alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

SD-SMP Masih Dikaji

10 Agustus 2020, 09: 23: 02 WIB | editor : Bella Orlandis

SD-SMP Masih Dikaji

SEMENTARA ITU, untuk pembelajaran tatap muka jenjang SD dan SMP masih dalam proses pengkajian. Ini karena pemerintah masih akan melakukan sejumlah persiapan. Terutama berkaitan dengan kesiapan sarana prasarana (sarpras) di setiap lembaga sekolah. Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung Hariyo Dewanto Wicaksono mengatakan, pihaknya masih akan berkonsultasi dan meminta izin terlebih dahulu kepada pemkab. “Ada rencana ke sana (pembelajaran tatap muka, Red), tapi kami masih harus izin dan koordinasi terlebih dahulu sebelum mengambil kebijakan,” jelasnya.

Yoyok, sapaan akrabnya melanjutkan, revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri menjadi angin segar. Sebab, selama ini pembelajaran jarak jauh (PJJ) menemui banyak kendala. Terutama untuk akses mendapatkan materi secara online untuk siswa di wilayah pinggiran dan perdesaan.

Meski demikian, pihaknya tetap akan berhati-hati dalam mengambil kebijakan pembelajaran tatap muka. Sama seperti jenjang SMA/SMK, pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap. Dimulai pada jenjang SMP, kemudian SD. Sementara untuk jenjang TK/PAUD menjadi permasalahan paling sulit. Sebab, dibutuhkan pengawasan ekstra pada siswa. Ini karena siswa usia tersebut belum memiliki kesadaran yang cukup baik terkait menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. “Kemungkinan nanti dimulai pada jenjang SMP dulu baru jenjang SD. TK dan PAUD belum karena memang masih terlalu berisiko,” terangnya.

Seperti diketahui, untuk dapat kembali melakukan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi, sekolah harus memenuhi beberapa syarat penting. Seperti mendapatkan izin dari orang tua/wali murid melalui komite sekolah, memiliki sanitasi yang baik, memiliki fasilitas kesehatan yang mendukung program pencegahan penyebaran Covid-19. Tak hanya itu, lembaga sekolah pun diimbau melakukan pembatasan terkait jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran. Untuk itu, pembelajaran pun dilakukan dengan sistem sif atau bergantian dengan jumlah maksimal 50 persen dari kapasitas normal. Sementara kegiatan yang bersifat mengumpulkan siswa seperti ekstrakurikuler dan kantin sekolah ditiadakan. (nda/ed/rka)

(rt/nda/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia