alexametrics
Rabu, 28 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Pendidikan
Luring untuk Siswa SMP

Satu Rumah, Dua Guru

11 Agustus 2020, 09: 08: 41 WIB | editor : Bella Orlandis

MENYIMAK: Sejumlah siswa SMPN 1 Kedungwaru mengikuti kelas luring, kemarin.

MENYIMAK: Sejumlah siswa SMPN 1 Kedungwaru mengikuti kelas luring, kemarin. (SITI NURUL LAILIL M/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung - Model pembelajaran luar jaringan (luring) dengan metode home visit mulai digalakkan. Tidak terkecuali di tingkat SMP. Itu karena, pembelajaran dalam jaringan (daring) dinilai tidak efektif.

Itu tampak terlihat di salah satu rumah di Gang VI, Kelurahan Botoran, Kecamatan Tulungagung. Empat pelajar tingkat SMP mengikuti kelas luring. Seperti layaknya di kelas, mereka antusias mendengarkan penjelasan guru IPA yang sambang ke rumah.

Humas SMPN 1 Kedungwaru, Agustrisilaning Utami mengatakan luring ini untuk membantu siswa yang kesulitan dalam mengikuti pembelajaran daring. Karena diakuinya, daring memiliki banyak kelemahan. Salah satunya, guru tidak mengetahui pencapaian siswa. Karena, tidak dapat melakukan tatap muka langsung, sehingga guru tidak dapat mengetahui siswa siswinya paham atau tidak dengan materi dan tugas yang diberikan. "Banyak kendala daring itu. Malah lebih merepotkan," katanya.

Sambang rumah ini juga sebagai salah satu cara untuk menjalin komunikasi lagi dengan siswa. Mengingat, hampir dua bulan ini, tidak ada pertemuan tatap muka, imbas pandemi Covid-19. Dan tatap muka di zona kuning untuk tingkat SD, SMP masih dalam kajian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. "Ya kami ingin jalin silaturahmi serta komunikasi juga dengan siswa langsung. Sehingga, ketika nanti diperbolehkan tatap muka tentu tidak ada kesulitan lagi," terangnya.

Namun untuk luring ini, kata Utami tidak semua dibagi kelas kecil seperti tingkat SD. Mengingat, jumlah siswa di SMPN 1 Kedungwaru sebanyak 850 siswa. Lantas, skema luring hanya diambil perwakilan. Sehari ada 45 anak dari tingkat VII, VIII danr IX. "45 siswa ini nanti dibagi kelas kecil maksimal 5 siswa tiap kelasnya," terangnya.

Luring ini, dilakukan setiap hari mulai Senin hingga Jum’at. Namun waktu luring terbatas. Mereka akan bertatap muka selama 60 menit setiap guru mapel. Sedangkan materi yang diterima ada tiga mapel. Kecuali Jumat hanya dua mapel. Ketika luring, tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. "Sedangkan, siswa yang tidak ada jadwal guru sambang, mereka tetap daring," jelasnya.

Sedangkan guru yang terlibat ada sekitar 60 guru. Ketika sambang ada dua guru yang terlibat tiap rumahnya. Yaitu, guru pendamping dan guru mapel. Sebelumnya, upaya luring ini sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dipendikpora) setempat, dan wali murid. "Responnya bagus dari wali murid. Namun memang lebih terbatas, dan jumlah siswa nya tidak dapat mencakup semuanya. Namun ini, juga jadi upaya lepas rindu ke siswa," tuturnya. (*)

(rt/lai/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia