alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan
Sulit Sinyal, Cari di Jalan

Beli Paket Data ke Desa Tetangga

Wifi Balai Desa Bisa Digunakan 24 Jam

05 Agustus 2020, 08: 54: 07 WIB | editor : Bella Orlandis

SUSAH SINYA : Lima pelaja di Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, sedang mencari sinyal internet di area Bukit Tunggul Manik, kemarin (4/8)

SUSAH SINYA : Lima pelaja di Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, sedang mencari sinyal internet di area Bukit Tunggul Manik, kemarin (4/8) (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

PAGERWOJO, Radar Tulungagung – Dingin hawa pegunungan begitu mencubit kulit di Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo kemarin (4/8) sore. Bahkan saat melihat smartphone, suhu sudah turun hingga 23 derajat Celcius, meskipun jam baru menunjukkan pukul 16.00. Tak bisa dibayangkan saat malam tiba, yang konon pernah mencapai 12 derajat Celcius saat puncak musim pancaroba.

Kendati demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangat sekelompok anak kecil yang berkumpul di sekitar Bukit Tunggul Manik. Mereka bukan bermaksud nglencer menikmati suasana sore. Tetapi lebih bermaksud untuk berburu sinyal internet. Ya, desa yang berada di jalur utama Pagerwojo-Bendungan, Trenggalek ini tidak didukung keberadaan sinyal yang prima. Hanya ada di tempat tertentu. Itupun jarang ada yang stabil, dan membuat siswa sulit untuk mendapatkan materi secara daring.

Kendala itu diungkapkan sejumlah siswa setempat. Salah satunya, Kasih Riskiana Putri. Siswa kelas 3 SDN 2 Kradinan ini mengaku kesulitan belajar melalui daring. Pasalnya, sulitnya akses internet. Padahal, materi dan tugas harus diselesaikan tiap harinya. "Ya, terkadang sulit. Hilang tiba-tiba sinyalnya," katanya.

Jika mentok tidak ada sinyal, Kasih sapaan akrab Kasih Riskiana Putri ini mengaku nebeng WiFi di rumah temannya. Tapi, itu jarang. Karena WiFi pun belum tentu lancar. Sehingga, memaksimalkan sinyal seluler yang dimilikinya. "Enak belajar di sekolah. Ketemu teman-teman. Langsung paham materi tentunya," terangnya.

Hal senada juga diungkapkan, Valentia Wiliana Putri. Siswa kelas IX, SMP Negeri 2 Pagerwojo ini mengaku jaringan internet cukup susah di desanya. Jikapun ada, itu di lokasi dan jam tertentu. Lantas itu jadi tantangan tersendiri saat mengikuti daring. "Lumayan susah sih. Apalagi malam. Mungkin karena disini daerah pegunungan ya," katanya

Kendala lain yakni daring ini membuatnya terpaksa mengeluarkan biaya dobel untuk beli kuota internet. Sebab, selain kirim materi tugas melalui aplikasi WhatsApp, pembelajaran sekolah juga dilakukan dengan menggelar video conference yang menguras kuota banyak. "Sudah dobel. Beli kuota internet pun harus ke tetangga desa, karena di sekitar sini tidak ada yang jual," terangnya.

Gadis berhijab ini mengaku ingin cepat kembali belajar sekolah. Karena sudah rindu dapat belajar bareng guru dan teman-temannya. Bahkan dia menilai selama daring, materi yang disampaikan belum tentu dipahami dengan cepat. "Kalau sulit, tanyanya ke Google. Karena tidak ada luring untuk SMP," tegas

Sementara itu, Kepala Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, Eko Sujarwo mengakui untuk di daerahnya memang kondisi akses internet terbilang sulit. Jikapun ada, hanya di titik tertentu. Sehingga jadi kendala siswa belajar melalui daring. Keluh kesah itupun bahkan pernah dia dengar langsung dari wali murid. "Kami juga pernah menemui langsung, siswa cari sinyal di pinggir jalan, di Bukit Tunggul Manik bahkan nebeng WiFi di kantor desa yang kami bebaskan 24 jam," terangnya.

Pria ramah ini menambahkan, untuk membeli paket internet pun membutuhkan perjuangan tersendiri. Di desa tersebut sangat jarang ada konter yang menjual paket data, hanya pulsa regular. Alhasil, para siswa tersebut terpaksa harus turun ke Desa Samar yang berjarak sekitar tiga kilometer untuk sekadar membeli paket data. “Berbeda jika ada yang memasang wifi sendiri. Itupun butuh biaya hingga Rp 1,2 juta untuk pemasangan dan Rp 100 ribu per bulannya,” ungkapnya.

Selama ini, desa telah membantu memfasilitasi internet dengan memasang WiFi di kantor desa. Selain itu, pihaknya juga sudah berupaya melaporkan kondisi susah sinyal internet ke camat, untuk diteruskan ke kabupaten. Responnya, kata Jarwo sapaan akrab Eko Sujarwo akan disurvei. Namun hingga sekarang, survei tersebut hanya sebatas ucapan. "Belum ada yang ke sini. Padahal, kami berharap ada tindaklanjutnya agar anak-anak kami di sini dapat belajar dengan tenang tanpa kendala apapun," terangnya.

Jarwo pun mengakui juga ada guru yang melakukan home visit kepada anak didiknya. Seperti beberapa waktu lalu, ada yang melapor ke dirinya untuk peminjaman musalla setempat untuk lokasi pembelajaran. “Saya pun senang saja mengizinkan karena itu perlu untuk pembelajaran siswa itu sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Hani Farida, mahasiswa KKN yang sedang berada di desa setempat mengatakan, daring dan luring di desa itu memiliki kesulitan tersendiri. Jika daring terkendala sinyal, khususnya saat hujan dan mendung. Sedangkan untuk luring terkendala akses dan waktu, karena mereka harus mendatangi kelompok belajar kecil yang sudah dibentuk. “Setiap metode punya kesulitan sendiri-sendiri. Makanya kami mengombinasikan keduanya untuk memfasilitasi pembelajaran bagi mereka,” jelasnya.(*)

(rt/lai/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia