alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan

Orang Tua Dapat Beban Ganda

05 Agustus 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

Infografis

Infografis

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung - Dunia pendidikan kini mengalami guncangan akibat pandemi Covid-19. Ada beberapa faktor yang membuat dunia pendidikan belum siap, yakni minimnya sarana prasarana (sarpras) penunjang hingga kemampuan adaptasi pendidik dalam digitalisasi. Hal itu berdampak pada pembelajaran yang tidak efektif. Sehingga peserta didik tidak bisa mencapai kompetisi yang diharapkan. Maka dari itu, harus ada model pembelajaran hybrid yang menyelaraskan peran pendidik, orang tua, dan artificial intelligence untuk menyelamatkan dunia pendidikan yang serba terbatas dan kompleks.

Praktisi dan pengamat pendidikan, Agus Zainul Fitri mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, dunia pendidikan mendapat tantangan yang sangat besar. Seolah-olah Covid-19 telah mengoyak tatanan pendidikan yang telah dianggap sebagai status quo. Karena adanya Covid-19, pendidikan mengalami disrupsi. “Melihat chaos-nya pendidikan saat ini, harus melihat teori kompleksitas. Bahwa terjadinya permasalahan ini akibat kerumitan-kerumitan yang bersifat kompleks,” tuturnya.

Agus, sapaan akrabnya, mengakui bahwa pendidikan kini memang kurang efektif. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, minimnya sarpras penunjang, khususnya bagi masyarakat ekonomi ke bawah. Kedua, kapasitas pendidik yang belum siap dengan pembelajaran digitalisasi. Ketiga, orang tua yang belum siap mendapatkan peran ganda. “Kini orang tua mendapatkan beban ganda, mencukupi kebutuhan dan mendampingi anak dalam proses pembelajaran,” ucapnya.

Pemenuhan sarpras, khususnya bagi masyarakat ekonomi ke bawah dan yang berada di perdesaan, merupakan kewajiban pemerintah sebagai bentuk visi pemerataan pendidikan. Melihat kini pendidikan sudah memasuki revolusi industri 4.0 dan bertepatan dengan adanya Covid-19, pendidikan yang sebelumnya tatap muka atau luring menjadi daring. “Masih banyak anak-anak yang ada di desa kesulitan belajar karena sinyal yang sulit. Maka pemerintah harus segera turun tangan,” papar pria yang juga menjabat sebagai ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana IAIN Tulungagung.

Pria ramah itu menambahkan, permasalahan pendidikan juga terjadi di pendidikan anak berkebutuhan khusus (ABK). Permasalahan ini jauh lebih sulit, pasalnya setiap anak berkebutuhan khusus memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Apalagi tidak semua ABK mampu menggunakan pembelajaran berbasis teknologi. Maka home visit menjadi salah satu yang bisa dilakukan oleh guru untuk mengakomodasi pembelajaran ABK. “Untuk ABK, guru harus menerapkan home visit, yakni guru memberikan pembelajaran di rumah murid,” tambahnya.

Jika pendidikan hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan saja, bisa diperkirakan bahwa 10 sampai 20 tahun mendatang, guru tidak lagi menjadi penting dalam dunia pendidikan yang serba digitalisasi ini. Pasalnya, pendidikan digitalisasi bersifat masif dan cepat untuk diakses peserta didik. “Dalam era digitalisasi, semua serba cepat dengan adanya artificial intelligence. Maka dari itu, pendidikan kini tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan saja. Namun, guru juga harus berperan membimbing dan membentuk perilaku anak dengan pendidikan karakter,” ujarnya.

Pendidikan karater tidak bisa didapatkan dengan kecerdasan buatan saja. Karena pendidikan karakter menekankan perasaan dan pembiasaan. Untuk menjadikan anak berperilaku baik, tidak akan bisa dengan cara diajarkan saja. Tapi pendidikan karakter bisa dilakukan dengan cara memahami, menghayati, dan kemudian mengamalkan. “Di sinilah peran guru tidak bisa digantikan,” tegasnya.

Pria asal Jember itu mengungkapkan, dengan permasalahan kompleks yang sedang dihadapi dunia pendidikan, tidak akan bisa terselesaikan dengan satu kebijakan saja. Harus ada kerja sama mulai dari pendidik, orang tua, pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Permasalahan tersebut harus cepat ditangai dan responsif, jangan sampai mengabaikan satu hal meskipun itu kecil. Karena permasalahan pedidikan kini sangat kompleks. “Pendidik harus di-upgrade, meskipun itu guru besar agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Orang tua harus siap dan memiliki kemampuan untuk mendampingi anak dengan benar ketika pembelajaran. Pemerintah juga harus menyediakan prasarana pendukung yang menjadikan pendidikan sebagai skala prioritas,” pungkas Agus. (*)

(rt/mam/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia