alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Aksi Pemuda RT 05/RW 01 Desa Waung

Kerja Sosial, Tak Pernah Hitung Uang Lelah

Bantu Penyeberangan di Jembatan Gantung

08 Agustus 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

HIYAT-HIYUT: Salah satu pemuda RT 05/RW 01 Dusun Kalituri membantu pengendara yang menyeberang jembatan gantung.

HIYAT-HIYUT: Salah satu pemuda RT 05/RW 01 Dusun Kalituri membantu pengendara yang menyeberang jembatan gantung. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

Sering melihat pengendara bertengkar karena saling klaim datang duluan, membuat pemuda di lingkungan sekitar jembatan gantung yang menghubungkan Desa Waung, Kecamatan Boyolangu dan Kelurahan Kedungsoko, Kecamatan Tulungagung turun tangan. Mereka sukarela mengatur arus penyeberangan dan membantu warga yang takut menyeberang.

Jembatan gantung menghubungkan Desa Waung, Kecamatan Boyolangu dan Kelurahan Kedungsuko, Kecamatan Tulungagung kini mendadak ramai. Dari subuh hingga malam banyak yang antre untuk dapat melewati jembatan tersebut. Itu karena jembatan gantung itu jadi jalur alternatif untuk menyeberang Kali Ngrowo. Yakni imbas dari Jembatan Lembu Peteng yang ditutup total selama dua bulan.

Meski jembatan tersebut bergoyang cukup kencang dan dinilai rawan, tidak mengurangi antusiasme warga. Rata-rata beralasan ingin cepat sampai di seberang tanpa menghiraukan keselamatan.

Bahkan, sempat ada kejadian pengendara yang datang dari sisi barat dan timur jembatan saling adu argumen. Mereka saling klaim datang lebih dulu. Melihat itu, pemuda setempat di RT 05/RW 01 Dusun Kalituri, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, pun mencoba melerai. "Tercetusnya aksi sosial ini karena melihat pengendara yang saling klaim datang lebih dulu. Padahal, jalan jembatan ini sempit. Bahkan kalau dua arus berisiko," ucap Ketua RT 05/RW 01 Dusun Kalituri, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Totok Harianto.

Setelah berembuk, para pemuda RT 05/RW 01 Dusun Kalituri, Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, meluangkan waktu untuk ikut mengatur penyeberangan. Mereka juga membagi jumlah pemuda yang ada untuk mengatur jembatan dari sisi barat maupun timur. Dengan begitu, terjalin komunikasi ketika mengatur penyeberangan dengan sistem buka-tutup. "Ada tiga sif. Sif ini disesuaikan waktu luangnya. Karena rata-rata juga punya tanggung jawab untuk menafkahi keluarga," terangnya.

Aksi yang dilakukan pemuda sekitar bentuk aksi sosial. Mereka tidak mengharapkan imbalan apa pun. Namun, pengendara sendiri yang terbantu dengan aksinya mereka memberikan koin-koin rupiah. Mereka menganggap koin tersebut sebagai uang lelah. Mengingat, para pemuda tersebut mengatur lalu lintas tanpa menghiraukan teriknya matahari hingga dinginnya malam. "Jumlah rupiah, kami tidak pernah menghitung. Kami anggap uang lelah. Hasilnya dibagi rata misal per orang Rp 50 ribu, belum lagi konsumsi. Kalau sisa, masuk kas RT yang biasanya dimanfaatkan beli papan kayu untuk menutup alas jembatan gantung yang rusak," terangnya.

Pria ramah ini mengakui jika kondisi jembatan tersebut rawan digunakan. Apalagi ketika banyak pengendara yang melintas, jembatan tersebut bergoyang. Pihaknya pun meminta pengendara untuk berhati-hati dan menjaga jarak agar tidak ada penumpukan di tengah. Mengingat pihaknya belum mengetahui pasti berapa kapasitas maksimal di jembatan tersebut. "Sebenarnya sudah diatur untuk tidak padat dan banyak yang melintas. Tapi orang kadang cepet-cepet ingin segera menyeberang," terangnya.

Dari hitungannya, setiap hari terdapat 800-an kendaraan yang melintas. Dari jumlah itu, 10 persennya takut menyeberang, khususnya perempuan dan lansia, umumnya sudah setengah perjalanan. Itu karena kaget dengan kondisi jembatan yang ketika dilewati bergoyang. Lantas para pemuda bergantian membantu menyeberangkan. "Kami seberangkan kalau takut. Karena goyangannya jembatan kalau banyak yang melintasi itu lumayan kencang," tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan pemuda setempat, Suriadi. Dia mengatakan, antrean panjang sempat terjadi pada awal penutupan, Senin (4/8). Bahkan, panjang antrean mencapai 300 meter. Namun untuk hari biasa, antrean tidak banyak, kecuali jam masuk kerja dan pulang kerja. "Kami berusaha semaksimal mungkin agar warga dapat menyeberang dengan aman dan tertib. Mengingat jembatan ini rawan digunakan. Itu pun tentunya tidak ada lagi pengendara yang bertengkar atau adu argumen," tuturnya. (*)

(rt/lai/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia