alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan

Sekolah Bebas Atur Teknis Pembelajaran

05 Agustus 2020, 09: 11: 06 WIB | editor : Bella Orlandis

Sekolah Bebas Atur Teknis Pembelajaran

SEMENTARA ITU, Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung Hariyo Dewanto Wicaksono tak menampik tantangan yang dialami oleh guru dalam memberikan pembelajaran. Terlebih bagi sekolah-sekolah yang berada di pinggiran dan pegunungan. Faktor geografis dan kesulitan siswa dalam mengakses teknologi menjadi salah satu penyebab proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan sepenuhnya secara daring (online).

Pria yang akrab disapa Yoyok ini merinci, dari keseluruhan kondisi di Tulungagung, sekitar 25 persen sekolah memilih melakukan pembelajaran luring (offline) secara penuh. Sementara 75 persen sisanya memilih mengombinasikan antara daring dan luring. “Untuk wilayah perkotaan, mungkin sudah mampu untuk daring, tapi kondisi ini tidak bisa diterapkan untuk wilayah pegunungan,” jelasnya.

Melihat berbagai kendala yang dialami oleh para guru, dia pun memberi kebebasan pada setiap sekolah untuk mengatur sendiri teknis pembelajaran. Terpenting, anak dapat memahami dan menguasai materi yang disampaikan. Untuk itu, diperlukan inovasi dan kreativitas setiap guru dan kepala sekolah. “Seperti siswa kelas I SD, kalau dirasa belum mampu daring, mau dibuat luring mangga. Sementara untuk kelas II hingga kelas VI daring, itu kebijakan  sekolah masing-masing. Memang di sini guru dituntut berpikir kreatif,” urainya.

Meskipun memberi kebebasan kepada sekolah untuk membuat sendiri program pembelajaran, dia menegaskan jika izin orang tua atau wali murid tetap diutamakan. Untuk itu, guru diminta selalu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan orang tua mengenai pembelajaran anak selama berada di rumah. Tak hanya itu, dia pun menggarisbawahi jika sekolah memutuskan untuk melaksanakan pembelajaran luring, protokol kesehatan tetap dipatuhi. Seperti membatasi jumlah siswa yang mengikuti kelas, siswa diminta mengenakan masker selama proses belajar. “Protokol kesehatan tetap yang diutamakan,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Jatim) wilayah Tulungagung-Trenggalek Solikin mengatakan, pembelajaran daring mengalami sejumlah kendala. Terlebih bagi siswa SMK. Sebab, pembelajaran siswa SMK mengutamakan materi praktik daripada teori. “Terutama ini untuk siswa SMK, memang sedikit kesulitan karena mereka harus tetap mendapatkan materi praktik. Apalagi jurusan teknologi pasti lebih banyak di praktik,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya juga memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk mengatur sistem pembelajaran. Termasuk untuk menggelar pembelajaran tatap muka. Namun, tetap diperlukan izin dari orang tua dan gugus tugas setempat. Hingga kini tercatat sekitar 8 SMK negeri yang mengajukan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Khususnya ketika materi praktik. “Ada delapan sekolah yang memang ingin tatap muka, tapi saat praktik saja. Sehingga tidak sepenuhnya tatap muka karena memang belum bisa,”ujarnya.

Meski demikian, dia mengungkapkan, untuk siswa SMA/SMK di Tulungagung, akses teknologi sudah terpenuhi. Sehingga meskipun pembelajaran daring menemui beberapa kendala, hal tersebut menjadi hal wajar. “Karena anak jenjang SMA/SMK juga sudah dianggap dewasa dan lebih melek teknologi. Sehingga sudah lebih mudah beradaptasi dibandingkan yang masih SD,” urainya.

Disinggung mengenai kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait pembukaan sekolah untuk wilayah zona kuning, Solikin mengaku belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebab, sampai kini belum ada surat pemberitahuan resmi maupun surat keputusan terkait kebijakan tersebut. (*)

(rt/nda/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia