alexametrics
Jumat, 02 Oct 2020
radartulungagung
Home > Tulungagung
icon featured
Tulungagung

Pernikahan Dini di Pegunungan Masih Tinggi

10 Agustus 2020, 11: 15: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

Kabid Dalduk Penyuluhan dan Penggerak Dinas KB PP dan PA Kabupaten Tulungagung Eko Sumaryono.

Kabid Dalduk Penyuluhan dan Penggerak Dinas KB PP dan PA Kabupaten Tulungagung Eko Sumaryono. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung – Angka pernikahan usia dini di Kabupaten Tulungagung masih didominasi warga yang berada di daerah pegunungan. Namun, secara kumulatif, angka pernikahan dini di Kabupaten Tulungagung pada 2020 menyentuh 238, dari total pernikahan berdasarkan umur istri sampai dengan Juni, yakni 2.953. Hal itu disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, minimnya kesadaran dan kultur budaya di masyarakat.

Kabid Pengendalian Penduduk (Dalduk) Penyuluhan dan Penggerak Dinas KB PP dan PA Kabupaten Tulungagung Eko Sumaryono mengatakan, jika melihat berdasarkan data, angka pernikahan usia dini atau usia di bawah 20 tahun masih didominasi oleh warga yang berada di daerah pegunungan. Angka pernikahan usia dini tertinggi berada di Kecamatan Pagerwojo dan Sendang. “Kalau di Kecamatan Pagerwojo ada 34 pernikahan usia dini dan di Kecamatan Sendang ada 33 pernikahan usia dini,” tuturnya.

Eko, sapaan akrabnya menjelaskan, jika dipersentasekan dari total angka pernikahan berdasarkan umur istri mulai Januari hingga Juni 2020, di Kecamatan Pagerwojo sebanyak 36,96 persen dan Sendang mencapai 17,10 persen. Untuk total angka pernikahan usia dini di Tulungagung, mencapai 238 atau 8,06 persen dari angka pernikahan berdasarkan umur istri. “Kalau melihat dari total keseluruhan angka pernikahan di Tulungagung, mulai Januari hingga Juni 2020, angka pernikahan usia dini relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah pernikahan berdasarkan umur, yakni 2.953,” jelasnya.

Dominasi angka pernikahan usia dini di dua kecamatan yang berada di pegunungan tersebut disebabkan beberapa faktor. Khususnya kultur budaya dan rendahnya kesadaran masyarakat. Di desa, jika ada seseorang yang menikah di usia dini, biasanya orang tuanya dulu juga sama seperti itu. Selain itu, jika ada seseorang yang melamar dan dirasa sudah mapan, maka akan dinikahkan. "Karena orientasinya masih berbeda dengan masyarakat di kota, untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi juga masih jarang masyarakat di desa. Apalagi terkait ekonomi dalam orientasi pekerjaan, berbeda antara kota dan desa,” ujarnya

Pria ramah itu mengungkapkan, sebenarnya di pegunungan atau di desa bukan menjadi hal yang tabu jika ada seorang perempuan yang belum menikah hingga berumur 20 tahun. Namun, tingginya angka pernikahan dini di pegunungan dipicu oleh rendahnya kesadaran masyarakat. Maka dari itu, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pihaknya telah menerjunkan tim untuk melakukan advokasi dan penggerakan melalui penggerak yang melibatkan tokoh formal dan tokoh informal. “Kami berikan pemahaman melalui tokoh formal dan informal seperti kiai dan tokoh masyarakat. Karena biasanya saran yang diberikan mudah untuk diterima oleh masyarakat,” ungakapnya.

Selain itu, pihaknya juga mempunyai institusi masyarakat perdesaan yang terdapat satu orang di setiap dusun. Dengan tujuan, meningkatkan kesadaran dan pendewasaan usia perkawinan. Karena pernikahan usia dini juga berdampak negatif, terutama bagi perempuan. “Kami telah melakukan berbagai macam usaha mulai dari sosialisasi melalui media cetak atau elektronik di billboard dan sebagainya,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/bel/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia