alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung
Dimulai 18 Agustus

5 Sekolah Bakal Gelar Tatap Muka

10 Agustus 2020, 09: 19: 36 WIB | editor : Bella Orlandis

Infografis

Infografis

KOTA, Radar Tulungagung - Ribuan siswa-siwi di Kota Marmer sepertinya harus segera bersiap-siap kembali mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Ini setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim melakukan revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri beberapa waktu lalu. Dalam revisi tersebut, salah satu poin penting adalah pembelajaran tatap muka diperluas hingga daerah dengan status zona kuning penyebaran coronavirus disease (Covid-19).

Menanggapi hal ini, Wakil Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Tulungagung Galih Nusantoro mengatakan, pelaksanaan dari hasil revisi tersebut dikembalikan pada pemerintah daerah (pemda) masing-masing. Sebab, pemda yang paling tahu kondisi di lapangan seperti apa. “Keputusan dan kebijakan apa pun akhirnya dikembalikan pada pemerintah masing-masing, tapi tetap mengedepankan kehati-hatian. Karena ini menyangkut kesehatan anak-anak,” jelasnya ketika dikonfirmasi melalui saluran telepon.

Galih melanjutkan, untuk Kabupaten Tulungagung, yang sudah masuk zona risiko penularan rendah (zona kuning), pemkab berencana akan menggelar trial atau uji coba terlebih dahulu untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Rencananya pembelajaran tatap muka akan dilakukan kali pertama pada jenjang SMA/SMK. Ini karena sekolah-sekolah tersebut telah memiliki fasilitas, sarana prasarana yang memadai. “Selain itu, anak-anak tingkat SMA/SMK juga cenderung lebih paham kesadaran menggunakan masker dan menjaga kebersihan diri. Untuk itu, pembelajaran tatap muka akan kami lakukan bertahap,” terangnya.

Hingga kini, baru sekitar lima lembaga sekolah yang sudah mengajukan pembelajaran tatap muka dan lolos asesmen. Terdiri dari dua lembaga SMA dan tiga SMK. Pembelajaran tatap muka pun akan dimulai 18 Agustus mendatang. Meskipun telah diizinkan untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka, mantan camat Sumbergempol ini menegaskan, pihak sekolah tidak dapat memaksa orang tua/wali murid untuk mengizinkan putra-putrinya kembali ke sekolah. Sebab pada prinsipnya, dibukanya kembali pembelajaran tatap muka mengutamakan kelengkapan fasilitas dan izin dari orang tua murid melalui komite sekolah. “Jika ada orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk belajar di sekolah ya tidak apa-apa. Sekolah harus membeli fasilitas agar anak dapat melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tegasnya.

Selain kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, Galih mengimbau agar sekolah memperhatikan betul kegiatan selama di sekolah. Seperti durasi pembelajaran yang hanya maksimal tiga jam. Melakukan pembelajaran dengan sistem sif atau bergantian dengan jumlah hanya 50 persen dari kapasitas normal. Serta meniadakan kegiatan ekstrakurikuler dan kantin sekolah. Ini untuk menghindari kerumunan di antara siswa. “Anak-anak bisa membawa bekal sendiri dari rumah. Sehingga datang ke sekolah hanya untuk belajar selesai langsung pulang,” imbaunya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Tulungagung-Trenggalek Solikin mengaku hingga kini masih menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Sebab, kembali dibukanya pembelajaran tatap muka tidak bisa sembarangan. Diperlukan persiapan diri setiap sekolah. “Untuk itu, kami masih harus terus berkomunikasi baik dengan sekolah, pemkab, maupun gugus tugas kabupaten. Tidak boleh asal membuka sekolah saja,” tandasnya. (*)

(rt/nda/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia