alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Slamet Puji Santoso

Sabar Berburu, Jadi Alat Peraga Pembelajaran

Guru Honorer yang Menggemari Die Cast

04 Agustus 2020, 16: 05: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

TELATEN: Slamet Puji Santoso menunjukkan tiga die cast yang menjadi koleksinya di kediamannya kemarin.

TELATEN: Slamet Puji Santoso menunjukkan tiga die cast yang menjadi koleksinya di kediamannya kemarin. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Menjalani sebuah profesi bukan berarti tidak ada aktivitas lain yang dijalani. Contohnya Slamet Puji Santoso, guru honorer di SDN 2 Serut, Kecamatan Boyolangu. Jika tidak berada di sekolah dan punya waktu luang, dia memilih untuk berburu die cast. Karena benda tersebut juga bisa digunakan untuk model pembelajaran.

Suasana perkotaan Tulungagung kemarin sore cukup ramai. Bahkan di gang banyak orang yang berseliweran. Suasana cukup dingin di kala musim kemarau tidak dihiraukan orang.

Kendati demikian, penghuni rumah di sebuah gang sempit di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung, ini lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Ya, Slamet Puji Santoso, si penghuni rumah justru asyik memperhatikan koleksi die cast miliknya. Tercatat dia sudah mengumpulkan miniatur kendaraan sebanyak 80 unit. “Saya baru setahunan ini menjadi kolektor die cast,” katanya memulai obrolan.

Menurut dia, ketertarikannya itu sebenarnya tanpa sengaja. Awalnya dia hanya melihat video aktivitas perburuan die cast yang diunggah ke YouTube. Lambat laun, dia pun jadi ingin melakukan hal yang sama. Hal itu terlihat mengasyikkan dan memberi tantangan tersendiri. “Saya pun tergerak untuk melakukan hal yang sama. Ternyata tak semudah yang dibayangkan untuk memburu die cast yang bagus,” tambahnya.

Mamek, sapaan akrabnya melanjutkan, untuk mencari sebuah unit yang bagus, dia harus keluar masuk minimarket di Kota Marmer. Kalau nasib bagus, dalam sekali perburuan bisa langsung mendapat. Berbeda kalau tidak sedang mujur, berburu di banyak tempat pun tidak akan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. “Ya, inilah keasyikannya, berburu die cast membutuhkan kesabaran. Mengingat dalam sekali droping belum tentu ada,” ungkapnya.

Pria berkacamata ini mengakui, pola perburuan yang dilakukannya sekarang memang memilih yang benar-benar bagus. Padahal, dulu belum bisa membedakan dan selalu sembarangan dalam membeli. Entah yang bagus atau biasa, langsung disambarnya. “Karena jadi klangenan, harus benar bagus. Toh benda ini tidak saya perjualbelikan,” akunya lantas tertawa.

Pandemi Covid-19 pun membuatnya harus menahan diri untuk berburu. Padahal biasanya dalam seminggu minimal sehari penuh dia bisa blusukan ke puluhan minimarket. Beruntung, kondisi pandemi sudah menuju positif yang membuatnya bisa bergerak lagi.

Bagi pria 30 tahun ini, benda koleksinya tersebut memang tidak hanya sekadar koleksi belaka. Ada kalanya beberapa miniatur dibawa ke sekolah untuk alat peraga pembelajaran. Nyatanya itu membuat anak didiknya lebih tertarik dalam mengikuti materi pembelajaran yang disajikannya. “Bagi saya, benda kecil ini memberi manfaat. Karena ada sebagian yang bisa dijadikan alat peraga pembelajaran di kelas,” tandasnya. (*)

(rt/rak/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia