alexametrics
Rabu, 28 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

16 Sekolah Ajukan Tatap Muka

13 Agustus 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Bella Orlandis

ANTUSIAS : Siswa kelas X mengikuti MPLS Online 13 Juli Lalu

ANTUSIAS : Siswa kelas X mengikuti MPLS Online 13 Juli Lalu (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

SEMENTARA itu, lima hari jelang dimulainya pembelajaran tatap muka pada jenjang SMA/SMK, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung–Trenggalek, menegaskan agar setiap lembaga tetap terapkan protokol kesehatan. Salah satunya melakukan pembatasan kapasitas siswa yang mengikuti kegiatan di sekolah. Sesuai dengan Surat Gubernur Jawa Timur Nomor 420/11350/10.11/2020, untuk wilayah zona jingga maksimal siswa hanya 25 persen dari kapasitas normal, dan wilayah zona kuning maksimal hanya diisi 50 persen dari kapasitas normal. “Sudah ada SE dari gubernur saya harap setiap lembaga untuk mengikuti itu,” jelas Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jatim Wilayah Tulungagung–Trenggalek, Solikin.

Solikin melanjutkan, sesuai dengan poin yang terdapat pada surat gubernur tersebut, pada intinya sekolah yang akan mengadakan pembelajaran tatap muka tetap mengedepankan protokol kesehatan. Seperti kelengkapan sarana sanitasi, wastafel untuk cuci tangan, dan ruang UKS yang dapat terintegrasi dengan puskesmas setempat. “Karena pada prinsipnya kami mengutamakan kesehatan dan keselamatan anak-anak,” terangnya.

Sementara itu, wakil juru bicara (jubir) Gugus Tugas Percepatan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Tulungagung, Galih Nusantoro mengatakan hingga 12 Agustus tercatat sudah ada 16 sekolah yang mengajukan pembelajaran tatap muka. Terdiri dari 10 lembaga SMK dan 6 lembaga SMA. “Sampai hari ini (kemarin) ada 16 sekolah yang mengajukan untuk tatap muka,” jelasnya.

Galih melanjutkan, belasan sekolah yang mengajukan pembelajaran tatap muka merupakan sekolah-sekolah yang telah memiliki kesiapan sarana dan prasarana (sarpras). Seperti diberitakan sebelumnya, pemkab berencana akan menggelar trial atau uji coba terlebih dahulu untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Rencananya pembelajaran tatap muka akan dilakukan pertama kali pada jenjang SMA/SMK. Ini dikarenakan sekolah-sekolah tersebut telah memiliki fasilitas, sarana prasarana yang memadai. “Selain itu, anak-anak tingkat SMA/SMK juga cenderung lebih paham tentang kesadaran menggunakan masker dan menjaga kebersihan diri. Untuk itu pembelajaran tatap muka akan kami lakukan bertahap,” terangnya.

Pembelajaran tatap muka pun akan dimulai 18 Agustus mendatang. Meskipun telah diizinkan untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka, mantan camat Sumbergempol ini menegaskan pihak sekolah tidak dapat memaksa orangtua/wali murid untuk mengijinkan putra-putrinya kembali ke sekolah. Sebab pada prinsipnya, dibukanya kembali pembelajaran tatap muka mengutamakan kelengkapan fasilitas, dan ijin dari orangtua murid melalui komite sekolah. “Jika ada orangtua yang belum mengijinkan anaknya untuk belajar di sekolah ya tidak apa-apa. Sekolah harus membeli fasilitas agar anak dapat melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tegasnya.

infografis

infografis

Selain kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, Galih mengimbau agar sekolah memperhatikan betul kegiatan selama di sekolah. Seperti durasi pembelajaran yang hanya maksimal 3 jam. Melakukan pembelajaran dengan sistem shifting atau bergantian dengan jumlah hanya 50 persen dari kapasitas normal. Dan terakhir meniadakan kegiatan ekstrakurikuler dan kantin sekolah. Ini untuk menghindari kerumunan diantara siswa. “Jadi anak-anak bisa membawa bekal sendiri dari rumah. Sehingga datang ke sekolah hanya untuk belajar selesai langsung pulang,” imbaunya. (*)

(rt/nda/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia