alexametrics
Minggu, 01 Nov 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features
Identifikasi Tembakau Blitar

Sunyoto, Sosok Dibalik Pemurnian Tembakau Unggulan Kabupaten Blitar

Ikut Ujian Sertifikasi di Jakarta

26 September 2020, 18: 30: 59 WIB | editor : Alwik Ruslianto

TELATEN : Sunyoto berada di area pemurnian tembakau di Desa Kamulan, Kecamatan Garum.

TELATEN : Sunyoto berada di area pemurnian tembakau di Desa Kamulan, Kecamatan Garum. (AGUS MUHAIMIN/ RADAR BLITAR)

Butuh empat tahun bagi Sunyoto untuk mencari bibit tembakau unggul asli Kabupaten Blitar. Pemurnian ini diyakini bisa meningkatkan kesejahteraan petani tembakau. Tahun depan dia harus siap mengikuti ujian sertifikasi tembakau.

AGUS MUHAIMIN, Talun, Radar Blitar

Matahari baru saja bergeser dari ubun-ubun. Meski masih terasa panas, Sunyoto tak kenal kata malas. Dia harus bergegas ke ladang untuk miwil atau membuang tunas pada batang tembakau. Sebab, aktivitas ini terakhir dilakukan sepekan lalu.

Sunyoto pun bergegas. Menggunakan motor butut kesayangan. Jalanan berbatu itu menjadi penghubung antara rumah dan ladang tempat pemurnian tembakau yang dikerjakannya. Tak jauh, hanya sekitar 1 kilometer (km) dari tempat tinggalnya di Desa Kamulan, Kecamatan Talun.

Sepuluh menit berikutnya, dia sampai di sebuah area pesawahan yang tampak subur. Bukan hanya tembakau, beberapa komoditas pertanian juga ditanam diarea ini. “Wingi tas panen yo Pak Di (kemarin baru panen, Red),” kata Sunyoto, ketika melihat seorang rekannya sedang beristirahat di gubuk sederhana dekat area pemurnian tembakau.

Petani itu hanya tersenyum kecut. Mendengar peryataan tersebut. Maklum, saat musim panen tembakau seperti kini, harganya tidak begitu bagus. Biasanya para petani menunda penjualan, dengan harapan harga bahan baku rokok tersebut terkerek naik.

Tepat dibalik gubuk ini, terdapat hamparan tembakau yang luas. Sebagian sudah dipanen, namun tak beraturan. Ada pola tertentu. “Yang sudah dipanen ini, tembakau jahe empret, usianya lebih pendek sekitar 80 hari, standar panen tembakau di usia 95 hari,” ujar bapak tiga anak ini.

Usut punya usut, penempatan bibit tembakau di lokasi ini memang sengaja dipisah-pisah. Hal ini untuk mempermudah pengidentifikasian jenis tembakau. Ada tujuh jenis tembakau yang ditanam secara acak di area pemurnian ini.

Namun, yang jadi unggulan dan diusulkan mendapatkan sertifikasi bibit unggul asal Kabupaten Blitar hanya 5 jenis. Yakni, jenis jahe empret, kenongo, kedu lulang, kedu mancung, dan rejeb tani. Masing-masing tembakau ini memiliki karakter dan keunggulan masing-masing.

Namun, yang jadi primadona adalah jahe empret. Bukan karena masa tanamnya yang lebih pendek, tembakau jenis ini juga banyak dicari oleh pecinta tembakau. Di kalangan petani, pedagang, dan pecinta tembakau, ada empat cara untuk melihat kualitas tembakau. Yakni, dilihat dari aroma, rasa, warna, dan pegangan. “Pakemnya cuma itu, gondoroso (rasa), rupo (wujudnya) dan cekelan (gagang) ,” tuturnya.

Untuk dapat mengumpulkan satu koloni khusus jahe empret dalam satu bidang tanah bukan hal mudah. Sunyoto, butuh empat tahun lamanya untuk nyortir bibit unggul tersebut. Hal itu lantaran bibit yang dibeli oleh petani tembakau, kebanyakan terdiri dari beberpa jenis verietas tembakau. Karena percampuran ini pula komoditas ini tidak bisa mencapai nilai ekonomi optimal.

“Tahun pertama kami tanam itu kondisinya masih campur, dalam satu bidang itu ada kenongo, jahe emptret, kedu lulang, dan yang varietas lain,” terangnya.

Awal 2016 lalu, Sunyoto mengindentifikasi dan memisahkan jenis tembakau penennya tersebut. Dalam proses ini, bunga tembakau ditutup dengan kain khusus. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi persilangan antartembakau.

Tahun berikutnya, dia mulai membuat petak untuk mengelompokkan tembakau hasil pemisahan. Pada tahun ketiga pemilahan dan pengelompokan varietas tembakau mulai jelas. Tahun ini, dia optimistis sudah menghasilkan bibit-bibit sesuai dengan varietas aslinya.

Tidak ada kendala berarti dalam proses pemurnian tembakau ini. Tantangannya hanya dalam proses identifikasi. Sebab, ada beberapa tembakau yang memiliki bentuk mirip. Begitu juga soal warna. “Saat pengambilan bibit saya lakukan sendiri, kalau ada satu biji saja yang tersisa pada alat, dan tercampur dengan varietas lain, tentu proses bertahun-tahun ini tak ada artinya,” ungkapnya.

Empat tahun berlalu, Sunyoto kini sudah bisa tersenyum puas. Beberapa waktu lalu, tim dari balai penelitian tanaman pemanis dan serat malang baru saja berkunjung. Dan memberikan apresiasi atas upaya yang dilakukannya. Sejalan dengan itu, ada kabar pula tahun depan dia berhak ujian untuk sertifikasi bibit di Jakarta. “Senang sekali, lewat bibit-bibit unggul ini saya yakin dapat meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau,” akunya. (*)

(rt/muh/alwk/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia