alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
Home > Blitar
icon featured
Blitar

LPKA Didominasi Peleceh Seksual

Kebanyakan Korban adalah Teman Sebaya

04 Agustus 2020, 12: 30: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

NYAMAN: Sejumlah anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Blitar mengisi waktu istirahat kemarin.

NYAMAN: Sejumlah anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Blitar mengisi waktu istirahat kemarin. (Fima Purwanti/Radar Blitar.)

SANANWETAN, Radar Blitar - Puluhan penghuni Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas 1 Blitar didominasi pelaku pelecehan seksual. Umumnya mereka merupakan pelaku pelecehan terhadap teman sebaya. Anak binaan di LPKA ini tidak hanya berasal dari wilayah Blitar, tapi juga dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Berdasarkan data per 3 Agustus, ada 53 anak binaan di LPKA Kelas 1 Blitar. Dengan rincian, 47 di antaranya merupakan anak binaan dengan hukuman di atas 1 tahun atau masuk dalam kategori kelas B I. Enam anak lainnya masuk kategori kelas B II A atau masa hukuman di bawah satu tahun.

Kepala LPKA Kelas 1 Blitar Tatang Suherman mengatakan, jumlah anak binaan berkurang satu orang dalam satu pekan yang lalu. Satu orang anak yang mendapat asimilasi di rumah. Sehingga dipastikan jumlahnya sebanyak 53 anak binaan di LPKA Blitar. "Kemarin ada satu kategori B II A keluar. Jadi sekarang tinggal 53 anak," jelasnya kepada Koran ini kemarin.

Tatang menegaskan, penghuni lapas anak didominasi oleh pelaku kasus pelecehan seksual. Beberapa penghuni tersebut menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap teman dekat atau sebayanya. Kemudian, orang tua dari korban tidak terima dan melanjutkan kasus ke pengadilan. "Paling banyak karena kasus pelecehan seksual, masalah harga diri. Kebanyakan pada teman sebaya atau istilahnya pacar mereka," terangnya.

Menurut dia, kasus pencurian ataupun kriminal lainnya yang terjadi pada anak lebih mudah diselesaikan. Bahkan, jarang terjadi pada akhir-akhir ini. Selain itu, adanya penyelesaian secara diversi atau pengalihan penyelesaian perkara pada anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana, dinilai lebih cendurung terjadi pada kasus kriminal. "Ada diversi untuk anak. Misalkan ada kasus pencurian, bisa diselesaikan dengan proses itu," terangnya.

Tatang mengatakan, para anak binaan yang menjadi penghuni lapas anak tidak hanya berasal dari wilayah Blitar. Namun, juga meliputi anak binaan yang berasal dari beberapa wilayah di Jawa Timur. Termasuk di antaranya dari Pamekasan, Malang, Bangil, Kediri, serta Tulungagung.

Selain itu, seluruh penghuni lapas anak merupakan laki-laki. Sehingga tidak ada satu pun anak binaan perempuan di LPKA Blitar. Sebab, kondisi psikis maupun tingkat emosional pada anak dinilai lebih rentan dan berisiko menimbulkan masalah baru. "Tidak ada yang perempuan. Adapun yang perempuan akan langsung dipindahkan ke Malang. Ya, untuk menghindari terjadinya masalah baru di dalam lapas," pungkasnya. (*)

(rt/ima/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia