berasal dari kotoran hewan. Sehingga untuk menjelaskan, harus secara ilmiah terkait kandungan yang ada dalam rumen. Jika dilogika, kandungan tersebut dikembalikan ke tanah dan digunakan untuk pembuatan probiotik. Pastinya akan mempercepat pertumbuhan tanaman. Karena penjelasan itu, sebagian besar petani memahaminya serta melakukan hal yang serupa dan mayoritas berhasil.

Dari situ, petani bisa menghemat biaya produksi untuk membuat kompos tersebut dari yang semula Rp 50 ribu untuk membeli 1 liter cairan yang hanya bisa digunakan membuat beberapa kilo kompos untuk beberapa petak lahan. Kini hanya mengeluarkan biaya Rp 10 ribu untuk membeli 1 liter tetes, yang bisa digunakan untuk membuat kompos guna memupuk 1 hektare lahan. “Selain berfungsi sebagai dekomposer untuk membuat kompos probiotik, ini juga bisa untuk membuat pestisida alami untuk mengusir hama,” jelas Hernawan. (*)

(rt/zak/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia