alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Tangguh Punya Motor Bratstyle

Puas Liat Orang Terheran Pakai Motor Unik

07 Agustus 2020, 16: 05: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

MERAWAT: Tangguh Wikoco saat mengelap mesin motor bratstlyenya agar tetap mengilap.

MERAWAT: Tangguh Wikoco saat mengelap mesin motor bratstlyenya agar tetap mengilap. (TANGGUH WIKOCO FOR RADAR TRENGGALEK)

Bagi Tangguh Wikoco, motor custom miliknya belum sepenuhnya sesuai ekspektasi, tapi masih sekitar 90 persen. Namun, tak sedikit orang yang menawar motornya hingga puluhan juta. Tapi sejarah di baliknya membuat Tangguh berat hati dan tak rela untuk menjualnya.

Cerita Tangguh Wikoco hobi memodifikasi motor melekat kuat di pelat nomor motornya, AG 2015 ZAA. Angka itu menunjukkan tahun, Tangguh –sapaannya- mulai merajut mimpi dari semasa sekolah. Dia ingin punya motor yang beda. Bahkan, beda dari motor-motor keluaran pabrik. Motor yang hanya ada satu di dunia. Caranya dengan memodifikasinya atau disebut motor custom.

Tangguh, lulusan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Dia menjadi aparatur sipil negara (ASN) sejak 2014 silam. Kini, dirinya menjadi Kepala Seksi (Kasi) Sumber Daya Manusia (SDM) di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek. Beranjak dari itu, rajutan mimpi punya motor ekslusif pun dimulai.

Warga Desa/Kecamatan Karangan itu berselancar di dunia digital, melihat referensi-referensi motor yang cocok dengannya. Cukup lama berselancar, Tangguh terpikat dengan motor triumph bonneville. Namun, motor itu punya harga yang fantastis, ratusan juta. Akhirnya, dia berinisiatif memofikasi motor sesuai dengan kemauannya. “Terinspirasi dari motor mahal itu, tertarik punya motor laki. Modelnya klasik, tapi cocok dipakai anak muda,” kata dia.

Tangguh mengaku memodifikasi motor bergenre bratstyle dari Yamaha Scorpio lawas keluaran 2007. Dibeli seharga Rp 11 juta-an. Fisik dan suratnya lengkap, sudah 225 cubical centimeter (CC) juga. Tapi dia bingung, bengkel mana yang bisa modifikasi motor sesuai dengan keinginannya. Kemudian, dia mulai bertanya kepada saudara dan kawan-kawannya, bengkel yang bisa modifikasi motor model bratstyle. “Akhirnya motor itu saya kirimkan ke Jakarta, pemodifikasian memakan waktu sekitar dua bulanan,” ujarnya.

Pada 2015 lalu, motor model bratstyle jarang dimiliki di Trenggalek. Baru memebludak sekitar pada 2017. Oleh sebab itu, para penggemar motor modifikasian membuat klub Japstyle-Bratstyle Indonesia (JBI) Trenggalek. Anggotannya kini sudah sekitar 60 orang.

Selama proses modifikasi, Tangguh terus memantau perkembangan motor miliknya. Tepat di bulan kedua, motornya jadi dan dikirim via kereta. Kesan pertama saat pria kelahiran 1991 melihat motor modifikasiannya adalah puas. Dia mengambil motor itu di Stasiun Tulungagung. Menaikinya untuk dibawa kembali ke Trenggalek. Tapi, modifikasi motor yang merogoh kocek sekitar Rp 10 juta. Itu tak bisa ditunggangi. Tangguh mendorong motornya sejauh 1 kilometer. “Sempat kehabisan bensin, waktu saya naiki kali pertama,” ujarnya.

Dan tangki terisi bensin, ada saja cerita di saat Tangguh membawa motornya kembali di Trenggalek. Knalpotnya lepas, sesaat kemudian lighting-nya lepas. Tapi dia memahami, motor dari rakitan sendiri tidak sesempurna keluaran pabrik. “Sampai rumah, saya lepasin sendiri. Besoknya, saya pergi ke bengkel untuk benahin motor lagi,” kata dia.

Setahun pakai motor bratstyle, Tangguh beberapa kali touring ke Jawa-Bali. Pernah ikut kontes meski tak dapat juara. Pernah juga berhadapan dengan tilang polisi. Bukan karena mengubah model motor, melainkan knalpot brong. Banyak kepuasan yang dirasakan Tangguh selama mengendarai motor impiannya. “Suka diliatin orang saat di jalan. Kebanyakan orang heran, motonya kok unik, beda sama yang lain,” ujarnya.

Bahkan, tak sedikit juga orang yang tertarik dengan motor Tangguh. Di mana belinya, di mana buatnya, di pabrik apa. Dalam batinnya, motor tersebut tidak diproduksi oleh pabrik. Namun, motor Scorpio yang dimodifikasi sedemikian rupa. Motor itu juga ditawar orang senilai Rp 30 juta, meskipun terpaksa ditolak. “Tidak saya jual karena saya masih suka. Sejarahnya yang mahal itu,” ungkapnya.

Modifikasi motor pertama milik Tangguh pun belum seusai dengan ekspektasinya. Dia ingin memodifikasi motor lagi, dengan CC yang lebih tinggi. Tapi tetap setia dengan model bratstyle. “Menunggu rejeki dan izin dulu ke istri,” kata Tangguh. (*)

(rt/pur/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia