alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Yuliatin Sulap Handuk Bekas Jadi Pot Cantik

Kurangi Tumpukan Limbah, Baru Pasarkan di Seputar Tulungagung

21 September 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

KREATIF : Yuliatin menyelesaikan pot yang berasal dari limbah handuk di kediamannya kemarin (20/9).

KREATIF : Yuliatin menyelesaikan pot yang berasal dari limbah handuk di kediamannya kemarin (20/9). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Siapa bilang limbah handuk dan kain tidak dapat dimanfaatkan kembali. Di tangan dingin Yuliatin, limbah handuk disulap menjadi sebuah kerajinan pot bunga yang unik nan cantik. Bahkan karyanya mulai diminati banyak orang

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Karangrejo, Radar Tulungagung

Ragam pot bunga berbagai ukuran terjajar rapi di halaman kediaman Yuliatin yang terletak di Desa/Kecamatan Karangrejo. Sekilas pot-pot bunga ini seperti pot biasa dari tanah liat pada umumnya. Namun siapa sangka ketika dilihat lebih detail, pot-pot tersebut berasal dari aneka limbah handuk yang sudah dibuang. Yuliatin, merupakan perajin pot sekaligus penggagas ide awal pembuatan pot dari limbah handuk.

Ketika koran ini berkunjung ke rumahnya, ibu tiga anak ini tampak sibuk sedang mengaduk-aduk campuran semen dengan handuk bekas. “Mangga, ini sedang membuat adonan untuk dibuat menjadi pot seperti ini,” sapanya ramah sembari menunjukkan pot karyanya yang sudah siap digunakan.

Yuliatin mengatakan, ide awal pembuatan kerajinan pot ini bermula dari banyaknya limbah kain di sekitar rumahnya yang hanya dibiarkan terbengkalai. Bahkan beberapa menjadi sarang tikus dan nyamuk. Lantas ia pun mencoba kain-kain tak terpakai ia campur dengan adonan semen dan air. Rupanya kain handuk bekas masih cukup baik untuk digunakan sebagai pot tanaman. Selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, juga tak kalah kokohnya dengan pot dari tanah liat. “Saya coba posting rupanya banyak yang suka, saya akhirnya tertarik untuk membuat lagi dengan ukuran yang berbeda-beda,” terangnya.

Karena memanfaatkan barang di sekitar rumah, wanita 40 tahun ini merasa tidak kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. Ia mengatakan kunci membuat pot ini hanya butuh ketelatenan. Sebab proses pembuatan untuk satu pot hingga siap digunakan diperlukan sekitar tiga hari. Tergantung dari cuaca untuk membantu proses pengeringan.

Untuk cara pembuatan, Yuliatin mengatakan, kain handuk bekas ia potong menyesuaikan keinginan atau ukuran pot yang ingin dibuat. Selanjutnya, kain handuk ia basahi dengan air biasa hingga seluruh bagian basah. Sembari menunggu seluruh bagian handuk basah, ia pun menyiapkan adonan semen dan air sebagai bahan perekat. Setelah adonan siap, handuk yang sudah masuk dimasukkan kedalam adonan hingga seluruh bagian kain terlapisi dengan semen. Proses selanjutnya adonan dicetak menggunakan timba bekas atau pun wadah lain. “Sembari menanti proses kering, kain ini bisa kita bentuk. Semisal dibuat bergelombang begini atau yang lain. Jika sudah sisa adonan semen kita kuaskan pada seluruh bagian handuk yang sudah dicetak,” urainya sembari mempraktikkan proses pencetakan pot.

Ia tak menampik, proses pencetakan ini yang memerlukan ketelatenan. Sebab bentuk pot akan mengikuti bagaimana kita mencetak kain handuk tersebut. Tak hanya itu, agar kain handuk lebih kuat, harus rutin dilapisi dengan adonan semen. Jika sudah terlapisi dengan sempurna, lanjut pada proses pengeringan. “Setelah dikeringkan barulah masuk proses pengecatan. Biasanya menggunakan cat minyak atau cat kayu,” imbuhnya.

Untuk satu pot ia membandrol dengan harga sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu. Tergantung dengan besar kecilnya pot. Sementara untuk penjualan, ia mengandalkan media sosial dan pemasaran dari mulut ke mulut. Sehingga pembeli masih sekitar lokal Tulungagung. (*)

(rt/nda/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia