alexametrics
Rabu, 28 Oct 2020
radartulungagung
icon-featured
Tulungagung

Metode Luring Boleh Dilanjut

14 Agustus 2020, 10: 13: 32 WIB | editor : Bella Orlandis

PROTOKOL KESEHATAN KETAT : Siswa percepatan (akselerasi) mengikuti pembelajaran. Pembelajaran dilakukan tatap muka karena jumlah siswa hanya 4 anak.

PROTOKOL KESEHATAN KETAT : Siswa percepatan (akselerasi) mengikuti pembelajaran. Pembelajaran dilakukan tatap muka karena jumlah siswa hanya 4 anak. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

KOTA, Radar Tulungagung - Pascamunculnya kasus terkonfimasi yang berasal dari salah satu kelompok belajar luar jaring (luring) di Kecamatan Pagerwojo; Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung tegaskan kegiatan pembelajaran dengan metode luring tetap diperbolehkan. Namun, harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. “Ini sekaligus menjawab kekhawatiran sekolah atau guru yang akan menggelar luring. Luring boleh, asalkan tetap patuh protokol kesehatan,” jelas Plt Kepala Dispendikpora Kabupaten Tulungagung Hariyo Dewanto Wicaksono kemarin (13/8).

Pria yang akrab disapa Yoyok ini tak menampik beberapa sekolah dan guru sempat merasa takut dan khawatir, setelah tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Tulungagung mengonfirmasi salah satu siswa berusia 9 tahun yang terkonfirmasi Covid-19. Seperti diberitakan sebelumnya, meskipun siswa tersebut terkonfirmasi positif Covid-19, lima teman yang menjadi anggota kelompok dan dua guru pengajar dinyatakan negatif Covid-19. Artinya, protokol kesehatan yang diterapkan di dalam kelompok tersebut cukup baik sehingga tidak sampai terjadi penularan Covid-19.

Meskipun telah dinyatakan negatif, berdasarkan hasil pemeriksaan PCR, pihaknya mengungkapkan jika rencana pembelajaran tatap muka di sekolah pada jenjang SD dan SMP masih akan dikaji ulang. Pihaknya mengatakan jika akan melakukan evaluasi, koordinasi, dan komunikasi dengan pemerintah setempat, termasuk dengan GTPP Covid-19 Kabupaten Tulungagung. “Sementara ini untuk pembelajaran tatap muka di sekolah yang belum kami izinkan karena masih harus berkoordinasi lagi. Untuk sementara pembelajaran jarak jauh (PJJ) maupun pembelajaran luring saja yang kami perbolehkan,” terangnya.

Sementara itu, pada jenjang SMA/SMK rencana pembelajaran tatap muka di sekolah akan tetap dilaksanakan pada 18 Agustus mendatang. Tak heran, hal ini membuat sejumlah sekolah terus melakukan berbagai macam persiapan. Termasuk pihak GTPP melakukan peninjauan kepada sekolah-sekolah yang akan melakukan pembelajaran tatap muka. Seperti yang kemarin (13/8) terlihat di SMAN 1 Kedungwaru. Tim GTPP Covid-19 meninjau setiap sudut sekolah untuk melihat sekolah benar-benar telah menyiapkan sarana yang sesuai dengan protokol kesehatan. Seperti penyediaan wastafel untuk cuci tangan, pengecekan suhu tubuh di pintu masuk sekolah, dan pembatasan kapasitas kelas.

Salah satu anggota dari Satuan Tugas Komunikasi Informasi dan Humas GTPP Covid-19 Kabupaten Tulungagung Dedi Eka Purnama mengatakan, penerapan protokol kesehatan pada lingkungan sekolah menjadi hal penting. Ini sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 pada satuan lembaga pendidikan. Pemeriksaan fasilitas pun dilakukan mulai dari pintu masuk sekolah hingga simulasi ketika siswa pulang. “Ini adalah salah satu syarat agar sekolah dapat melakukan pembelajaran tatap muka adalah kesiapan sarana prasarananya, kemudian izin dari orang tua,” jelasnya.

infografis

infografis

Dedi melanjutkan, hingga kini tercatat 19 lembaga sekolah yang telah mengajukan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Dari sebelumnya hanya lima sekolah, bertambah menjadi 16 dan kini 19 sekolah. “Sampai kini antusiasme sekolah untuk kembali menggelar tatap muka cukup tinggi, sudah ada 19 lembaga yang mengajukan sampai hari ini (13/8),” terangnya.

Kepala SMAN 1 Kedungwaru, Harim Soejatmiko mengatakan, telah melakukan penjadwalan jam masuk sekolah bagi siswa. Jadwal pun dibagi berdasarkan ganjil genap kelas. Sehingga hanya terdapat separo siswa yang berada di sekolah. Sementara dalam satu kelas normal nantinya akan terbagi menjadi dua kelas. Ini untuk membatasi jumlah siswa agar tidak terjadi kontak fisik. “Semisal hari ini yang masuk rombongan ganjil, kelas MIPA 1 misal. Nah, satu kelas ini yang berisi sekitar 30-an siswa akan dibagi dua untuk satu kali pembelajaran. Sehingga dalam satu ruang kelas hanya terdapat 50 persen siswa dari jumlah rombel seharusnya. Yang lain tetap PJJ atau daring,” ujarnya. (*)

(rt/nda/bel/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia