alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan

Kombinasikan Daring dan Luring

05 Agustus 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

DEDIKASI TINGGI: Adin Nur Ariantok menyampaikan materi mapel matematika kepada siswanya kemarin (4/8).

DEDIKASI TINGGI: Adin Nur Ariantok menyampaikan materi mapel matematika kepada siswanya kemarin (4/8). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TAK terasa, hampir satu bulan tahun ajaran baru 2020/2021 berlangsung. Namun akibat pandemi coronavirus disease (Covid-19), sistem pembelajaran pun terasa lebih berat. Terutama bagi para guru. Sebab, meskipun kondisi seperti ini, guru dituntut untuk tetap memberikan pembelajaran secara maksimal kepada siswa. Berbagai ragam upaya pun dilakukan oleh para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Salah satunya menciptakan sistem pembelajaran blended learning. Atau sistem pembelajaran yang mengombinasikan antara pembelajaran daring (online) dan juga luring (offline).

Seperti yang dilakukan Adin Nur Ariantok. Guru kelas V di SDN 1 Boyolangu ini mengatakan, kondisi yang beragam di lingkungan sekolahnya membuatnya dan guru-guru lain tetap berinovasi. Salah satunya menggabungkan metode daring dan luring. “Karena tidak semua siswa kami memiliki akses yang sama untuk kebutuhan teknologi. Kami pun tidak bisa menyeragamkan siswa,” jelasnya.

Adin mengaku, selain dituntut untuk berpikir kreatif, di masa pandemi ini beban kerja guru pun cenderung lebih besar. Sebab, jam kerja menjadi tidak terbatas. Ini karena seringnya siswa mengirimkan tugas pada malam hari. Tak hanya itu, belum lagi dia harus menyiapkan materi pembelajaran untuk esok hari. “Karena ketika siswa belajar di rumah untuk mengerjakan tugas, rata-rata juga menunggu orang tua. Sehingga kami harus memberikan umpan balik pada malam hari jika memang diperlukan,” terangnya.

Meski demikian, dia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pembelajaran pada siswa-siswinya. Terlebih setelah ada kebijakan untuk tidak menuntaskan kurikulum. Untuk itu, dalam proses pembelajaran, dia pun memilih untuk membagi kelas dalam sebuah kelompok kecil berisi 5-6 anak. Pembagian kelompok pun didasarkan pada kemampuan dan alamat rumah siswa masing-masing sehingga tidak menyulitkan siswa untuk belajar. Nantinya dalam satu minggu dia berkunjung ke rumah para siswa sebanyak tiga kali untuk memberikan pembelajaran secara luring. “Saya juga memanfaatkan grup WhatsApp untuk membagikan materi kepada wali murid. Namun tetap karena anak-anak juga tidak mungkin dibiarkan belajar sendiri. Saya pun tetap harus berkunjung ke rumah siswa untuk memberikan pembelajaran,” urainya.

Mengingat sudah sekitar empat bulan pembelajaran tatap muka ditiadakan, Adin pun berharap agar kondisi lekas pulih. Sebab, biar bagaimanapun pembelajaran tatap muka merupakan pembelajaran paling ideal untuk siswa. Selain materi dapat tersampaikan dengan baik, anak juga dapat belajar bersosialisasi. Selain itu, dia juga berharap agar pemerintah setempat membuat kebijakan tegas terkait teknis pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi. “Agar kami sebagai guru juga tidak waswas dalam bekerja. Sehingga kalau ada rambu-rambu yang jelas, kami bisa mengikutinya,” tandasnya. (*)

(rt/nda/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia