alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Perajin Batik Kontemporer Asal Blitar

Motif Kekinian, Proses Tetap Jadul

25 September 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN: Andhika Yusdianto saat melakukan proses canting pada batik garapannya.

TELATEN: Andhika Yusdianto saat melakukan proses canting pada batik garapannya. (ADITYA YUDA SETYA PUTRA/RADAR BLITAR)

Motif parang, motif megamendung dan motif parang barangkali sudah jamak kita jumpai. Wajar saja, motif-motif batik itu merupakan motif batik tradisional yang sudah biasa menjadi motif batik di banyak daerah. Tapi bagaimana kalau motif batiknya adalah motif bertema kontemporer alias masa kini? Tentu nuansa tradisional dari batik dan nuansa modern dari motifnya akan menjadi perpaduan yang unik.

ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Sananwetan, Radar Blitar

Awan mendung menggulung di Kota Blitar sore kemarin. Belakangan ini wilayah Kota Patria memang sempat diguyur hujan deras. Beberapa anak terlihat sedang bermain di halaman rumah di Perumahan BTN Asabri di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan.

Di salah satu rumah di blok S, dari luar rumah itu terlihat seseorang sedang serius menggores-goreskan pensil di atas selembar kertas. Jika dilihat lebih dekat, pola yang digambar pria itu terlihat seperti batik. Tapi, tidak seperti batik pada umumnya karena ada beberapa gambar yang terlihat kekinian pada pola yang dibuat pria tersebut. Ternyata itu adalah batik kontemporer. Balutan gambar modern ditambah nuansa elegan batik begitu terlihat di selembar kertas.

Adalah Andhika Yusdianto yang coba “mengawinkan” seni batik dan seni kontemporer. Pria 32 tahun ini pun mulai mengawali ceritanya. Usahanya dirintis sejak tahun 2015 lalu. Tak ingin punya motif batik yang sama dengan batik pada umumnya, Andhika pun memutuskan untuk membuat batik dengan motif kontemporer alias modern. "Agar beda dari yang lain. Selain itu, untuk menularkan semangat ke millenial melalui batik," ujar Andhika.

Lantas apa yang khas dari batik kontemporer? Andhika mengatakan, batik kontemporer memadukan ikon-ikon khas daerah asalnya. Sebut saja, mulai dari Makam Bung Karno, Taman Pecut, ikan koi, kendang, buah belimbing, Kebon Rojo hingga bunga sepatu pun mejeng di dalam batik yang dibuat Andhika.

Kendati memilih motif yang lebih modern alias kekinian, Andhika mengaku enggan meninggalkan cara pembuatan batik menggunaan cara tradisional atau yang kerap disebut nyanting. Bagi ayah satu anak ini lebih baik lama menggarap batik tapi hasilnya lebih berseni daripada menggunakan media printing yang lebih cepat tapi nilai seninya rendah. "Lagian kalau batik print itu lebih cepat pudar warnanya. Cepat mbulak gitu lho," tandasnya.

Dia menambahkan, dibutuhkan waktu hingga lima hari untuk menyelesaikan satu potong kain batik dengan proses canting. Karena itu, Andhika menyebut, batik dibuat dengan proses canting lebih estetis dan bernilai seni serta awet. "Luweh nyeni ngono lho (lebih berseni gitu, Red)," tambah pria 32 tahun ini.

Namun, kini terkendala dengan sulitnya pemasaran. Terlebih di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang. Apabila di kondisi normal kemarin bisa menerima rata-rata 20 potong batik per bulan, selama pandemi Andhika mengaku belum sekalipun mendapat order batik. "Selama pandemi blas (tidak ada, Red). Baru ada pesanan lagi bulan ini," bebernya.

Dia berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada ara pelaku usaha kecil agar para pelaku usaha kecil, seperti dirinya punya ruang untuk memamerkan karyanya sehingga karya mereka dapat dikenal oleh masyarakat lebih luas. Pasalnya, Andhika menyebut, sebagian besar pelaku usaha kecil memang terkendala pemasaran produknya. (*)

(rt/tya/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia