alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Siasati Pertumbuhan Ikan

Perjuangan Petani Ikan Gurame Tulungagung yang Terdampak PSBB Jakarta

Berharap Difasilitasi Pemerintah

19 September 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TETAP BERTAHAN: Salah satu petani ikan gurame sedang memberi makan ikanya yang berada di Desa Bendiljati Kulon, Kecamatan Sumbergempol.

TETAP BERTAHAN: Salah satu petani ikan gurame sedang memberi makan ikanya yang berada di Desa Bendiljati Kulon, Kecamatan Sumbergempol. (MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN/RATU)

Belum usai mengusap keringat, para petani ikan gurame di Tulungagung harus diporakporandakan lagi setelah diterapkannya kebijkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta. Namun, bagi para petani ikan gurame sesulit apapun kondisinya harus bisa bertahan dan berinovasi agar bisa survive dalam kondisi saat ini.

MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Sumbergempol, Radar Tulungagung.

Kondisi kian tak menentu ini dirasakan oleh seluruh petani ikan konsumsi, khususnya petani ikan gurame. Ibarat buah simalakama, maju atau mundur masih terkena getahnya. Meski keberuntungan tak terlalu memihak para petani ikan gurame kala pandemi Covid-19. Tapi saat inilah petani ikan gurame harus bisa menunjukkan kemampuannya agar tetap bisa bertahan dan terus melakukan inovasi.

Penasehat Asosiasi Petani Gurame (Aspigrata) Tulungagung, Tatang Suhartono mengatakan memang adanya pandemi Covid-19 sangat bedampak pada ikan konsumsi, khusunya ikan gurame. Bagaimana tidak selama pandemi harga ikan gurami harus anjlok, dari Rp 21 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp 15 ribu per kg. Ditambah sulitnya penjualan ikan gurami pada saat pandemi Covid-19. “Ada beberapa petani gurami yang terpaksa menunda panen dan menghambat petumbuhan, karena jika dijual petani akan rugi,” tuturnya.

Padahal dengan diberlakukanya kebijakan adaptasi kebiasaan baru (AKB) harga ikan dan penjual ikan gurame sempat merangkak naik ke normal kembali. Di era AKB, harga ikan gurame berada di kisaran Rp 20 ribu per kg. Tapi sejak diberlakukanya PSBB di Jakarta, harga penjualan kembali lesu. “Kami biasanya menjual ikan gurame ke Jakarta. Nah karena saat ini diberlakukan PSBB akhirnya banyak restoran dan hotel harus tutup. Akibatnya kami kesulitan menjual dan harga harus anjlok lagi. Bahkan dengan diberlakukanya PSBB sekitar 40 persen terdampak dan terpaksa harus hilang pasar gurame,” papar mantan Kepala Dinas Perikanan Tulungagung itu.

Tatang, –sapaan akrabnya, mengungkapkan, maka dari itu para petani mau bagaimanapun petani gurame harus tetap bisa survive meski dengan kondisi saat ini. Ada berbagai cara bisa dilakukan oleh petani gurami yakni, mengulur pertumbuhan ikan agar tidak cepat besar, karena jika ukurannya sudah besar juga akan sulit dijual. Untuk mengulur pertumbuhan, petani bisa mengganti pakan dengan memperbanyak tumbuhan seperti kangkung, taslas dan kates. “Selain mengganti pakan, petani ikan gurame juga harus tetap menjaga kesehatan ikan dengan menjaga lingkungan kolam. Jangan sampai terkena penyakit,” ungkapnya.

Pria ramah itu berharap kepada pemerintah untuk membantu para petani ikan konsumsi yang saat terdampak Covid-19. Pihaknya akan sangat berterimakasih jika pemerintah memberikan fasilitas. Bisa berupa mempermudah pinjaman modal kepada bank atau melalui KUR daerah. “Karena untuk saat ini para petani ikan konsumsi sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah,” pungkasnya. (*)

(rt/mam/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia